
"Sebenarnya Dafa, si mempelai pria disana adalah calon suami Hana. Hana sangat mencintainya, namun dafa justru sebaliknya. Hana dan Dafa dijodohkan oleh orang tua mereka. Hana setuju menerima perjodohan itu karena ingin memenuhi permintaan terakhir ayahnya, lagipula Hana juga mencintai Dafa sepenuh hati meskipun Dafa selalu bersikap dingin padanya. Beberapa minggu yang lalu, Dafa membawa Kekasihnya ke rumahnya untuk meminta restu pada ibunya,dan saat itu Hana sedang berada di rumah dafa atas permintaan ibunya. Dafa menolak menerima perjodohan mereka dan memutuskan hubungannya dengan Hana. Sejak saat itu Hana selalu saja mengurung diri dan jarang berbicara" Ucap Mia ikut sedih membayangkan penderitaan Hana
"Apa itu yang menyebabkan Hana pingsan karena tertekan beberapa hari yang lalu?" Tanya Dika
"Benar bang" Ucap Mia pelan
Vian yang tak tega berlari menyusul Hana keluar gedung sambil memegang payung ditangannya.
"Hana, kamu dimana dek" Ucap Vian terus mencari Hana di sekitar gedung tapi Hana tak kunjung ditemukan. Vian terus berjalan mencari Hana dan langkahnya terhenti karena melihat Hana duduk di kursi taman membiarkan tubuhnya diguyur hujan yang lebat
Vian berdiri tepat di depan Hana dan memajukan payungnya untuk melindungi Hana dari derasnya hujan
"Adek kenapa hujan-hujanan disini. Nanti adek bisa sakit. Ada apa dek? Kok wajahnya sedih begini" Ucap Vian mengusap air mata dipipi Hana. Hana yang butuh sandaran atas sakit hatinya refleks berdiri dan mendekap Vian
"Aku gagal kak, aku gagal hiks.. Hiks.. Aku gagal memenuhi permintaan terakhir ayahku hiks.. Apa yang harus kulakukan sekarang kakak hiks" lirih Hana sesenggukan. Vian membalas pelukan Hana dan mulai mengelus lembut kepala Hana yang tertutup jilbab
"Adek nggak gagal kok"
"Apa maksud kakak?" Tanya Hana menatap mata Vian
"Siapa yang bilang adek gagal memenuhi permintaan terakhir ayahmu? Ayah adek menjodohkan adek dengan Dafa agar adek bahagia dalam kehidupan ini. Tapi Dafa justru menghianati dan menghina perjodohan kalian. Jika ayah adek tahu akan hal ini, tentu saja ayah adek akan marah dan kembali membatalkan perjodohan ini. Pasti sekarang ayah adek tengah tersenyum melihat putrinya tak jadi menikah dengan pria seperti Dafa, karena Dafa bukanlah pria yang baik untuk adek. Setiap orang tua hanya menginginkan kebaikan dan kebahagiaan anaknya, jadi adek tidak perlu menangis dan terus merasa gagal. Adek tidak gagal kok memenuhi permintaan ayah yang hanya menginginkan putrinya bahagia. Kakak yakin masih ada pria di luar sana yang terbaik untuk adek. Bukankah adek yang bilang jika Allah sengaja menjauhkan orang yang buruk dari hidup kita agar orang-orang baik dipersilahkan memasuki hidup kita"
Hana mengusap air matanya setelah mendengar penuturan Vian yang seolah membangkitkan semangatnya untuk tetap hidup dan berjuang demi orang-orang yang dicintainya
"Memang perlu waktu untuk mengikhlaskan orang yang kita cintai, tapi seiring berjalannya waktu, semua akan terasa seperti biasa-biasa saja. Saat itu tiba, mungkin adek telah menemukan Cinta yang terbaik bagi adek" Ucap Vian lembut
"Masya Allah, terimakasih kakak. Kakak sekali lagi mengajarkan adek tentang sesuatu yang sangat berharga dan indah dalam hati adek" Ucap Hana kembali memeluk Vian. Vian tersenyum melihat perlakuan Hana padanya, bahkan baju yang dikenakan Vian yang telah basah karena bersentuhan dengan baju Hana tak lagi Vian pedulikan
"Kakak sama seperti ayahku, selalu ada disaat suka dan duka adek" Ucap Hana melepaskan pelukannya dan tersenyum manis pada Vian
Deg.. Deg.
