
Shima menunggu Darren dimeja makan ditemani oleh Bu Darmi yang sibuk menata makanan ke atas meja.
" Pagi sayang " Sapa Darren sambil mencium kening istrinya.
" Ganteng banget sih hari ini, wangi lagi " Ledek Shima yang melihat penampilan perlente suaminya.
" Iya sayang, hari ini aku ada rapat bareng dewan, kayaknya aku pulang telat deh. Gak apa-apa kan? "
" Gak apa-apa " Shima menuangkan segelas susu hangat lalu memberikannya kepada Darren. " Bu Darmi, ayo kita sarapan " ajak Shima.
" Sudah tadi dirumah, nyonya "
Shima hanya tersenyum mendengar penolakan Bu Darmi entah untuk yang keberapa kalinya itu.
Setelah sarapan Darren segera pamit untuk berangkat bekerja. Shima mencium punggung tangan suaminya dengan takzim dibalas dengan kecupan di dahi dan bibir oleh Darren. Ah.. adakah wanita didunia ini yang sebahagia Shima saat ini? Benar kata orang, Kalau jatuh cinta dunia serasa milik berdua. Yang lebih membahagiakan lagi saat jatuh cinta dengan pasangan halal kita.
Shima mengambil vitamin E dan Asam folat yang di berikan oleh dokter Adam. Tak terasa sudah memasuki bulan ketiga Shima terus-terusan mengonsumsi obat itu. Sejenak terbesit rasa jenuh, tapi demi memiliki buah hati Shima tetap bertahan.
Shima memutuskan kembali ke ruang kerjanya untuk kembali menulis novelnya. Baru beberapa menit didepan laptop, Shima merasakan pening pada kepalanya. " Jangan-jangan aku mulai Min nih " Batinnya. Wajar saja jika Shima berpikir begitu, tiga bulan ini ia habiskan didepan laptopnya. " Aku harus ke optik untuk periksa mata dulu "
Shima segera mematikan laptopnya. Ia kembali ke kamar dan bergegas berganti pakaian. Lebih pagi lebih baik, sambil menikmati matahari pagi yang menyehatkan.
__ADS_1
Sesampainya di optik, Shima di sambut oleh dua orang karyawannya. Shima berkonsultasi sebentar dengan keluhan pusing dan berkunang saat melihat laptopnya. Sang terapis lalu mengajak Shima kedalam sebuah ruangan. Didalamnya ada komputer dan beberapa peralatan untuk memeriksa kesehatan mata. Disebuah dinding sudah tertempel beberapa alphabet dengan ukuran yang berbeda, ada yang besar dan kecil. Shima kemudian mendekatkan matanya pada sebuah alat yang sudah diatur lensanyanya. Satu persatu huruf ditanyakan oleh sang terapis, dan ternyata mata Shima masih normal. Akhirnya Shima hanya membeli sebuah kacamata anti radiasi untuk mempermudah pekerjaannya didepan laptopnya.
" Sudah pulang nyonya? " Sapa Bu Darmi yang melihat majikannya membanting tubuhnya keatas sofa.
" Iya Bu "
" Bagaimana hasilnya? "
" Ternyata mata saya normal Bu, tidak min ataupun plus "
" Yang dirasa apa nyonya? "
" Mau saya ambilkan obat? mungkin nyonya masuk angin "
" Gak usah Bu, saya lagi minum obat dokter tiduran juga nanti sembuh "
" Saya siapkan makan siang ya nyonya, habis itu nyonya bisa minum obat lalu segera istirahat "
Shima mengangguk. Beruntungnya ia punya Asisten rumah tangga seperti Bu Darmi. Tak hanya sekedar cekatan, Bu Darmi pun selalu perhatian dengan hal-hal yang terkecil. Tak jarang Bu Darmi mengingatkan Shima saat terlupa meminum obatnya.
Setelah kenyang dan minum vitaminnya Shima memutuskan untuk beristirahat di kamar. Tidur siang mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa pening dikepalanya.
__ADS_1
Dua jam berlalu, Pening makin terasa di kepala Shima dan bertambah ketika mual juga mulai merajai perutnya. Shima berjalan tertatih menghampiri Bu Darmi yang sedang menonton televisi.
" Bu Darmi, tolong ambilkan ponsel saya disamping televisi ya " Pinta Shima. Padahal jaraknya hanya terpaut beberapa langkah didepannya. Tapi rasa pusingnya tak mampu ditahnnya. Ia memilih berpegangan sofa.
Bu Darmi segera mengambil ponsel milik Shima lalu memberikannya. Dengan sigap ia meraih tubuh mungil majikannya dan menuntunnya duduk di sofa. " Saya buatkan teh manis hangat ya nyonya "
Shima menganggu. Ditekannya dial pada ponselnya, Tapi tidak terhubung. Shima membuang nafas berat, ia lupa kalau suaminya ada rapat dengan para dewan. Mungkin ponselnya dinon aktifkan selama rapat.
Bu Darmi menghampiri dengan segelas teh hangat di tangannya. " Sepertinya nyonya sakit, saya antar ke dokter ya "
" Iya Bu, Antarkan saya ke dokter Adam saja. pusing dan mual saya makin hebat setelah minum obat itu. Saya takut ada masalah dengan obatnya "
" Baik nyonya, saya pesankan taxi online dulu " Bu Darmi mengambil ponselnya lalu memesan sebuah taxi online. Satu-satunya yang bisa mengendarai mobil hanya Darren, Sebenarnya Bu Darmi bisa mengendarai motor, tapi tidak mungkin ia membawa majikannya yang sedang sakit menggunakan motor.
Bu Darmi mengambil jaket Shima lalu memakaikan padanya. Ia memapah majikannya memasuki lift dan segera menaiki taxi online yang sudah menunggu diparkiran apartemen.
Sesampainya dirumah sakit, Bu Darmi langsung mengambil nomor antrian yang sudah dibooking oleh Shima. Shima dan Bu Darmi menunggu dikursi tunggu sampai sang suster memanggil nama Shima untuk masuk ke ruangan Dokter Adam.
" Sudah telat berapa hari? " Tanya dokter Adam.
Shima dan Bu Darmi saling pandang. Bahkan Shima belum menyampaikan keluhannya. Tapi Dokter Adam sudah memberikannya pertanyaan yang ia sendiri lupa kalau ia sudah telat seminggu. Apakah Shima hamil?
__ADS_1