Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 107


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bu Darmi sudah kembali ke apartemen Darren. Ia segera memasak untuk sarapan sebelum Darren berangkat kerja. Darren segera menghampiri Bu Darmi begitu keluar dari kamarnya.


"Lisa kemana Bu?"


"Nyonya dirawat tuan"


"Apa? dirawat?"


"Nyonya terkena preeklampsia sehingga membuat bayinya meninggal dalam kandungan"


"Apa? Kenapa Lisa tidak memberitahuku?"


"Saya dan nyonya sudah berkali-kali menghubungi tuan, tapi ponsel tuan tidak aktif"


"Ponselku rusak Bu, belum sempat ku perbaiki. Dimana Lisa dirawat?"


"Rumah sakit ibu dan anak tuan"


"Baik aku akan segera kesana"


Tanpa aba-aba Darren segera menuju rumah sakit. Ia cukup khawatir dengan kondisi Lisa.


Sesampainya di rumah sakit, Darren segera menuju kamar rawat Lisa. Perlahan dibukanya pintu ruangan serba putih itu.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Kamu masih bisa bertanya bagaimana keadaanku? Aku hancur, Darren. Aku kehilangan anakku. Kemana kau saat kubutuhkan? Apa kau selingkuh seperti dulu hingga kau tak tahu bahwa Shima keguguran?"

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Lisa. Aku seharian sibuk dikantor dan ponselku rusak. Aku bukannya sengaja membiarkan mu mengalami ini sendiri"


"Apa kau puas sekarang? Anak yang menjadi pengikat mu sudah tak ada"


"Aku memang bertahan demi anak itu. Tapi bukan berarti aku menginginkan kematiannya, Lisa"


"Semua ini karenamu, Darren. Kau bahkan sepertinya lupa kalau aku sedang mengandung anakmu tapi kau masih sibuk saja memikirkan Shima"


"Karena aku? apa yang tidak aku berikan padamu? bahkan aku bersedia menikahimu. Apa kau tidak sadar, anak itu mati karna ulahmu sendiri. Kau terlalu memikirkan hal yang bukan-bukan"


"Bagaimana aku tidak takut? aku tahu seperti apa riwayatmu"


"Apa kau lupa juga kalau riwayatku adalah karena ulahmu. Kenapa kau selalu menitik beratkan semuanya padaku? Jika kau tak menggodaku, pernikahanku dengan Shima pasti baik-baik saja sampai sekarang"


"Itu semua salahmu, jika kau tak tergoda maka akupun tak akan merusak pernikahanmu"


"Aku sampai berlari-lari kesini, tapi ternyata kedatanganku tidak diharapkan"


################################


Shima menatap pria yang duduk seorang diri di meja paling pojok. Yang lebih mengejutkannya pria itu merokok dengan santainya. Dulu saat bersamanya, ia tak pernah merokok. Kenapa sekarang ia merokok?


"Darren, kamu sekarang merokok?" Tanya Shima yang sengaja menghampirinya.


Darren menoleh ke arah suara yang cukup dikenalnya. "Iya"


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Tiga bulan yang lalu"


"Istrimu sedang mengandung, harusnya kau tahu kalau merokok tak baik untuk istri dan calon bayimu"


Darren menyeringai sinis "Bayi itu sudah tak ada sekarang. Sudah meninggal dalam kandungan"


"Apa? kenapa bisa?"


"Preeklampsia"


"Pasti sekarang Lisa sangat sedih. Aku sudah pernah mengalami nya dulu. Harusnya kamu support dia, bukan malah nongkrong disini"


"Untuk apa? Aku sudah kesana, tapi dia malah menyalahkan ku atas kematian anaknya. Padahal semua itu terjadi karena tekanan darahnya yang terlalu tinggi dan stress. Kenapa jadi aku yang disalahkan? Bahkan, kau dulu tak menyalahkan ku saat kau keguguran"


"Menyalahkan mu pun percuma, bayiku tak akan kembali. Aku justru sangat bersyukur, karena dirahimku tak tertanam benihmu"


"Shima, aku ingin bertanya padamu. Apa kau benar-benar sudah melupakanku?"


"Pertanyaan konyol macam apa itu? Darren, tahukah kau siapa yang ada di sisiku sekarang? Tuan muda Kim! Aku wanita waras yang bisa membedakan berlian dengan sampah. Tentu saja aku akan menyimpan berlian dan membuang sampah kan? Berlian makin lama disimpan makin indah, sedang sampah, makin lama disimpan makin busuk"


"Apa benar-benar tak ada kata maaf untuk ku?"


"Aku sudah memaafkanmu sejak lama"


"Aku masih berharap bisa kembali seperti dulu"


"Maaf, aku tak ingin seperti dulu. Aku bahagia sekarang dengan tuan kim"

__ADS_1


"Lalu Rio?"


"Hanya selingan" Tanpa bicara lagi Shima segera meninggalkan Darren dengan wajah kusutnya.


__ADS_2