Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 79


__ADS_3

Sidang pertama berjalan dengan lancar. Baik Shima dan Darren sepakat untuk berpisah demi kebaikan bersama. Harta gono-gini pun tak jadi masalah. Dilanjutkan sidang yang kedua seminggu setelahnya yang beragendakan putusan cerai. Lisa tampak menemani Darren. Sedangkan Tian duduk di ujung belakang lengkap dengan masker dan topi hitamnya.


Shima sudah berjanji akan membuka hatinya untuk Tian asal hubungan mereka tidak terekspos media. Bukan tanpa sebab Shima mengajukan syarat seperti itu, status tuan Kim sebagai enterpreneur muda dan status Shima sebagai janda baru pastilah akan jadi konsumsi media. Apalagi Shima sendiri seorang jurnalis, ia tahu betul bagaimana cara mendongkrak rating suatu perusahaan media dengan meng-upload berita yang di bumbui intrik sebagai pemanis.


Tak bisa dibayangkan, judul headline yang akan menayangkan beritanya dengan Tian nanti.


" Guna-guna janda untuk menarik pengusaha kaya "


" Pengusaha incaran janda agar bisa kaya raya "


" Rayuan maut janda muda gaet pengusaha kaya "


Ah.. Semua itu benar-benar mengganggunya. Shima memutuskan kembali tinggal dirumah bersama ibu dan adiknya. Ia juga kembali bekerja dikantornya yang dulu. Ia tak ingin terlalu banyak berhutang Budi pada Tian sekaligus ingin menguji seberapa besar kesungguhannya dalam mencintai Shima.


Shima segera menghampiri Tian yang masih duduk di bangku paling belakang. Tian berdiri dan berjalan keluar ruang sidang. keduanya masuk ke mobil yang sama. Tian langsung melepas topi dan maskernya.


"Rasanya seperti pencuri" Keluhnya.


Shima menahan senyumnya "Kamu memang pencuri"

__ADS_1


Tian langsung menoleh lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Shima "Aku pencuri yang siap mencuri hatimu"


Shima malah tertawa terbahak-bahak. Dipikir-pikir, Tian berbeda sekali dengan Darren. Darren begitu dewasa sedangkan Tian begitu kekanak-kanakan. Mungkin karna tian pertama kalinya jatuh cinta.


"Kenapa kamu tak ingin hubungan ini di publikasikan?"


"Kamu lupa statusmu apa dan statusku apa? apa kata orang nanti. Bisa-bisa aku dikira gila harta atau memasang guna-guna padamu"


Tian terkekeh. Rupanya sejauh itu pandangan Shima. Padahal jika Shima menikah dengannya nanti, ia sanggup menutup semua media. Tapi wanita ini begitu unik, sudah melihat berlian didepan mata dengan cuma-cuma ia memilih menggali dengan usahanya sendiri.


"Setelah sidang selesai, aku akan kerumah melamarmu"


"Apa? lama sekali" Lagi, Tian mengeluh. ia benar-benar ingin segera meresmikan hubungannya dengan Shima. Baginya berjauhan dengan Shima begitu menyiksanya.


"Apa kata orang nanti, baru cerai udah nikah lagi. Yang ada dikira orang aku ninggalin Darren buat nyari yang kaya"


"Apa segitu pedulinya kamu sama anggapan orang? aku bisa mengatur semuanya"


"Pokoknya, tunggu sampai aku sesukses kamu. Dengan usahaku sendiri aku ingin menyamakan kedudukan denganmu. Paling tidak, pantas sebagai pendampingmu"

__ADS_1


Tian berdecih "Jika aku sudah memilih, itu artinya pantas. Jika tak pantas tak akan ku pilih. Ayolah Shima, bertunangan dulu saja" Tian merengek.


Shima menggaruk-garuk kepalanya. Menghadapi Tian lebih sulit ketimbang menghadapi Darren. Tian benar-benar seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Cinta memang datang terlambat menyapa di usianya yang menginjak kepala tiga itu. Padahal usia Tian lebih tua Tujuh tahun dari Shima, tapi kelakuannya seperti remaja usia belasan yang baru mengenal cinta monyet.


Dipikir-pikir Ia dan Tian sama-sama memiliki kemalangan. Tian yang baru jatuh cinta di usia tuanya. Dan Shima yang jadi janda di usia mudanya. Dua puluh lima tahun masih masuk hitungan muda kan?


"Kamu tidak percaya kalau aku bisa sehebat dirimu?"


"Bukan begitu. Aku takut kehilangan cintaku"


"Memulai saja belum, sudah takut kehilangan"


"Kamu yang belum memulainya. Aku sudah memulainya sejak pertama bertemu dirimu, di danau dekat apartemen"


"Cinta tak datang secepat itu Tian"


"Entahlah. yang jelas setelah melihatmu di danau itu wajahmu mengganggu pikiranku. entah percaya atau tidak, aku selalu melihat ke trotoar tempat kau duduk. Bahkan konyolnya, aku menyembunyikan identitas ku sendiri. Awalnya memang karena tak ingin terekspos, tapi melihat komentarmu tentang tuan Kim yang begitu menakutkan, aku jadi takut mengakui diriku sendiri. Bahkan sekarang aku lebih nyaman menjadi Tian"


Shima meresapi satu persatu perkataan yang terlontar dari mulut Tian. selama menjadi Tian, ia jarang sekali bicara. Jika ia sampai berkata panjang lebar, itu artinya semua ucapannya tulus dari dalam hati.

__ADS_1


"Apa namanya kalau bukan cinta?" Tian memandang lekat wajah Shima. "Aku sungguh mencintaimu, Shima" Lanjutnya.


__ADS_2