"Ohh jantungku, bisakah kita bekerja sama" Batin Vian melihat senyum manis Hana
"Maafin adek ya kak, karena sedih dan senang yang adek rasakan, adek jadi sering meluk kakak" Ucap Hana merasa jika pipinya telah merona saat ini
"nggak apa-apa kok dek, jika adek butuh sandaran atau teman curhat, kakak akan selalu mendengarkannya dek"
"Terimakasih ya kak"
"Sama-sama dek. Yaudah yuk, kakak antar pulang" Hana mengangguk mengikuti langkah Vian yang berjalan di sampingnya
Beberapa minggu telah berlalu, Hana mulai mengikhlaskan Cintanya yang gagal, dan terus melangkah maju menyambut kehidupannya yang terus berjalan. Hana terus saja menyembunyikan pernikahan Dafa dan Asti dari ibunya, karena Hana takut jika penyakit jantung yang dideritanya ibunya bisa kumat kapan saja. Hana berpikir cepat atau lambat pasti ibunya akan mengetahui kebenaran
"Ibu... Ibu dimana" Tanya Hana mengelilingi rumahnya mencari ibunya yang tak terlihat. Saat berjalan ke ruang tamu, terlihat Bu Tiya tengah fokus membaca kartu undangan lama. Mata Hana membola melihat jika ibunya tengah membaca surat undangan Asti dan Dafa
__ADS_1
"Ya Allah bantulah aku, semoga semuanya baik-baik saja" Batin Hana berjalan mendekati ibunya
"Hana"
"Iyah ibu"
"Apa maksud undangan ini?"
Hana hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap mata ibunya
"Jawab ibu hana, apa maksdunya ini" ucap bu Tiya menggoyangkan bahu hana. Hana meneteskan air mata dan berhambur memeluk ibunya
"Maafin Hana ibu, Hana nggak bisa penuhi permintaan terakhir ayah, Kak Dafa menolak menerima perjodohan ini bu.. Hiks.. Hiks"
"Tapi nak, terakhir kali saat ibu dan ayahmu pergi ke rumah mereka, Dafa mengatakan jika dia bersedia menerima perjodohan ini"
Hana terus terisak tak menjawab ucapan ibunya
"Biar ibu ke rumah mereka, berani sekali mereka memperlakukan keluarga dan putriku seperti ini" Geram bu tiya berjalan cepat menuju rumah Dafa
"Jangan ibu.... Ibu jangan" ucap Hana mengejar ibunya tapi bu tiya tidak menghiraukan Hana yang terus saja memanggilnya
Sesampainya di rumah bu Mira, terlihat Dafa yang telah tapi dengan pakaian dinasnya sedangkan bu Mira yang tengah membersihkan halaman. Melihat kedatangan Bu Tiya seketika Bu Mira berkeringat dingin begitu juga dengan Dafa yang melihat amarah di wajah Bu Tiya
"Ternyata inilah topeng kalian yang sebenarnya, berani sekali kalian mempermainkan keluargaku dan hidup putriku"
"Bu Tiya, dengarkan penjelasanku.... "
"cukup bu Mira, aku sudah muak dengan sandiwara keluarga kalian. Apa begini cara kalian membalas kebaikan keluarga kami. Dengan menerima perjodohan bersama putriku, setelah itu kalian membatalkannya dan pergi meninggalkan putriku sendiri dengan kehancuran"
"Apa maksudmu bu? " Tanya Dafa
"DIAM.... jangan berpikir seolah kau tak bersalah atas semua ini Dafa"
"Ibu tenangkanlah, jangan marah-marah seperti ini" Ucap Hana menenangkan ibunya
