Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 89. Wanita Misterius


__ADS_3

"Sekarang abang tidur yah, malam sudah semakin larut. Biar abang cepet sembuh" Ucap Hana membantu Vian untuk berbaring


"Terimakasih sudah percaya sama abang yah dek" ucap Vian tersenyum


"Iyah sayang" balas Hana mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos suaminya. Hana segera naik ke ranjang dan meletakkan kepala Vian di pahanya. Hana mengecek suhu Vian dan mulai memijat kepalanya dengan lembut


"Aku beruntung memilikimu sayang. Terimakasih sudah menjaga dan merawatku dengan penuh kasih sayang" batin Vian tersenyum dan perlahan-lahan menutup mata. Setelah memastikan Suaminya tertidur lelap, Hana merebahkan tubuhnya disamping Vian dan memeluk Vian erat. Sebelum menutup matanya, Hana tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga Vian


"Selamanya kau tetap milikku, hanya milikku. Seperti ucapanmu bahwa kau akan selalu melindungiku meski nyawanmu dipelatuk senapan, maka aku akan melakukan hal yang sama denganmu. Akan kujaga dan merawatmu karena aku mencintaimu selalu, meskipun nyawaku harus menjadi taruhannya"


________________


Keesokan paginya pukul 4 dini hari Hana terbangun dan langsung menyentuh kening Vian untuk mengecek suhunya


"Alhamdulillah, panasnya sudah turun" gumam Hana senang.


"Ya ampun, ini benda suka sekali telihat yah" ucap Hana terkekeh melihat tubuh polos suaminya. Hana segera turun dari ranjang untuk memperbaiki selimut yang menutupi tubuh suaminya yang jatuh merosot ke lantai.


Setelah melakukan sedikit pekerjaan di kamarnya, Hana segera menghampiri Vian yang mengeliat dan telah menbuka matanya


"Abang sudah bangun? Bagaimana dengan tubuhnya, apa masih ada yang sakit?" Tanya Hana lembut


"Udah mendingan dek, terimakasih sudah menjaga abang semalam"


"Itu sudah tugas adek sebagai istri abang. Sekarang abang mandi yah, udah 2 hari nggak mandi. Pasti abang sudah bau badan" ucap Hana memeluk Vian


"Hahah, kalau abang bau badan,kenapa masih dipeluk?"


"Heheh, kan abang suami adek, jadi nggak apa-apa kali. Sekarang abang bangun dan mandi, adek sudah siapin airnya di dalam"


"Oke sayang" balas Vian dan beranjak bangun


"Jangan lupa selimutnya dipake" ucap Hana menutup matanya saat melihat selimut Vian yang kembali merosot ke lantai


"Hahha nggak usah nutup mata kali dek, kan adek sudah pernah melihatnya,bahkan menyentuhnya" goda Vian menahan tawa melihat wajah istrinya yang merah merona walaupun masih tetap menutup mata


"Tetap saja suamiku sayang. Sekarang masuklah dan segera mandi, sebelum adek bawa abang ke sunatan masal untuk disunat kembali" ucap Hana membuat Vian refelks memegangi benda miliknya.


"Jangan toh dek, nanti cuman abang orang dewasa yang disunat disana loh" Hana tersenyum melihat suaminya dan mendorong tubuh Vian agar masuk ke kamar mandi


"Silahkan mandi suamiku, airnya sudah siap" ucap Hana mengecup bibir Vian agar Vian berhenti berbicara dan menutup pintu segera. Setelah mendengar gemercik air dari depan pintu, Hana tersenyum dan segera ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi mereka.


Hana yang tengah memasak di dapur merasa ada yang tengah mengawasinya. Hana sedikit melirik kearah jendela dapur yang sedikit terbuka, dan benar aja ada sepasang mata yang tengah mengawasinya. Hana berusaha untuk tetap tenang dan waspada saat melihat ada mata yang mengintip dari jendela itu. Hana tidak bisa mengenali wajah penguntit itu karena keadaan diluar yang masih sangat gelap


"Dia bukan hantu, atau kuntilanak, tapi seorang wanita" batin Hana sambil terus memasak agar pengintip itu tidak merasa ketahuan saat mengintip rumah Hana.

