
Setelah sampai di rumah ibunya, Hana mendapati motor Vian terparkir dihalaman rumah. Hana bergegas turun dan memasuki rumahnya mencari keberadaan Vian
"Abang.. Abang dimana?" panggil Hana memasuki rumahnya. Hana melihat air yang terjatuh dari lantai dua
"Ada apa ini?" batin Hana berjalan perlahan lahan menaiki lantai dua.
"Abang.. Abang dimana" panggil Hana tapi tak kunjung ada jawaban dari orang yang dicarinya. Setelah mengikuti jejak air, air itu berasal dari kamarnya
"Terkunci?" ucap Hana saat mengenggam ganggang pintu rumahnya.
"Abang... Abang didalam?" panggil Hana mengetuk-ngetuk pintu namun tak kunjung ada sahutan dari dalam
Hana berjalan ke ruang tamu mengambil kunci cadangan kamarnya dan kembali lagi ke kamarnya untuk membuka pintu
Hana melihat kamarnya telah tergenang banyak air dan masih terdengar bunyi keran dari dalam kamar mandi.
Hana berjalan perlahan-lahan kearah bathub dan terkejut mendapati suaminya tengah terbaring lemah didalam bathub dengan tubuh yang tidak ditutupi sehelai benang pun
"Astaghfirullah abang.... " Teriak Hana kaget. Hana segera mendudukkan Vian di sandaran bathub dan secepatnya berlari mengambil Handuk. Hana mengangkat tubuh Vian dan menutup tubuh polosnya dengan Handuk yang dipegangnya
"Ya ampun abang, kenapa bisa jadi begini hiks.. hiks.. " lirih Hana memegang pipi Vian yang sangat pucat. Hana dengan telaten memapah tubuh Vian dan membaringkannya diatas ranjang. Selama memapah suaminya, Hana tak henti hentinya menangis membayangkan apa yang terjadi pada suaminya
__ADS_1
"Abang bangun.. Hiks.. Hiks.." Lirih Hana menekan perut dan dada Vian agar mengeluarkan air dari tubuhnya. Air dari tubuh Vian berhasil dikeluarkan Hana, tapi Hana semakin panik saat Vian tak kunjung sadarkan diri.
"Abang bangun, jangan tinggalin adek sendirian hiks.. hiks.. "Ucap Hana mengosok kedua kaki Vian berharap Vian akan segera sadar. Namun usaha Hana kembali gagal. Hana mendekatkan wajahnya dengan wajah Vian dan mulai memberikan nafas buatan berharap suaminya akan segera sadar. Merasa ada pergerakan dari suaminya, Hana berhenti memberikan nafas buatan dan mengelus lembut mulut vian yang kembali memuntahkan air dari mulutnya
" Uhuk..Uhuk.." Saat Vian membuka mata, dia melihat wajah cemas istrinya yang menangis sambil mengelap mulut dan dada Vian yang kembali basah.
"Abang... Hiks.. Hiks" Ucap Hana memeluk suaminya yang masih terbaring lemas. Vian tersenyum dan mengelus punggung Hana mencoba untuk menghilangkan ketakutan yang masih menguasai istrinya
"Adek tenang ya, abang nggak apa-apa kok uhuk.. Uhuk.. " Ucap pelan Vian kembali memuntahkan air dalam mulutnya dan langsung dilap oleh Hana
"Adek pikiran abang akan tinggalin adek sendiri dan pergi menyusul kedua orang tua adek disana, hiks.. hiks.."
"Ada apa dek, adek sakit ya. Kok wajahnya memerah begitu?" Ucap Vian menggoda istrinya. Hana tak menjawab pertanyaan Vian, dia justru mengalihkan pandangannya agar tak melihat senyum nakal suaminya
"Adek nggak apa-apa kok" Ucap Hana masih mengalihkan pandangannya
"Tatap abang dek"
"Nggak mau bang" balas Hana merasa pipinya kembali memanas
"Tatap suamimu sayang" Hana akhirnya pasrah dan perlahan menatap mata suaminya. Vian tertawa dalam hatinya melihat wajah istrinya yang sangat mengemaskan jika merah merona
__ADS_1
"Kenapa adek nggak mau natap abang tadi?" Goda Vian tersenyum nakal
"Adek malu ngelihat itu bang, adek nggak berani" Ucap Hana menyembunyikan wajahnya. Vian tersenyum dan meraih tubuh istrinya agar bersandar di dada bidangnya
"Kan abang pernah bilang, semua yang ada di tubuh abang layak dan tidak masalah jika adek melihatnya. Kita ini pasangan halal sayang, jadi adek nggak perlu malu" Ucap Vian mengecup kepala istrinya yang masih menutup wajahnya di dada bidang suaminya
"Adek takut bang, dari adek kecil, adek nggak pernah melihat itu. Saat adek kecil, adek hampir saja diperkosa oleh om-om jahat. Saat om itu mulai menampakkan tubuhnya,adek sangat ketakutan. Beruntung saat itu ayah adek segera datang dan memukul om om itu" lirih Hana terisak di dada bidang suaminya. Vian yang mulai mengerti dengan ketakutan istrinya mengelus lembut Kepalanya dan mulai menjelaskan agar Hana tak ketakutan lagi saat melihat tubuh suaminya
"Abang ngerti ketakutan adek. Tapi abang nggak seperti om jahat itu kok. Abang kan suami adek, jadi adek tak perlu takut saat bersama abang. Lagipula kita adalah pasangan halal, jadi tidak akan menimbulkan dosa atau fitnah dek" Ucapan lembut Vian berhasil memenangkan Hana dalam pelukannya. Hana membalikkan wajahnya dan tersenyum saat menutupi milik suaminya yang masih terlihat dan belum tersembunyi sepenuhnya. Vian tersenyum dengan perlakuan lembut istrinya yang hampir saja menyentuh sesuatu yang bisa terbangun dan menegang kapan saja
"Maafkan adek ya bang. Selama ini adek belum memenuhi kewajiban sebagai istri abang"
"Adek udah memenuhinya kok, adek kan udah sering ngerawat abang, menjaga abang, dan selalu menemani abang tidur, itu juga termasuk kewajiban seorang istri. Dan jika itu belum cukup, kita bisa melakukannya saat adek siap nanti?" Hana terharu dan kembali menghambur memeluk suami tercintanya
"Terimakasih telah mengerti adek, abang adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk hidup adek hiks.. hiks. "
"Kaulah hadiah terindah untuk hidupku sayang, kau kembali membuat pria yang hancur dimasa lalu kembali mencintai wanita sebaik dirimu. Jika aku dihadapkan dengan putri raja dan dirimu, maka aku hanya akan memilihmu menjadi wanita pendamping dan pelengkap hidupku" Batin vian menghapus air mata istrinya
"Selamanya, kau hanya milikku seorang"
Bersambung....
__ADS_1