
Shima tersenyum sumringah sambil meletakkan seplastik makanan dari kafe dekat kantor Darren. Puas sekali dia melihat ekspresi Darren yang penuh kekecewaan padanya. Ia harus berterima kasih pada Tian karena menelepon di waktu yang tepat.
" Kayaknya lagi bahagia. Dari tadi senyam-senyum sendiri " Tegur Tian yang masuk dengan kunci cadangannya.
" Ish.. sekarang kan aku ada dirumah. Bisa kan masuknya pake ketuk pintu, bukan pake kunci cadangan " Gerutu Shima.
" Aku sudah ketuk pintu tadi. Tapi tidak ada sahutan. aku kira belum pulang "
" Masa? kok aku gak denger. ketuknya berapa kali? "
" Satu kali "
Shima menepuk dahinya. Pantas saja ia tidak mendengar. Mana ada tamu yang mengetuk pintu hanya sekali ketuk. " Itu makananmu " Shima menunjuk plastik yang tergeletak dimeja.
" Tadi waktu ditelepon manis banget suaranya. Kenapa sekarang jadi sangar lagi? "
" Tadi kan akting di depan Darren " Shima terkekeh.
Tian membuka bungkusan plastik yang berisi burger, ayam tepung dan kentang goreng itu. " Junkfood semua? " Tanyanya.
" Iya.. aku cari yang cepet aja. Udah gak betah lama-lama disana. Tian, makasih banget lho kamu telepon aku tadi. Kamu tahu gak muka Darren kaya apa? Dia cemburu banget tadi "
" Seneng kamu? "
Shima mengangguk. " Tahukan dia bagaimana rasanya cemburu. Segitu aku cuma teleponan sama cowok lain. Gimana kalau dia lihat aku tidur sama cowok lain "
" Apa yang kalian bicarakan? "
__ADS_1
" Dokter Adam memberitahu Darren kalau aku hamil "
" Terus kamu bilang kalau kamu keguguran? "
" Tidak, belum sempat. Aku keburu emosi dan mengungkit tentang kehamilan Lisa "
" Pasti Darren syok banget denger kamu tahu rahasia yang disimpannya erat-erat "
" Awalnya dia bilang kalau dia janji akan berubah jika aku memberinya kesempatan lagi. Setidaknya dia bisa jadi ayah yang baik untuk anaknya. Tapi waktu ku ungkit soal kehamilan Lisa, dia hanya terdiam "
" Kenapa tidak bilang kalau kamu keguguran? "
" Feelingku bilang, kalau dia akan memakai alasan itu untuk menahanku. Aku hanya mengulur waktu sebentar. Sambil menyakitinya perlahan. Agar dia bisa belajar bagaimana rasanya jadi aku "
" Sejak kapan kamu menjadi begitu jahat? "
" Sejak aku mengumpulkan semua rasa sakitku. Dan aku bertekad dia harus merasakan satu persatu yang aku rasakan "
Shima perlahan menghampiri Tian yang tengah sibuk memotong slada. " Kamu bikin apa? Gak makan yang aku beli tadi? "
" Bikin salad. Biar ada yang sehatnya "
" Kamu perfeksionis juga ternyata "
" Bukan perfeksionis. Tapi biar sehat. Mau tahu gak apa yang bikin Darren lebih jantungan lagi? "
" Apa? " Shima antusias mendengarkan ucapan Tian.
__ADS_1
" Menikah dengan Tuan Kim "
Shima spontan mengambil daun slada dan melemparkannya pada Tian. " Masih berani bawa-bawa tuan Kim lagi? Bawang Bombay melayang nih " Ancamnya sambil mengambil sebuah bawang Bombay.
Tian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengambil beberapa lembar daun slada yang menempel pada wajah dan kepalanya. Baru kali ini ada wanita yang begitu berani padanya. Tapi entah mengapa bagi Tian semua itu begitu membahagiakannya. Melihat wanita didepannya begitu natural tanpa dibuat-buat.
Entah bagaimana nantinya kalau Shima tahu siapa dia sebenarnya. Apakah sikapnya akan tetap sama?
" Daripada kamu bawa-bawa tuan Kim, lebih baik kamu saja yang berpura-pura jadi pacarku "
" Aku tidak sebanding jika dibandingkan dengan Darren. Nanti malah akan membuatmu malu. Kalau tuan Kim sudah jelas Darren akan gemetaran dan akan sangat menyesal sudah menyakiti mu "
" Aku butuh yang real Tian. Tuan Kim terlalu jauh buatku. Pokoknya kalau aku butuh kamu, kamu harus berpura-pura jadi pacar baruku. oke? "
Tian tak menggubris omongan Shima. Ia fokus mengaduk-aduk saladnya dan membawanya ke meja makan. Shima kembali mengekorinya.
" Ya.. please! Tolongin aku "
" Tar kamu nyesel "
" Oke ya? " Shima mengedip-ngedipkan mata bulatnya.
" Tidak mau! "
" Kenapa? "
" Aku bisa dipecat oleh tuan Kim "
__ADS_1
Shima mendengus kesal. " Cepat habiskan makanmu! Pintu keluar ada disebelah sana! jangan lupa tinggalkan kunci cadanganmu di meja " Shima segera meninggalkan Tian dan masuk ke kamarnya.
Tian meletakkan garpunya melemaskan tangannya yang menegang. Hampir saja pertahanannya runtuh. Melihatnya begitu imut saat ia mengerjap-ngerjapkan mata indahnya. Ingin sekali ia mendekap wanita itu dalam pelukannya. Gemas sekali ia melihat perlakuannya yang semena-mena padanya. Awas kau nanti, Shima!