"Tidak Hana, mereka sudah keterlaluan. Bahkan ibu dari anak ini hanya diam saat pernikahan putranya dan lapang dada menerima menantu barunya. Wah hebat sekali, kalian harus diberi jempol dengan ulah kalian"
"CUKUP... " Ucap Dafa terhenti karena melihat Hana yang menggelengkan kepada padanya
"APA.... Kau berani melawan ku? Jangan pikir aku takut padamu. kau, ibumu, semuanya sama-sama bermuka dua..... "Teriak Bu Tiya
Dafa yang kesal tak lagi menghiraukan gelengan kepala Hana
"Sebaiknya kau tutup mulutmu nyonya. Aku tidak bisa menerima perjodohan yang memaksa ini. salahkan putrimu yang sangat mencintaiku sehingga dia terus mengejarku walaupun aku telah bersikap dingin padanya. Aku sudah mempunyai kekasih dan bahkan aku sudah memperistri nya. Sekarang pergilah dan jangan buat keributan dirumahku" Tegas Dafa
__ADS_1
"PLAK..... Berani sekali kau berbicara seprti itu pada orang tua, apakah ibu mengajarkanmu berkata seperti itu?" Teriak Bu Mira menampar Dafa
"Aku hanya ingin memberitahunya jika.... "
"PLAK.... Sekali lagi kau berbicara ibu akan membunuhmu" Ancam Bu Mira
"Sayang, ada apa ribut-ribut" Tanya Asti yang mendengar keributan didepan rumah. Asti bergelayut manja di lengan suaminya karena melihat Hana, wanita yang dibencinya berada di depan rumah
"Lihatlah, dia adalah istriku, kami telah resmi menjadi suami istri dihadapan agama maupun hukum. Jadi jangan lagi berharap jika aku akan menikahi putrimu" Ujar Dafa sinis
Bu Tiya memegang Dadanya yang terasa sakit
"ibu..ibu kenapa?" Tanya Hana panik melihat ibunya yang seolah menahan sakit didadanya. Karena tak kuat menahan sakit, Bu Tiya seketika jatuh tak sadarkan diri
"IBu........ Ibu bangun ibu hiks..hiks.. "
"Tenanglah Hana, kita akan membawa ibumu ke rumah sakit"
Para warga membantu dan mengantar Bu Tiya ke rumah sakit
"Bertahanlah ibu hiks.. hiks.. " Bu Mira mengusap lembut punggung Hana mencoba menenangkannya.
Bu Mira langsung dibawa dan ditangani dalam ruang UGD
"Ibu bertahanlah, jangan tinggalkan Hana sendirian bu, hanya ibu yang Hana miliki sekarang hiks.. hiks.. " lirih Hana terduduk didepan pintu UGD
Beberapa menit kemudian, dokter keluar ruangan dengan wajah yang tak bersahabat
"Dengan keluarganya ibu Tiya" Tanya dokter
"Iyah dok, saya anaknya. Bagaimana kondisi ibu saya"
Dokter menghela nafas sebelum menjawab Hana
"Maafkan kami nona, penyakit jantung ibu anda kambuh karena mengalami syok atau tertekan lagi. Kami sudah berusaha, namun nyawa ibu anda tak bisa diselamatkan" Ucap dokter Radit yang selama ini memeriksa penyakit jantung yang diderita Bu Tiya
Tangis Hana kembali pecah mendengar penuturan dokter Radit
"Tidak dokter tidakkkkk....ibu saya masih hidup hiks... hiks... Dia hanya tertidur dokter, ibuku tidak mungkin meninggalkanku sendirian.. hiks.. hiks.. " Bu Mira memeluk Hana berusaha menguatkannya
"Sabar nak,kuatkan Hatimu"
"Ibu.... Hiks hiks"
Bersambung....
__ADS_1