
Sebulan telah berlalu dan sampai sekarang Hana belum juga mengetahui kabar dari suaminya.
"Abang bagaimana disana. Apa abang baik-baik saja" batin Hana terus tertunduk
"Ada apa Bu Vian?" tanya Bu Danyon dan komandan yang berjalan-jalan di Asrama dan mendapati Hana tengah termenung sendirian
"Aku merindukan suamiku, apa dia baik-baik saja disana? Sudah sebulan lebih aku belum menerima kabar darinya" lirih Hana terus menunduk
"Bu Vian, anda tenang saja. Semua pasukan disana aman dan baik-baik saja, hanya saja disana tidak ada sinyal jadi sangat sulit untuk saling berkomunikasi atau mengirim kabar" ucap Danyon
"Benar begitu pak?" tanya Hana menghapus air matanya
"Iyah bu, jika ibu ingin mengetahui informasi tentang prajurit yang bertugas disana, ibu bisa kok bertanya-tanya pada istriku. Benarkan bu"
"Iyah Bu Hana, saya selalu siap mendengarkan setiap keluhanmu" ucap Bu Danyon tersenyum dan mengelus punggung Hana
"Terimakasih ya Bu, pak. Saya pamit membantu ibu-ibu lainnya untuk membersihkan Asrama yah" seru Hana
"Silahkan Bu Hana" ucap Bu Danyon mempersilahkan Hana pergi
"Melihat Bu Hana, papa keingat kondisi mama yang sama seperti Bu Hana dulu"
"Iyah pah, mama juga sama seperti Hana dan istri prajurit lainnya dulu, mama sangat mengerti kondisi mereka. Tapi alhamdulillah setiap perjuangan mama menunggu papa kembali selalu dibayar oleh Allah dengan membawa papa kembali pulang ke pelukan mama dengan selamat. Sampai kita mati nanti, kita harus tetap setia seperti ini yah pah"
"Siap komandan" ucap Danyon tersenyum manis kepada istrinya yang tak lama lagi akan berkepala 4
__ADS_1
Setelah menemui sang istri, komandan kembali ke tempat dimana pada prajurit bertugas memantau jalannya proses penangkapan kelompok separatis yang meresahkan warga
**************
Hari ini, Vian ditemani dokter Rangga pergi ke rumah sakit kota untuk melakukan pemeriksaan
Setelah mengurus semuanya, Vian menunggu namanya di panggil di depan ruang pemeriksaan
"Apa yang akan terjadi setelah aku memasuki pintu itu, semoga semuanya baik-baik saja" batin Vian cemas menatap pintu ruang pemeriksaan di depannya
"Vian silahkan masuk" panggil Dokter Rangga. Vian menghela nafas dan mulai memasuki ruang pemeriksaan. Selama pemeriksaan berlangsung, Vian sangatlah cemas saat melihat wajah gusar dokter Rangga yang melakukan serangkaian tes padanya.
Vian yang telah selesai melakukan pemeriksaan, menunggu dengan cemas hasil tes yang akan keluar beberapa menit lagi. Dokter Rangga keluar dari ruangan dan beranjak duduk disamping Vian.
"bagaimana hasil pemeriksaannya dokter?" tanya Vian cemas. Dokter Rangga menghela nafas dan memberikan secarik kertas berisi keterangan hasil tes yang dilakukan Vian
"Kuatkan hatimu Vian" ucap Dokter Rangga mengelus lembut punggung Vian yang gemetar
"Bagaimana ini bisa terjadi dokter?" lirih Vian
"Akibat benturan yang cukup keras membuat organ reproduksimu mengalami sedikit gangguan. Tapi masih ada kesempatan untukmu memiliki keturunan, hanya saja kesempatan itu sangat langka Vian" ucap Dokter Rangga menguatkan Vian yang mulai menjatuhkan air matanya.
"Bagaimana aku mengatakan pada istriku nanti"
"Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada istrimu Vian, Hana adalah wanita yang baik. Dia pasti akan selalu ada dan mendukungmu di saat kau terpuruk" ucap Dokter Rangga yang diangguki Vian. Vian segera berjalan ke taman rumah sakit dan meninggalkan dokter Rangga untuk menyendiri sementara
__ADS_1
************
Hana yang merasa tenaganya semakin berkurang menyandarkan punggunggnya di dinding rumah hijau miliknya.
"Hana kau sakit? Wajahmu sangat pucat" ucap sisil berhenti bekerja dan berjalan mendekati Hana
"Mungkin aku hanya kelelahan saja Sil" ucap Hana pelan
"Lebih baik jika kita ke rumah sakit yah, aku akan meminta izin dan menelpon Mia untuk membantu mengantarmu kesana" ucap sisil cemas dan mulai menelpon Mia. Setelah menelpon Mia, sisil segera meminta izin untuk membawa Hana ke rumah sakit kepada Bu Danyon
"Baiklah Bu sisil, lebih baik jika kau temani Bu Hana kesana"
"Siap bu" ucap Sisil dan berjalan mendekati Hana
"Ya ampun Hana, apa yang terjadi?" tanya Mia yang baru saja tiba di Asrama.
"Bantu aku mengantar Hana ke rumah sakit" ucap sisil memapah tubuh Hana dibantu Mia. Setelah memastikan Hana telah memasuki mobil, Mia segera berlari mengitari mobil dan mulai melaju dengan kecepatan sedang
Hana yang terduduk bersandar disamping sisil merasa pusing dengan kesadarannya yang semakin menipis. Sisil yang merasa badan Hana semakin berat berusaha untuk tetap menyadarkan Hana untuk terus membuka mata
"Hana, kumohon bangunlah, tetap buka matamu" ucap sisil gemetar menahan tangis melihat kondisi sahabatnya yang semakin lemah
Sisil yang panik mengarahkan minuman ke mulut Hana, tapi Hana tidak membuka mata menambah kecemasan Sisil
"Mia, Hana pingsan" ucap Sisil sambil menepuk pipi Hana tapi tetap tidak ada reaksi yang ditunjukkan Hana. Mia yang memegang kemudi berusaha untuk tetap tenang dan sesekali melirik kondisi Hana melalui kaca depan
__ADS_1
Bersambung......