
Darren termenung didepan meja kerjanya. Pikirannya terlalu kacau mengingat keinginan Shima yang mendadak ingin bercerai darinya. Ia menarik rambutnya dengan kasar sambil memejamkan matanya. Ia tahu ia telah bersalah kepadanya tapi apakah tidak bisa memaafkannya? Ia berjanji akan mengakhiri semuanya. Suara dering ponselnya membuatnya membuka mata. Nama dokter Adam muncul dilayar ponselnya.
" Hallo dok "
" Ini sudah jadwalnya periksa, kenapa belum ke sini? "
Darren terdiam. Entah ia masih bisa atau tidak meneruskan program kehamilan yang sudah ia rencanakan. " Belum sempat dok " Jawabnya asal. Masih berharap Shima akan kembali padanya dan meneruskan program kehamilannya.
" Apa Nyonya Shima masih mual atau ada gejala yang lain? "
" Maksudnya mual gimana dok? "
" Hal yang wajar bagi wanita yang hamil muda. terakhir nyonya Shima periksa sudah saya beri anti mual dan vitamin. Apa ada efek lainnya? "
" Maksud dokter, istri saya hamil? "
" Iya. Kalau dihitung hingga sekarang kandungannya sudah 9 Minggu "
" Oke dok. Nanti saya hubungi lagi " Darren segera mematikan teleponnya. Jika Shima pernah ke rumah sakit untuk periksa, Bu Darmi pasti tahu. Darren segera menghubungi Bu Darmi.
" Bu Darmi, apa sebulan yang lalu Shima pernah datang ke rumah sakit untuk periksa kehamilan? "
" Iya Tuan. Nyonya sedang mengandung. Memang nyonya belum bilang sama tuan? "
__ADS_1
" Ya sudah Bu.. terima kasih "
Darren meletakkan ponselnya di atas meja. Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau Shima sedang mengandung. Pantas saja ia sangat sensitif sekali ternyata ia sedang hamil muda. Ini kesempatan bagus untuk Darren. Ia akan menggunakan kehamilan Shima sebagai alasan untuk menolak gugatan cerainya karena wanita hamil tidak boleh di cerai.
Seulas senyum tersungging di bibir Darren. " Shima.. Shima.. kamu tidak akan bisa lepas dariku " Gumamnya.
" Tadi bete, sekarang kenapa senyum-senyum sendiri? " Tanya Lisa yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu dahulu.
" Lisa.. Bagaimana kalau kita akhiri saja semua ini. Aku ingin benar-benar menjadikan Shima satu-satunya wanita di hidupku "
" Oh ya? Bisa tanpa aku? "
" Aku yakin bisa "
" Jangan terlalu yakin dulu. Aku ingin memberikanmu ini " Lisa memberikan sebuah amplop pada Darren.
Lisa mengangguk " Sudah 6 Minggu "
" Gugurkan kandunganmu! "
" Apa? Kamu gila! "
" Shima juga sedang mengandung Lisa, aku ingin hanya Shima yang menjadi ibu dari anak-anakku "
__ADS_1
" Lalu, yang selama ini kau lakukan padaku untuk apa? untuk selingan jika Shima tak bisa melayanimu? "
" Lebih tepatnya, iya! Aku hanya bersenang-senang denganmu. Dan sudah saatnya aku kembali pada Shima "
" Aku tidak akan menggugurkan kandunganku "
" Nanti anak itu akan lahir tanpa ayah Lis. Kamu jangan egois! "
" Apa? Aku tidak salah dengar? Egois? Yang egois itu kamu! Ini anakmu, bagaimana kamu bisa menyuruh membunuh darah dagingmu sendiri. Kata siapa anakku lahir tanpa ayah? Kamulah ayahnya! "
" Tapi anak itu lahir tanpa pernikahan Lis, Apa kamu tahu bagaimana pandangan orang-orang nanti? "
" Masih belum terlambat untuk menjadikannya anak dengan ayah. Nikahi aku segera! Meskipun Siri. Aku tidak akan mengganggu Shima. Asal anakku dapat hak yang sama dengan anaknya Shima! "
" Apa kau tahu, Shima meminta bercerai dariku "
" Apa? Shima minta cerai? "
" Iya, Dia tahu kalau kita berselingkuh "
Lisa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Darren " Kalau begitu bagus dong. Kamu tinggal cerai dia terus nikahi aku. Segampang itu kan! "
" Aku sudah bilang, Shima sedang hamil. Dan aku tidak bisa menceraikannya "
__ADS_1
" Aku hanya akan memberikanmu dua pilihan. Mau menceraikan Shima atau Ku ekspos hubungan kita. Silahkan pilih sendiri! " Lisa segera meninggalkan Darren dengan pilihan yang sulit.
Menceraikan Shima berarti berpisah dengannya, jika Hubungannya terekspos pun hasilnya akan sama saja ia akan tetap kehilangan Shima. Frustasi, Darren menendang meja kerjanya. Sadar akan kebodohannya yang membuatnya kehilangan sosok wanita yang mencintainya.