
Keesokan paginya, setelah Hana tiba di Asrama, Hana segera turun dan kembali mendorong kereta bayinya menuju kedalam Asrama
"Bu Hana" panggil ibu-ibu persit yang menjadi teman dekat Hana dulu
"Senang bisa bertemu lagi denganmu Bu Hana" ucap Bu Danyon memeluk Hana dan diangguki ibu-ibu yang lainnya
"Wah, bayi Bu Hana sangat lucu, persis seperti ayahnya" ucap Bu Rima mengendong bayi Hana.
Viara yang terganggu dengan sentuhan para ibu-ibu yang mengelusnya mulai menangis dan memberontak digendongan Bu Rima
"Haduh kalian ini, pintar gendong bayi nggak sih" ucap sisil yang baru saja datang
"Sini biarlah aku yang mengendongnya" ucap sisil mengambil alih Viara dari gendongan Rima.
Viara lebih berteriak kencang saat berada di gendongan Sisil. Para ibu-ibu dan Hana menahan tawa melihat wajah Sisil yang ketakutan saat Viara menangis semakin kencang
"cup.. cup.. cup jangan nangis dong sayang, tente sisil nggak akan gangguin adek kok" ucap sisil berusaha menenangkan Viara namun ucapannya tidak diindahkan oleh bayi kecil itu
"Hahah, mari biar kutenangan putriku" seru Hana mengambil alih Viara dari gendongan Sisil. Viara berhenti dari tangisnya dan mulai tersenyum manis sehingga ibu-ibu tersebut mulai gemas melihat wajah Viara yang sangatlah lucu
"Ihh lucunya"
"Iyah gemes tau"
"Loh Bu Sisil, kok nggak maju untuk gendongin Viara lagi?" Tanya Bu Danyon pada sisil yang terus menganga sejak tadi
"Takut Viaranya nangis Bu. Maklum belum punya anak sendiri hehe" cengir Sisil
"Kalau begitu saya pamit ya ibu-ibu, saya mau mengambil barang-barang saya yang tertinggi di Asrama" pamit Hana
"Silahkan Bu Hana"
Hana mengangguk dan kembali mendorong kereta Viara menuju ke asramanya.
Hana meneteskan air mata saat melihat asramanya setelah sekian lama, bahkan motor Vian masih terparkir disana. Sisil yang melihat Hana meneteskan air mata segera mendekatinya dan mengelus punggung Hana lembut
"Pasti kau sangat merindukannya bukan?"
"Benar sisil, banyak sekali kenangan indah bersamanya disini hiks.. hiks.." lirih Hana terisak
"Lebih baik kau masuk dan istirahatlah di dalam. Jika kau perlu sesuatu, hubungi aku yah"
"Terimakasih sisil"
"Sama-sama Hana, tetap kuat yah" ucap sisil menepuk bahu Hana dan berjalan meninggalkan rumah Hana
"Rasanya pasti sangatlah berat, tapi aku yakin, kau pasti kuat Hana. Aku kagum pada wanita sekuat dirimu Hana. Jika aku ada di posisimu, mungkin aku tidak akan setegar dirimu"
**************
Setahun telah berlalu, setiap hari-harinya Hana lewati dengan penuh semangat demi masa depan putrinya. Hana kembali mengurus restorannya sambil membawa Viara bersamanya
"Hana, minggu depan aku akan segera menikah dengan bang Dika" ucap Mia berbinar sambil memeluk Hana
__ADS_1
"Wah selamat yah, aku turut bahagia untukmu"
"Hahha terimakasih Hana, nanti bantu aku memilih gaun pengantin yang bagus yah, aku juga ingin tampil cantik sepertimu"
"Haha, yaudah nanti aku temani yah"
"Baiklah Hana" ucap Mia mengendong Viara yang telah berusia satu tahun
"Ohh ya hana, sore ini batalyon mengadakan syukuran atas berhasilnya para prajurit yang memberantas kelompok separatis di desa N"
"Baguslah, mereka semua selamat dan sehat walafiat kan"
"Iyah Hana, kita diundang untuk ikut kesana. Apakah kau akan pergi ke acara syukuran itu?"
"Tidak Mia, aku harus berbelanja kebutuhan rumah dan perlengkapan Viara sore ini, jadinya aku nggak bisa kesana"
"Ohh yaudah, nanti akan ku jelaskan pada Bu Danyon"
*********
Sore ini para prajurit segera ke pasar di dekat pelabuhan untuk membeli ikan dan jagung dari desa- desa setempat
"Tolong berikan semua ikan pesanan kami" ucap Dika pada para nelayan baru saja turun dari kapal
"Baiklah, teman-teman turunkan ikan pesanan para perwira ini". Dika dan Dafa bertatapan setelah mendengar suara dari ketua nelayan tersebut yang seperti tidak asing di telinga mereka
"Baik bos" jawab anak buah kapal segera menurunkan ikan pesanan para prajurit
"Maafkan saya tuan, saya mengalami gejala bersin-bersin tapi saya bisa membukanya sekilas"
"Baiklah" lelaki itu mengangguk dan mulai membuka masker yang menutupi separuh wajahnya.
