
"Sisil, ada apa?" Tanya Hana yang kebingungan melihat Sisil menangis dan berlari kearahnya
"Hana...hiks.. hiks" sisil tak bisa melanjutkan perkataannya
"Ada apa, pelan-pelan saja ceritanya" Ucap Hana tersenyum
"Lihatlah dia bu, suaminya hilang dia masih bisa tersenyum seperti itu" Ucap Asti pada bu danyon dan istri prajurit lainnya
"Apa maksudmu?"
"Makanya jangan datang terlambat, jadinya tak tahu menahu tentang apapun sok-sokan nenangin orang" geram Asti dan langsung mendorong tubuh Hana hingga punggung Hana terhuyung kebelakang
"Bu Danton... " Teriak Sari membantu Hana
"Terimakasih bu, aku tidak apa-apa?"
"Bu Asti, sebaiknya jaga sikapmu" Geram Bu danyon
"Dia yang lebih dulu memancing ku Bu" bela Asti
"Justru kaulah yang memulainya. Bu Hana baru saja datang dan menenangkan Bu sisil, justru itu hal yang baik. Dibandingkan kau cuman tau merendahkan orang saja" Balas Sari kesal
"Hei berani sekali kau"
"Cukup Bu Asti, lebih baik kau pergi dari sini dan jangan ganggu ketenangan kami" Bentak Bu Danyon. Dengan hati kesal, Asti berlari meninggalkan rumah Bu danyon
"Ada apa Bu Danyon?apa yang terjadi pada suami saya?" Tanya Hana cemas sedangkan sisil memeluk erat Hana.
Bu Danyon bertatapan dengan Sari dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Hana
"Begini Bu Hana, prajurit yang ditugaskan untuk menjaga wilayah perbatasan 10 hari yang lalu diserang oleh anggota penyeludup bersenjata. Beberapa pasukan mengalami luka tembak dan 6 orang perwira dinyatakan hilang" Ucap pelan Bu danyon
"Apa salah satu dari perwira yang hilang termasuk suami saya Bu" Tanya Hana dengan mata yang berkaca-kaca
"Benar Bu Hana, Lettu Vian, Lettu Dika, Letda Raka dan 3 anggota lainnya dinyatakan hilang dan belum ditemukan sampai sekarang"
Hana melepaskan pelukannya dari punggung sisil dan merosot jatuh terduduk
"Ya Allah Abang hiks.. hiks... " lirih Hana mulai menangis sesenggukan
Tak tega melihat kesedihan anggotanya, Bu danyon dan Sari segera memeluk keduanya mencoba untuk menenangkannya
__ADS_1
"Kita berdoa semoga mereka segera ditemukan dan sehat walafiat ya"
"Tapi bu hiks.. hiks.."
"Semuanya memang berat, tapi inilah resiko kita sebagai istri prajurit"
Hana segera berlari ke rumahnya dan memeluk erat bantal guling yang dilapisi baju yang dipakai Vian. Bahkan aroma maskulin dari tubuh Vian masih melekat disana
"Abang... Hiks.. Hiks.. Jangan tinggalkan Adek. Pulanglah Abang hiks.. hiks.. "
********
"Lapor komandan, kami menemukan sinyal yang mengarah langsung di kedalaman hutan yang berjarak 80 kilometer dari sini. Sepertinya disanalah markas besar kelompok bersenjata itu" Lapor piton
"Baiklah, saya akan mengerahkan semua pasukan untuk menyisir area hutan dan mencari keenam perwira di sekitar lokasi ditemukannya sinyal tersebut. Tetap pimpin tim piton, tim Anaconda dan Cobra akan diurus oleh Lettu Dafa" ucap komandan
"Siap laksanakan"
Kini para prajurit telah bergerak dan terjun payung di area yang tak jauh dari gudang yang diketahui sebagai markas besar kelompok bersenjata tersebut.
Dafa dan Gama melayang di udara dengan parasutnya hingga mereka melakukan pendaratan dengan sempurna
"Siap. Kami jalan dulu, jaga diri masing-masing dan tetaplah berdoa semoga kita semua selamat" Ucap Dafa dan mulai berjalan diikuti tim Cobra dibelakangnya
"Kita berhenti sejenak, sekitar 2 kilometer kita akan sampai di markas mereka, tapi kita harus tetap berhati-hati karena ada beberapa sniper yang mengawasi dari atas pohon" Ucap Gama memerintahkan pasukannya
Sementara Dafa dan pasukannya kini telah sampai di wilayah kelompok tersebut. Dafa terus memantau pergerakan musuh dengan teropong nya
"Pasukan semuanya menyebar, kuasai setiap sudut terutama dibagian timur"
"Siap laksanakan" para perwira mengendap-endap menuju setiap sudut
"Tembak"
Dooor
Dooor
Dooor
Para prajurit terlibat adu tembak dengan kelompok yang behasil mengetahui lokasi mereka
__ADS_1
Vian dan perwira yang ikut disekap terkejut mendengar suara tembakan di sekitar markas
"Ada apa? Apa mereka telah menemukan lokasi kita?" Tanya Raka
"Benar sekali, tim kalian tengah terlibat baku tembak dengan kelompokku" Ucap Arada membuka kunci sel tahanan mereka
"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Vian. Arada yang mendengar pertanyaan Vian tersenyum padanya
"Sekarang kalian pergilah. Maaf karena telah menahan orang baik seperti kalian"
"Tapi kau bagaimana?"
"Maafkan aku karena dendam yang menguasai hatiku, aku jadi salah jalan. Untunglah kalian menyadarkanku jika arahku adalah arah yang salah. Kuharap kalian tidak membenciku setelah semua perbuatanku pada kalian"
Para prajurit saling pandang dan tersenyum, kemudian satu persatu keluar sel dan memeluk Arada
"Kami sama sekali tidak membencimu. Jika kau sekarang berada di jalan yang benar, maka kami akan selalu bersama dan melindungimu"
"Terimakasih teman-teman. Aku akan menyerahkan diriku pada negara kalian untuk menebus kesalahanku" Ucap Arada tersenyum
"Tidak secepat itu tuan, kita sudah sejauh ini, dan jika kita mundur sekarang, maka usaha kita selama ini akan sia-sia" Ucap anak buah Arada
"Tidak Revan, aku berhenti memimpin kelompok ini. Aku ingin kembali kejalan yang benar dan penuh kedamaian"
"Kau akan menyesal melakukan ini tuan" Geram Revan
"Tidak Rev,aku justru senang bisa kembali kejalan yang benar"
"Baiklah jika itu maumu. Aku yang akan memimpin kelompok ini sekarang" Tegas Revan dan segera berlari membantu anggotanya yang tengah terlibat baku tembak di depan
"Kalian pergilah, tegakkan kebaikan dan keamanan negara ini. Pakailah senjata ini untuk membantu kalian" Ucap Arada menyerahkan senapan, granat dan juga bom rakitan kepada Keenam perwira
"Terimakasih atas bantuanmu kawan, kami akan menuruti ucapanmu untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran negara ini" Jawab Vian dan dianggauki Arada
"Letda Raka dan pasukannya, tolong lindungi Arada disini, aku dan Dafa yang akan membantu perwira didepan"
"Siap laksanakan"
"Semoga hari ini kami menang. Bantu aku ya Allah"
Bersambung...
__ADS_1