
" Bagaimana jalan-jalanmu sayang? Happy? " Tanya Darren sambil memandangi Shima yang tengah menyendok nasi untuk Darren.
" Menyenangkan sekali "
" Kamu kenapa mendadak sekali sih perginya, kalau kamu bilang dulu kan aku bisa cuti menemani kamu. Aku rasanya kaya mau mati seminggu ditinggal kamu sayang "
Shima tersenyum sinis menanggapi ucapan Darren " Aku hanya tak ingin mengganggu kesibukanmu "
" Aku bisa meluangkan waktu jika untukmu. Uangmu masih ada? "
" Uangku habis sayang. Seminggu tinggal disana aku harus menyewa hotel, shopping. Kayaknya tiga bulan dirumah bikin aku jenuh deh. Jadi begitu keluar, aku langsung balas dendam deh " Shima cukup tahu kalau Darren sedang merayunya dengan uang. Baiklah! terima saja, toh Shima butuh banyak uang untuk membayar sewa apartemen dan pengacara.
" Ya udah aku transfer ya nanti "
__ADS_1
Shima tersenyum penuh kemenangan " Oke, sayang. Yang banyak ya "
Setelah makan Darren masuk ke ruang kerjanya sedang Shima memilih membawa laptopnya ke kamar, tak Sudi jika harus satu ruangan bersama Darren.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Shima " Dapat salam dari Tuan Kim " Ia memandang tajam ke arah kamera yang dipasangnya diatas lemari sambil memonyongkan bibir dan menjulurkan lidahnya. " Dasar Tian Usil " Makinya.
Darren membuka pintu kamar. Didapatinya Shima sedang bersandar dengan laptop dipangkuannya. Darren segera mendekatinya dan mencium bibirnya. " Aku rindu, ayo tidur sudah malam " Bisiknya.
" Kok diem aja sih sayang? Kamu gak kangen sama aku? "
" Aku lagi fokus bikin novel sayang, nanti ideku buyar jika kamu ganggu "
" Ah sayang, masa lebih penting novelmu daripada suamimu? Aku pengen banget nih sayang, udah seminggu tak tersalurkan " Darren memelas.
__ADS_1
Cuih! Ada aku yang melayani saja kau masih mencari wanita lain. Kebohongan Darren makin membuat Shima merasa muak.
" Aku sedang datang bulan sayang " Tentu saja Shima masih mengalami nifas setelah keguguran seminggu yang lalu.
" Yah.. ya udah aku tidur duluan ya. Kamu jangan tidur malem-malem ya " Ucapnya lalu menarik selimut.
Shima tak menghiraukannya dan tetap fokus pada laptopnya. Ingin sekali ia mencabik-cabik Darren saat itu juga. Bagaimana bisa ia bertingkah seolah tidak ada apa-apa? Bagaimana bisa ia setenang itu setelah berbuat dosa padanya? Seandainya Shima tak melihatnya sendiri, ia tak akan percaya bagaimana perangai laki-laki yang pertama kali dicintainya itu. Laki-laki terbaik yang diharapkannya bisa membahagiakannya malah dengan telak menyakitinya.
Semua angan-angan tentang indahnya berumah tangga pupus sudah. Kini ia harus menghadapi kehancuran rumah tangganya yang baru berusia satu tahun itu. Bukankah satu tahun adalah waktu yang singkat untuk membina sebuah rumah tangga? Tapi apa daya, seumur hidup terlalu lama jika dihabiskan bersama orang yang dengan sengaja melukainya. Benar kata orang, Pria jika bergelimang harta maka wanita adalah satu-satunya godaannya. Sayangnya, Darren tak bisa melewati godaan itu hingga ia terjerumus pada kenikmatan dunia.
Mungkin Darren lupa, apa yang didapatkannya sekarang adalah doa-doa tulus dari istri sahnya. Rejeki yang di bawanya kini pun rejeki saat bersama istri sahnya. Shima hanya ingin melihat, apakah rejekinya masih sama jika ia bersama Lisa yang notabene bekerja juga?
Jika saat bersamanya yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa Darren bisa mencapai semuanya, harusnya jika bersama Lisa Darren bisa lebih kaya kan? Tapi kita lihat saja nanti Darren. Kamu dan Lisa akan ku buat hancur perlahan. Bahkan akan ku buat lebih sakit dari yang aku rasakan! Shima menghapus bening di sudut matanya. Kembali ia memandang laptopnya dan mengetik beberapa dialog untuk novelnya.
__ADS_1