Sang Ratu

Sang Ratu
episode 105


__ADS_3

Lisa merasakan nyeri pada perut bagian bawahnya. Ia segera menyandarkan punggungnya pada sofa sambil memegangi perutnya.


"Bu.. Bu Darmi.. tolong kesini sebentar!" Panggil Lisa.


"Ada apa nyonya?"


" Perut saya sakit banget Bu, tolong ambilkan ponsel saya di kamar. Saya mau menelepon Darren"


"Baik nyonya" Bu Darmi bergegas masuk ke kamar Darren dan mengambil ponsel yang tergeletak di nakas samping ranjang.


"Ini ponselnya nyonya"


Lisa segera menekan panggilan ke nomor Darren. Nomornya tidak aktif. Kembali, Lisa mencobanya. Nihil. nomornya masih tidak aktif. Ia baru menyadari kalau darah segar mengalir melewati pahanya. Ia langsung panik.


"Bu Darmi, panggilkan taksi. Antar saya kerumah sakit!"


Dengan sigap Bu Darmi memapah tubuh Lisa ke dalam lift. Darah masih mengalir diantara kedua kakinya. Keringat dingin bercucuran membasahi dahinya.

__ADS_1


Taksi sudah menunggu didepan pintu masuk apartemen. Bu Darmi segera membantu Lisa masuk kedalam taksi lalu bergegas menuju rumah sakit bersalin.


Bu Darmi kembali memapah tubuh Lisa yang mulai melemah. Para suster yang berjaga segera menanganinya dan membawanya ke ruang pemeriksaan.


"Kapan terakhir ibu merasakan pergerakan bayi ibu?" Tanya dokter.


Lisa terdiam. Ia berusaha mengingat kapan terakhir bayinya bergerak. "Sepertinya sejak dua Minggu kemarin, dok"


"Bayi ibu meninggal dalam kandungan. Kita harus segera melakukan operasi karena sudah meninggal sekitar 2 Minggu yang lalu dan mengakibatkan infeksi pada rahim ibu"


"Apa? Bagaimana bisa dok?" Suara Lisa tercekat, menahan sakit dihatinya.


Lisa membeku. Rasa nyeri pada perutnya kini tak lagi terasa, berganti nyeri pada relung hatinya.


"Suami ibu dimana? kami harus meminta persetujuan untuk melakukan operasi Caesar pada ibu"


"Tak perlu meminta persetujuan nya dok, aku sendiri yang akan bertanggungjawab bila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan" Hatinya terlalu sakit untuk memberitahu Darren bahwa anak yang menjadi pengikat nya dengan Darren kini telah tiada.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Suster akan membawa ibu ke ruang operasi. Saya akan menemui orang yang mengantar ibu kesini tadi"


################################


Darren menatap ponselnya yang sejak tadi tidak berdering. Biasanya Lisa selalu mengirim pesan padanya. Kenapa hari ini tak ada satupun pesan yang masuk. Darren membuang nafas berat begitu tahu ponselnya mati. Ia segera mengambil charger yang ada di laci meja kerjanya. Ia mengira baterai ponselnya habis. Tapi begitu charger dihubungkan, ponselnya tidak juga mau menyala. Sepertinya ponselnya rusak waktu terjatuh saat di lokasi syuting kemarin. Saat itu ia ingin mengambil foto Shima, tapi ponselnya lepas dari tangannya begitu tahu tuan Kim datang ke lokasi syuting.


Ia segera menghampiri Ryan, sekretarisnya.


"Ryan, jika ada telepon penting untukku langsung beritahu aku ya, sepertinya ponselku rusak"


"Baik pak Darren"


Darren memutuskan kembali ke ruangannya. Diambilnya foto pernikahannya dengan Shima yang disimpannya didalam tumpukan buku-buku di ruangannya.


Dalam foto itu rona kebahagian begitu tampak menghiasi wajahnya dan wajah shima. Ia pun menggenggam erat tangan Shima. Seolah-olah takut akan kehilangannya. Tapi, ia jugalah yang perlahan melepaskan genggamannya hingga membuat Shima perlahan menjauh darinya bahkan meninggalkannya.


Tanpa sadar ia berdoa agar Shima kembali padanya. Ia tahu betul kesalahannya dan ingin memperbaikinya.

__ADS_1


Disentuhnya wajah ayu berbalut gaun pengantin pada foto itu. "Aku merindukanmu Shima. Aku masih mencintaimu" Lirihnya.


__ADS_2