__ADS_1


Saat Hana menyiapkan sarapan yang telah jadi diatas meja, Hana melirik sekilas di jendela itu lagi


"Dia belum juga pergi. Ingin sekali kutendang wajahnya karena terus mengintai rumahku" gerutu Hana dalam hati. Tak berselang lama, ponsel Hana bergetar dan saat Hana mengeceknya, terdapat pesan video dari Dafa


📩Kak Dafa


Itu adalah rekaman CCTV 2 hari yang lalu di hotel pesta tersebut dilaksanakan. Aku sudah mengecek rekaman di depan kamar suamimu dan kamar Dika, ternyata ada 2 wanita yang berbeda yang keluar dari kamar mereka setelah Dika dan Vian keluar. Kau lihatlah rekamannya


📩Hana


Baiklah kak, terimakasih


Setelah membalas pesan Dafa, Hana segera menonton Video rekaman yang dikirimkan Dafa. Hana tertegun setelah menonton video itu, ternyata ada wanita yang masuk ke kamar Vian sebelum Vian memasukinya. Terlihat jika Vian dibantu Dafa untuk memasuki kamar itu. Hana berpikir mungkin suaminya memang dijebak, apalagi Dafa mengatakan jika setelah meminum jamuan di pesta itu, tubuh Dika dan Vian merasakan panas yang hebat.


"Akan ku cari kau sampai ke ujung dunia. Setelah aku menemukanmu jangan harap kau akan lepas dari genggamanku" kata hana dalam hati.


"Mungkinkah wanita dibalik jendela itu adalah wanita yang sama yang menganggu suamiku di dalam hotel itu?" batin Hana berselidik


"Ohh, dimana wanita itu?" gumam Hana tidak lagi mendapati pengintip itu. Tak berselang lama terdengar bunyi dari lantai 2 bersumber dari kamar Hana.


"Astaghfirullah abang" ujar Hana panik dan segera berlari ke kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, Hana segera berlari memeluk Vian yang berdiri di depan cermin


"Abang hiks.. Hiks.. " Hana menjatuhkan air matanya mewakili kekhawatirannya saat ini


"Abang nggak apa-apa kan. Abang nggak disentuh kan?" Tanya Hana memegang pipi Vian


"Tidak sayang, abang nggak apa-apa kok. Emangnya kenapa hmm?" Tanya Vian lembut


"Ada suara dari kamar tadi, adek pikir abang kenapa-napa?"


"Abang baik-baik saja kok, seperti yang adek lihat. Tadi abang menyenggol vas bunga, jadinya pecah dek"


"Ohh bagitu yah, nanti adek bersihin sebentar. Kita ke dapur yuk bang, sarapannya sudah siap"


"Oke sayang" ucap Vian berjalan keluar kamar sambil mengendong Viara.


Hana yang berjalan dibelakang Vian sempat melirik ke pintu depan rumahnya, terlihat ada bayangan seorang wanita terpantul di lantai


"Permainanmu memang rapi, tapi kamu tidak tahu yang kamu permainan adalah seorang pelatih" gumam Hana tersenyum licik dan berjalan menyusul keluarganya yang berada di dapur.


Setelah sarapan bersama, Vian dan Hana segera pulang ke asrama mereka. Hana terus melirik ke spion motor Vian, ternyata ada mobil hitam yang terus mengikuti mereka sejak tadi. Setelah memasuki asrama pun mobil itu masih terlihat terparkir diujung jalan


"Abang, kalau ke kantor lewat pintu belakang yah" ucap Hana memakaikan baret di kepala Vian


"Loh, kok lewat belakang? Kan ada pintu di depan rumah" ucap Vian merangkul pinggang istrinya

__ADS_1


"Ayolah bang, lewat pintu belakang yah. Please" pinta Hana memelas


"Yaudah, abang akan lewat pintu belakang. Abang pergi dulu yah sayang, assalamu'alaikum" ucap Vian mengecup kening Hana


"Walaikumsalam hati-hati sayangku" balas Hana tersenyum.


