Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 97


__ADS_3

Hari pernikahan tiba. Acaranya berlangsung di apartemen Tian dan hanya di hadiri keluarga inti saja, tampak pula kakak tirinya yang menyempatkan hadir setelah perjalanan bisnisnya dari luar kota.


Shima berjalan keluar dari kamar pengantin mengenakan kebaya putih lengkap dengan asesorisnya. Tian sudah duduk menunggu di depan meja yang sudah dipersiapkan untuk acara pernikahannya. Senyumnya mengembang mengamati sosok cantik yang berjalan dengan anggunnya ke arahnya.


Setelah Shima duduk bersanding disamping Tian, penghulu yang bertindak sebagai wali hakim segera memulai acara.


"Saudara Destian Kim, saya nikahkan dan saya kawinkan dengan Ashima Nayla binti faishal dengan mas kawin tersebut tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Ashima Nayla binti faishal dengan mas kawin tersebut, tunai"


Para saksi sekaligus keluarga yang menghadiri acara pernikahan tak henti-hentinya mengucap syukur. Tian segera menyematkan cincin pernikahan di jari manis Shima. Begitupun Shima, ia segera menyematkan cincin di jari manis Tian kemudian mencium tangannya dengan takzim. Pria kekanakan itu kini menjadi suaminya. Babak baru dalam hidupnya dimulai kembali.


Setelah mengambil beberapa foto, Shima memutuskan untuk mengganti kebayanya dengan pakaian rumahan. Tian mengekorinya masuk kedalam kamar.


"Ish.. aku mau ganti baju dulu. Kamu temani para tamu di ruang tamu dong" Pinta Shima.


Tian melingkarkan tangannya pada pinggang Shima. " Aku bantu kamu mengganti baju ya" Bisiknya diiringi dengan seringaian nakalnya.


"Ih.. sana keluar! Aku malu kan" Wajah Shima bersemu merah.


"Aku sudah lama menunggu hari ini"

__ADS_1


"Nanti malam ya.. atau tunggu sampai sepi" Bisik Shima.


"Kelamaan"


"Tidak enak kalau masih banyak tamu. Sana cepat keluar!" Shima mendorong tubuh Tian hingga keluar kamar.


Tian menghela nafas berat mencoba mengumpulkan lagi kesabaran dihatinya. Ia kembali bergabung bersama Yohan dan Rio yang tengah asyik menikmati hidangan yang sudah disajikan.


"Abis nikah kok mukanya bete. Gak dapet jatah ya" Ledek Rio.


"Anak kecil sok tahu" Tian mengabaikan ucapan Rio. Ia memilih menghampiri kakak tirinya. Sudah lama Tian tidak berbincang dengannya.


"Bagaimana kabar kakak?" Tanya Tian.


"Kalau besar sih sudah sejak dulu kak. Kalau punya istri, ya baru sekarang. Ngomong-ngomong mana kakak ipar?"


"Masih stay di luar kota. Nanti jika urusannya sudah selesai ia akan menemuimu"


"Gimana pilihanku kak?" Tanya Tian.


"Good! diam-diam kamu hebat juga memilih istri. Salut sama kamu"

__ADS_1


"Nanti kapan-kapan aku main kerumah kakak ya"


"Pintu rumah kakak selalu terbuka buat kamu. Jaga pernikahanmu baik-baik Tian! Jangan sampai Shima mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya"


"Sebenarnya aku iri pada Shima, baru sekali bertemu dengan mama ia langsung bisa mengambil hatinya. Bahkan kak Lusi yang baru bertemu dengannya dua jam saja sepertinya lebih menyayangi nya daripada aku" Bibir Tian mengerucut.


Lusi hanya tertawa ringan mendengar celotehan adik tirinya itu. Tidak dapat di pungkiri, Tianlah yang selama ini menjadi tonggak kehidupannya hingga ia memiliki usaha garment di hampir semua kota. Tian sama sekali tidak memandang nya sebagai kakak tiri. Ia menekankan bahwa tak ada istilah tiri karena mereka lahir dari rahim yang sama.


Shima sudah keluar dari kamarnya dan ikut bergabung dengan Tian dan kak Lusi. Hanya kak lusilah satu-satunya keluarga Tian yang belum pernah mengobrol dengannya. Shima sangat tertarik dengan keluarga Tian yang penuh kesahajaan. Berbeda sekali dengan keluarganya yang serba to the point dan pecicilan. Kak Lusi berencana menjadikan Shima sebagai model untuk koleksi butiknya dan disambut dengan anggukan oleh Shima.


Malam tiba. Masing-masing keluarga memutuskan untuk segera pulang kerumah masing-masing. Tinggal Shima dan Tian yang terlihat grogi di ruang tamu.


"Sayang, kamu mau bulan madu kemana?" Tanya Tian.


"Yang jelas bukan ke Bali dan ke Jogja ya"


"Ciye.. yang punya kenangan di Bali dan Jogja" Ledek Tian.


Shima segera menghujani Tian dengan cubitan-cubitan kecil di perutnya. Tian langsung menarik tangan Shima hingga terjatuh dipelukannya. Secepat kilat Tian mengunci tubuh mungilnya disofa.


"Kali ini aku sungguh tidak dapat menahannya" Ucapnya dengan nafas memburu. "Biarkan aku memilikimu seutuhnya"

__ADS_1


Shima hanya mengangguk dengan wajah bersemu merah. Dibiarkannya Tian menggendong tubuhnya ke kamar. Melucuti satu persatu pakaiannya hingga penyatuan cintanya terjadi.


"Aku milikmu seutuhnya, Tian" Bisiknya.


__ADS_2