Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 37. Instruktur Senam


__ADS_3

Dalam perjalanan kembali, tiba-tiba ada angin kencang dibarengi turunnya hujan yang sangat deras. Para warga langsung menutup kepala mereka menggunakan terpal yang dibawa salah satu warga, sedangkan Marwa dan ketiga prajurit tidak kebagian terpal karena ukurannya yang kecil. Melihat Marwa yang menggigil kedinginan, Vian mengambil jas hujan lorengnya dan dipakaikan kepada Marwa. Marwa yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari Vian, terus tersenyum memandang wajah Vian yang dialiri air hujan


"Bagaimana? Masih kehujanan?"tanya Vian lembut. Marwa menggeleng dan tersenyum manis kearah Vian. Dalam hati marwa, terdapat desiran aneh setiap kali Vian selalu ada untuk membantunya


"Wanita yang berhasil memilikimu, dia adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Kuharap akulah wanita beruntung itu" batin Marwa diam-diam mengamati Vian dari balik jas hujan yang dipakainya


*******


"Silahkan diminum bapak-bapak. Terimakasih terlah menemani putri dan warga saya di perbatasan" Darman mempersilakan Vian dan temannya untuk menikmati suguhannya. Marwa tersenyum kearah Vian dan beranjak memasuki kamarnya untuk tidur karena sedikit masuk angin akibat kehujanan tadi


Keesokan harinya setelah selesai bekerja, Marwa menyempatkan waktunya untuk menemui temannya yang berjaga di warung kopi di mana terdapat beberapa prajurit yang sering nongkrong disana


"Ehh Marwa, bisa bantuin aku sebentar nggak?" tanya uci yang kewalahan menyediakan pesanan para tentara di depannya


"Boleh" jawab Marwa dan ikut membantu uci menyiapkan kopi dan kue kering. Marwa tersenyum ketika ekor matanya menatap Vian yang tengah duduk di salah satu meja sambil bercengkrama dengan teman-temannya


"Ehh mbak Marwa, apa pesanan kamu sudah siap" tanya Dika


"Sudah pak Dika, ini silahkan" Ucap marwa menyerahkan nampan pada Dika


"Pak Dika, apa boleh saya bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Silahkan" jawab Dika


"Apa pak Vian memiliki pacar atau kekasih?" tanya Marwa. Dika melongo tak percaya dengan pertanyaan Marwa, Dika merasa Heran, Vian sangatlah tampan dan memikat, banyak sekali gadis yang mengidolakan Vian. Bahkan kesalahan pahaman sering terjadi hanya karena Lettu Vian


"Tidak ada, dia tidak mempunyai pacar"Jawab Dika ingin tahu reaksi Marwa. Marwa mengulas senyumnya saat mendengar ucapan Dika


"Pak, bisakah bapak mengatakan padanya jika aku sangat menyukai pak Vian" Ucap Marwah dengan pipi yang merona merah. Lagi-lagi Dika dibuat melongo dengan ucapan Marwa


"Saya tidak janji" balas Dika pergi meninggalkan Marwa


Sementara di pulau yang berbeda, Hana menjadi instruktur senam bagi ibu-ibu persit pleton 2. Mereka senang jika Hana yang menjadi instruktur, karena gerakan yang dilakukan Hana tidak sulit. Sementara ibu-ibu pleton 3 kebingungan dengan instruktur mereka yang sepertinya tidak tahu cara bersenam.


Hana tersenyum dan berjalan mendekati Sisil


"Tenanglah, tidak perlu takut. kita belajar sama-sama yah" Ucap Hana menguatkan Sisil yang terus menunduk


"Ijin Bu, saya akan menjadi instruktur senam sementara pleton 2 dan 3" Ucap Hana


"Baiklah Bu Danton, kelihatannya instruktur pleton 3 belum pandai bersenam.Dan jika anggota pleton 1 ingin bergabung dengan pleton 2 dan 3 silahkan saja. Apa ada yang keberatan?' Tanya Bu danyon mewakili Bu danki yang tidak hadir


"Ijin Bu, saya keberatan. Biarlah pleton 2 dan 3 dengan instrukturnya masing-masing. Saya akan tetap menjadi instruktur senam pleton 1" Jawab Asti yang tak mau anggotanya bergabung dengan pleton yang dipimpin oleh Hana

__ADS_1


"Baiklah Bu Asti. Senamnya akan segera dimulai"


Pleton 2 dan 3 mulai bergabung dan mengikuti gerakan Hana. Hana juga membantu Sisil yang ikut senam disampingnya. Sisil merasa terbantu dengan adanya Hana yang mengajarkan caranya bersenam, begitu juga dengan anggota yang dipimpin oleh Hana ikut senang bergerak karena gerakan yang ditunjukkan Hana begitu mudah untuk diingat. Kini, Hana dan Sisil yang menjadi instruktur senam karena Sisil yang telah menguasai gerakan senam yang ditunjukkan Hana


"Semangat Bu Danton" Seruan anggota pleton 2 dan 3 yang menyemangati Hana dan Sisil. Mendengar seruan anggotanya, Sisil dan Hana mulai asyik menunjukkan gerakan mereka. Pleton 1 yang mulai jengah dan kesusahan dengan gerakan senam yang ditunjukkan Asti mulai terpisah dan ikut bergabung dengan pleton 2 dan 3 yang penuh semangat dan asyik bergerak. Kini hanya 2 orang saja yang mengikuti gerakan berbeda yang ditunjukkan Asti. Asti yang mengetahui anggotanya telah terpisah dengannya marah dan beranjak mematikan musik yang mengiringi senam


"Apa-apaan ini? Mengapa pleton 1 bergeser ke pleton 2 dan 3?" Geram Asti


"Maafkan kami Bu Asti, gerakan yang Anda tunjukan sangat sulit bagi kami. Sedangkan gerakan yang ditunjukkan Bu Hana dan Bu Sisil sangat mudah dihafal dan diikuti" jawab Bu Lena mewakili anggota pleton 1 yang bergeser


"Lagipula Bu Dayon mengatakan dari awal jika pleton 1 boleh bergabung dengan pleton 2 dan 3"


"Benar Bu Asti. Jika anda tidak keberatan anda bisa mengikuti senam dari instruktur pleton 2 dan 3" Jawab Bu Danyon


Asti hanya diam menatap tajam kearah Hana dan juga Sisil


"Ayo ibu-ibu dilanjutkan lagi senamnya" Ucap Bu Danyon dan mulai mengikuti gerakan senam yang kembali ditunjukkan oleh Hana dan juga Sisil. Melihat jika semua ibu-ibu sangat senang mengikuti gerakan senam, Asti beranjak pergi meninggalkan lokasi


"Akan kubalas kalian bertiga, terutama kau Bu Danyon" geram Asti


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2