Para prajurit membulatkan matanya sempurna melihat wajah pimpinan nelayan tersebut
"Lettu Vian" ucap para prajurit serentak. Lelaki yang dipanggil Vian itu terdiam sambil melirik kearah samping dan kanan
"Apakah kalian memanggilku?" Tanyanya bingung
"Iyah kami memanggilmu, namamu Vian bukan?" tanya Dika melihat reaksi berbeda dari pria di depannya
"Ahh sepertinya kalian salah orang, perkenalan nama saya pandu, saya dari desa seberang"
"Tapi kami yakin kau adalah teman kami, wajamu sangat peris dengannya"
"Sepertinya saya bukan orang yang kalian maksud pak, saya baru pertama kali bertemu dan melihat kalian disini. Kalau begitu saya pamit yah, temanku memintaku untuk membelikannya martabak khas kota ini"
"Baiklah silahkan pandu" jawab Dika mempersilahkan pandu untuk pergi. Pandu mengangguk dan mulai berjalan ke pasar ditemani beberapa anak buahnya
"Aku yakin dia adalah Vian, wajahnya sama persis dengan Vian"
"Iyah benar bang, mungkinkah bang Vian lupa ingatan setelah memberantas musuh kita 2 tahun yang lalu?"
"Kau benar, kita akan menyelidikinya, tapi sebelum itu tetaplah jaga rahasia ini, cukup kita saja yang mengetahuinya. Kita akan memberitahu semua orang jika terbukti bahwa pandu adalah Vian"
__ADS_1
"Siap laksanakan"
"Kalian bawalah ikan ini, aku dan Bang Raka akan mengikuti kemana pandu pergi" tutur Dafa.
Para prajurit setuju dan langsung membawa ikan pesanan mereka ke asrama, sedangkan Dafa bersama Raka terus mengikuti Pandu yang berjalan masuk ke pasar
"Sayang, ini namanya apel. Viara mau beli apel yah?" tanya Hana pada putrinya yang terus memegang apel ditangannya. Viara tertawa pelan seolah mengiyakan ucapan ibunya
"Hahah, anak ibu sangatlah mengemaskan" ucap penjaga toko buah yang gemas melihat pelanggan kecilnya
"Mbak, saya beli 2 kilo yah apelnya"
"Baik mbak, saya timbang dulu yah". Viara yang melihat penjual buah tersebut menimbang buah kembali menangis sehingga penjual tersebut menghentikan tindakannya
"Ada apa sayang? Kok anak bunda yang cantik ini nangis" ucap Hana menghapus air mata putrinya
"Bunda Nyamyamnham bumumum" ucap Viara masih menjatuhkan air matanya
"Ohh adek mau nimbang sendiri buahnya ya?" tanya
penjual buah mendapatkan gelak tawa dari Viara
"Nggak apa- apa kan mbak jika anak saya yang menimbang buahnya?"
"Nggak apa-apa Bu, asalkan pelanggan kami yang lucu ini senang" ucap Penjual buah mengusap air mata Viara.
Hana tersenyum dan langsung mendudukkan Viara diatas meja buah. Viara dengan girang memegang buah dan perlahan-lahan meletakkan buah pilihannya keatas timbangan. Sesekali Viara tertawa dan menampakkan mulutnya yang belum ditumbuhi gigi.
Pandu yang berada tidak jauh dari penjual buah tesebut tersenyum melihat gelak tawa dan kelucuan anak kecil yang tengah memilih buah disana. Hati pandu terasa tenang melihat anak itu. Saat pandu melirik kearah ibu dari anak tersebut, pandu refleks memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit
"Aargghhh"
"Tuan pandu, apa anda tidak Apa-apa"
"Saya tidak apa-apa, hanya saja kepala saya terasa sangat sakit"
"Kalau begitu lebih baik kita kembali ke desa untuk mengobati sakit kepala tuan"
Pandu mengangguk dan mulai mengikuti langkah anak buahnya menuju kapal mereka
"Kita akan mengikuti pandu ke desanya, tolong siapkan perahu dan beberapa pasukan untuk membantu kita menyelidiki siapa pandu sebenarnya" perintah Dafa pada Raka
"Baiklah bang" Raka segera menyiapkan semuanya, sedangkan Dafa menelpon komandan untuk meminta izin agar menyelidiki siapa pandu sebenarnya
"Baiklah , Raka, Dika dan 2 anggota lainnya akan membantumu menyelidiki siapa pandu sebenarnya. Jika ada ada perkembangan, segera beritahu aku"
"Siap komandan" ucap Dafa mematikan sambungan dan segera menaiki kapal yang telah disediakan anggotanya
"Ikuti kapal pandu, jangan sampai kehilangan jejak"
"Siap laksanakan" ujar iwan dan mulai mengemudi kapal kecil mereka untuk mengikuti kapal Pandu
Bersambung.....
__ADS_1