Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 75


__ADS_3

Shima membenamkan wajahnya pada bantal. Kata-kata Tian selalu terngiang di telinganya. Sungguh betapa bodohnya ia sampai tidak menyadari bahwa Tian adalah Tuan Kim. Ya.. nama panjang Tian Adalah Destian Kim. Tuan muda yang yang menjadi pesohor karena kepiawaiannya mengelola perusahaan di usia yang begitu muda. Pemilik perusahaan tempat Darren bekerja. Dosa apa Shima bisa berhubungan dengan orang yang konon kabarnya super misterius itu.


Masih lekat dalam ingatan, Shima memaki, memukul bahkan melemparnya dengan slada. Terakhir Shima menggebrak-gebrak meja didepan wajahnya. Shima bergidik ngeri mengingat kelakuannya sendiri. Seluruh pegawainya sangat takut padanya. Tapi Shima justru bertingkah sangat arogan didepannya.


Belum lagi tingkah konyolnya yang dengan tak tahu malunya menangis seharian atau menemuinya saat bangun tidur tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu. Ditambah umpatan-umpatan tentang tuan Kim yang di lontarkannya dengan jelas, dan tak tanggung-tanggung, langsung didepan orangnya. Shima menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mau di taruh dimana mukanya nanti?


Harusnya dari awal Shima curiga padanya. Bagaimana mungkin seorang pegawai butik memiliki apartemen dan mobil mewah. Shima pun tak pernah menyadari pakaian-pakaian mahal yang diberikan padanya. Ia hanya berpikir bahwa pakaian itu di beli dari butik nyonya Kim karena ia memiliki kartu hitam untuk mendapatkan diskon tiap kali berbelanja.


Apa yang harus ku lakukan jika ia pulang nanti? Ah.. Shima benar-benar bingung harus bersikap seperti apa untuk menghadapinya. Keberanian yang biasa ditunjukkannya mendadak hilang tak tersisa. Berulang kali ia membentur-benturkan kepalanya pada bantalnya yang empuk sambil meratapi kebodohannya.


Shima melirik ke arah ponselnya yang berdering riang. Terpampang jelas nama Tian di layarnya. Shima spontan melompat dari ranjangnya.

__ADS_1


"Angkat tidak ya?" Shima mondar-mandir sambil menggigiti kuku jempolnya. Ia begitu panik saat Tian meneleponnya.


Suara dering ponsel kemudian senyap seketika. Setelah memastikan dering ponselnya mati, Shima perlahan mengambilnya. Baru di pegangnya, ponsel itu kembali berdering. Kali ini Shima melempar ponselnya ke ranjang. Ia mengatur nafasnya terlebih dahulu berusaha menetralkan kegelisahan hatinya. Jika orang lain, mungkin Shima akan lebih cuek. Tapi ini tuan Kim!


"Hallo" Shima menjawab panggilan dari Tian.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Tian.


"Syukurlah, aku kira kamu akan bunuh diri begitu tahu siapa aku" Ledeknya.


"Ish.. memang kau pikir nyawaku semurah itu"

__ADS_1


"Aku merindukanmu"


"Apa?" Shima memastikan pendengarannya tidak salah. "Dia bilang merindukanku?" batinnya. Sejak kapan dia berani bicara seperti itu padanya? Hei.. Shima lupa bahkan dia sudah dua kali mencium keningnya didepan Darren.


"Aku merindukanmu, Shima. Apa kau tidak mendengarnya?"


"Maaf, sinyalnya jelek disini" Bohongnya lagi. Jantung Shima rasanya ingin melompat mendengar ucapan Tian." Tuhan, Bahkan aku sudah pernah menikah. kenapa bisa segugup ini" Batin Shima.


"Istirahatlah, aku akan menghubungimu lagi jika meetingku selesai" Tian memutuskan panggilannya.


Shima membuang nafas perlahan lalu Dihirupnya lagi oksigen untuk memenuhi rongga-rongga paru-parunya yang sesak. Entah apa yang terjadi dengannya. Tapi tubuhnya bereaksi seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Dengan cepat ia tepis rona-rona asmara yang menyentuh hatinya. Tak ingin lebih lama tenggelam dalam asmara semunya.

__ADS_1


Dibenamkannya kembali wajahnya pada bantal empuknya. Ia harus bersiap menghadapi tuan muda Kim dengan segala resiko yang ada. Terlebih statusnya kini mungkin akan merusak citra tuan Kim sebagai pebisnis muda. Shima segera memantapkan hatinya, Tuan Kim bukan orang yang tepat untuknya. Ia layak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Shima!


__ADS_2