Setelah memastikan Vian sudah menjauh dari asrama, Hana mengintip dari jendela dan melihat ada seorang wanita yang hana kenali wajahnya. Wanita yang sama yang keluar dari kamar Vian di malam itu. Hana mengepalkan tangannya dan terus mengintip wanita itu. Wanita itu terus berjalan mendekati asrama Hana, tanpa dia sadari Hana sejak tadi terus mengintip nya dari balik jendela.


Setelah wanita itu berdiri di depan rumah Hana, Hana segera bersembunyi di dapur untuk merencanakan sesuatu pada wanita itu. Wanita itu membuka pintu rumah hana dan mengendap-endap untuk masuk. Hana sengaja menjatuhkan barang di dapur yang membuat wanita itu bersembunyi dibalik sofa. Hana tersenyum smirk dan keluar dari tempat persembunyiannya


Hana berpura-pura tidak tahu untuk tidak memancing wanita itu. Hana terus berdiri mengamati sofa dimana terdapat wanita yang bersembunyi dibaliknya.


Sementara di halaman asrama


"Maafkan aku, karena menghadiri pernikahanku, kalian malah terkena hal seperti ini" ucap bang Jay


"Nggak apa-apa bang, ini bukan salah abang" balas Vian tersenyum


"Benar bang, yang salah disini adalah wanita itu, untunglah istriku tidak marah padaku setelah tahu jika ada wanita yang berani menyentuhku" ucap Dika


"Kalian tenang saja, aku sudah menyuruh adikku untuk menyelidiki siapa wanita penggoda yang masuk ke kamar kalian" ucap bang Jay menepuk bahu kedua temannya. Mereka pun mengobrol santai tentang pengalaman mereka sambil berjalan-jalan di asrama.


Dari arah berlawanan, terlihat bu Fira berlari kearah ketiga perwira yang tengah bercengkrama itu


"Danki, istri anda mengamuk di depan rumah" ucap bu Fira mengontrol nafasnya. Vian menatap asrama dari jauh dan benar saja terdapat keruman di depan rumahnya. Vian dan Dika segera berlari ke kerumunan untuk mencegah keributan yang terjadi


"Kau!!!akan kubunuh kau. Berani sekali kau melakukan itu tanpa berpikir panjang, lepaskan aku" Geram Hana yang akan mengajar wanita yang terududuk di depannya, namun tubuh Hana ditahan oleh 3 orang ibu-ibu agar Hana tidak melakukan hal yang nekat. Mia juga tengah berusaha untuk lepas dari cengkraman ibu-ibu yang memegangnya. Mia dan Hana sudah tidak tahan lagi untuk menghabisi kedua wanita yang babak belur di depan mereka


"Lepaskan aku" geram Hana menatap tajam ibu-ibu yang menahannya. Nyali ibu-ibu itu seketika menciut melihat tatapan membunuh Hana.


Vian yang baru datang segera menghalau keributan dan menarik istrinya kedalam pelukannya


"Ada apa sayang? Kenapa kau kesal. Siapa yang berani menganggumu" Tanya Vian berusaha menenangkan istrinya


"Abang lihat wanita itu?". Vian mengikuti arah pandang istrinya dan tertegun melihat wanita yang pernah menggodanya telah babak belur disana


"sebaiknya tenangkan dirimu bu Vian, bu Dika, kami yang akan membawa kedua wanita ini ke kantor polisi" ucap Bu Fira segera menarik kedua wanita itu bersama ibu-ibu yang lainnya. Beberapa prajurit juga ikut membantu membawa 2 wanita penggoda itu ke kantor polisi atas ketidaknyamanan yang mereka ciptakan.


Mia dan Hana yang kelelahan karena mengajar dan mengomeli wanita penggoda itu akhirnya ambruk tak sadarkan diri. Untung suami mereka sigap menangkap mereka dan membawa mereka ke asrama masing-masing.


Vian segera membaringkan tubuh lelah istrinya dengan pelan-pelan


"Ternyata kau bisa seganas singa saat menghadapi musuhmu yah. Aku bangga padamu sayang. Dan wanita tadi semoga dia diberi hidayah agar tidak lagi menggoda suami orang. Kalau sampai dia melakukannya lagi, mungkin akan ada wanita yang lebih ganas dari istriku yang akan mengajarnya seperti tadi" batin Vian menahan tawa membayangkan wajah istrinya yang sedang termakan emosi


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2