
"AYAH....." teriak seorang wanita berlari kearah kerumunan dipinggir jalan. Gadis itu melihat ayahnya telah terbaring, bersimbah darah di pinggir jalan sedangkan mobil yang menabraknya telah ringsek dan hancur karena membanting stir dan menabrak tiang listrik
"Ayah Hana mohon bertahanlah ayah hiks..hiks.. "
"Tenanglah nak, ambulans akan segera datang" Ucap salah Satu warga
Hana Mutya Rahmatika, seorang gadis belia berusia 20 tahun, gadis yang berhati baik dan bersifat lembut. Saat tengah berjalan menuju restoran milik keluarganya, Hana melihat kerumah orang dipinggir jalan dan dari kejauhan dia melihat motor ayahnya telah hancur berantakan
Hana yang khawatir berlari kearah kerumunan dan betapa terkejutnya dia melihat ayahnya telah terbaring lemas dengan darah yang terletak di sekitarnya
"Hana... Penuhi permintaan terakhir ayah ya" Ucap pak Burhan menahan sakit
"Ayah tidak boleh bicara seprti itu, ayah pasti sehat kembali" Ucap Hana mengenggam tangan ayahnya
"Tidak nak, ayah sudah tak kuat lagi, penuhilah permintaan terakhir ayah". Hana meneteskan air mata Seraya menganggukkan kepalanya
" ayah telah berbicara dengan Dafa dan ibunya jika dia bersedia menerima perjodohan ini. Terimalah perjodohan ini nak, ayah mo.. hon"
"Tapi ayah... "
"Ayah mo.. hon sayang"
Hana menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan ayahnya
__ADS_1
"Terimakasih nak.. Jaga ibu...mu ya" Burhan tersenyum pada anaknya dan perlahan menutup mata. Hana yang merasa genggaman tangan ayahnya lepas dari tangannya dan tak bertenaga lagi menangis histeris
"Ayah Hana mohon jangan tinggalin Hana ayah..... AYAH.... " Teriak Hana histeris
"Sabar nak, kuatkan hatimu" ucap salah satu warga
Tak berselang lama, ambulans datang dan membawa Burhan ke rumah sakit
"Dokter tolong ayah saya"
"Baiklah nona, cepat masukan ke ruang UGD"
Para perawat dan dokter memasuki ruang UGD meninggalkan Hana yang menangis sesenggukan di depan pintu. Tak berselang lama dokter keluar dengan raut wajah yang tak bersahabat
"Maaf nona, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi ayah anda telah meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit"
"Ayah.. Hiks... Hiks.. Mengapa kau meninggalkanku ayah" Lirih Hana
Hana sekuat tenaga berdiri dan berjalan mendekati brankar yang ditempati ayahnya. Hana menangis mengenggam tangan ayahnya yang telah kaku. Hana menyalami untuk terakhir kalinya tangan ayahnya dan menutup wajah ayahnya dengan kain
Beberapa jam kemudian, jenazah dipulangkan ke rumah duka, para tetangga yang mendengar suara ambulans keluar ke halaman rumah, begitu juga dengan ibunya Hana, yang mendengar bunyi ambulans tetap di depan rumahnya
"Hana ada apa ini nak" Tanya bu Tiya yang melihat Hana berjalan masuk dengan keadaan kacau dan bermata sembab
__ADS_1
"Jawab ibu nak, ada apa ini" Ucap bu Tiya mengoyangkan tubuh Hana
"Ayah bu... Ayah sudah tidak ada" Bu Tiya melepas tangannya dari bahu putrinya saat melihat peti jenazah diturunkan dari ambulans
"Ayah.... Jangan tinggalin ibu sama Hana ayah, siapa lagi yang akan membantu ibu menjaga anak kita hiks..hiks.. "
"Sabar bu Tiya, ikhlaskan kepergian pak Burhan" Ucap Bu Mira
"Iyah bu Tiya, ingatlah jika setiap yang bernyawa akan mengalami kematian" Ucap pak Ustadz
Karena tak sanggup dengan kenyataan yang dihadapinya, bu Tiya jatuh tak sadarkan diri
"Ibu.. Bangun bu.. Ibu" Ucap Hana membantu mengangkat ibunya
"Tenanglah nak, biar ibu yang akan menjaga ibumu disini. Lebih baik jika kau ikut pak ustadz ke pemakaman ayahmu" Ucap Bu Mira lembut
"Baiklah Bu, tolong jaga ibuku"
Hana menaiki ambulans mengantar jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya diikuti para warga dan ustadz dibelakangnya
Setelah pemakaman selesai, tinggal Hana dan pak ustadz di TPU sedangkan para warga telah kembali.
"Ayah istirahatlah dengan tenang yah, Hana janji akan menjaga ibu dan in syaa Allah hana akan memenuhi keinginan terakhir ayah" Ucap Hana mengelus nisan ayah
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang nak, hari sudah semakin sore"
"Baiklah ustadz" Hana berjalan dibelakang pak ustadz dan pulang ke rumahnya