
Setibanya di kamar, Hana bergegas untuk mandi sedangkan Vian menganti pakaiannya dan duduk bersandar di sandaran ranjang sambil memainkan ponselnya
Setelah Hana keluar dari kamar mandi, kini Hana sudah memakai piyama nya dan duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambut panjangnya.
Vian yang baru pertamali melihat rambut Hana tersenyum dan berjalan memeluk Hana dari belakang
"Istri abang ternyata sangat cantik ya, apa selama ini adek pernah membuka jilbab saat keluar rumah"
"Enggak bang, adek dari umur 5 tahun sudah memakai jilbab kalau keluar rumah. Kalau dalam rumah adek melepaskannya, dan jika ada tamu maka adek akan lari bersembunyi di kamar" Ucap Hana
"Kenapa begitu sayang"
"Adek hanya menunjukkannya pada orang-orang yang layak melihatnya, seperti kedua orang tua adek, teman perempuan adek, dan tentunya suami adek" Ucap Hana mengamati Vian dari pantulan cermin. Vian mengambil alih sisir ditangan Istrinya lalu menyisir rambut Hana yang masih beraroma shampo.
"Adek sayang sama abang, jangan tinggalin Adek ya bang"
"Siap komandan" Ucap Vian membuat Hana tertawa dan geleng-geleng kepala. Saat kembali mengamati Vian yang tengah serius menyisir rambutnya, Hana membulatkan matanya sempurna saat melihat noda darah di baju suaminya. Hana berdiri dan langsung menarik tangan Vian agar duduk diranjang
"Ada apa sayang?" Tanya Vian lembut
"Buka baju abang"
"Loh, kita baru aja nikah tadi sayang, adek sudah siap ya" goda Vian
"Abang buka dulu bajunya ya" Ucap Hana lembut
"Tapi untuk apa sayang?"
"Abang mau buka sendiri bajunya atau adek yang akan membukanya"
"Pilihan kedua sepertinya bagus" goda vian langsung mengangkat kedua tangannya
Dengan wajah yang meroma merah, Hana dengan perlahan membuka baju Vian dan alangkah terkejutnya Hana melihat jika ada luka dibahu suaminya yang terus mengeluarkan darah segar
Hana meneteskan air mata mengamati tubuh Vian yang terdapat berbagai luka tembak, goresan dan berbagai bekas jahitan
"Kok nangis sayang, ada apa hmm?" Tanya Vian menghapus air mata istrinya. Hana tak menjawab pertanyaan Vian, dia justru mengambil kotak obat di nakas dan mulai membersihkan darah si tubuh Vian
"Ternyata dia khawatir setelah melihat luka ini" Batin Vian tersenyum melihat Hana yang terus menjatuhkan air matanya saat mengobati lukanya
"Ini luka darimana bang?" tanya Hana yang masih memasang perban dibahu vian
"Ini luka 2 hari yang lalu saat abang bertugas sayang" Hana langsung berhambur memeluk Vian dan terisak didada bidangnya
__ADS_1
"Pasti sakit kan bang hiks..hiks.. "
"Iyah sayang, tapi abang sudah biasa mengalaminya. Inilah resiko abang jika menjadi seorang Abdi Negara" Hana makin mengencangkan pelukannya
"Adek takut ya jika abang kenapa-napa saat bertugas?" Hana mengangguk dan menangis sesenggukan
"Terus doakan abang ya saat abang bertugas nanti, in syaa Allah abang akan baik-baik saja selama doa tulus istrinya selalu menyertai langkah abang" ucap Vian memegang lembut kedua pipi Hana
"Abang tetap berusaha yang terbaik untuk negara ini ya, tetaplah pulang karena ada adek yang selalu menunggu abang kembali" Ucap Hana memgusap air matanya
"Pasti kok sayang" Ucap Vian mengecup kening istrinya
"Udah jangan nangis lagi ya, kan abang yang terluka bukan adek" Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Hana beralih memegang otot sixpack milik Vian sambil tersenyum
"Kenapa, adek suka ya" Goda Vian merasa geli dengan sentuhan lembut Hana
"Iyah bang, persis seperti roti sobek. Boleh dimakan nggak?"
"Hahah kalau dimakan ya abang bisa luka-luka nanti" Hana dan Vian tertawa bersama menghiasi malam mereka. Karena lelah yang perlahan menyerangnya, Hana tertidur lelap disamping suaminya yang juga ikut terlelap bersamanya
"Aku mencintaimu istriku"
***********
Keesokan paginya, Vian terbangun jam 4 subuh karena harus berolahraga pagi. Vian tersenyum mendapati Hana tengah memeluknya erat seperti memeluk bantal guling. Vian dengan telaten memindahkan tubuh istrinya dan mengecup keningnya
Hana terbangun pukul 5.00 dan tidak mendapatkan suaminya disampingnya. Hana teringat jika semalam Vian meminta izin untuk berolahraga pagi. Hana beranjak mengambil air wudhu untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim. Setelah itu Hana bergegas kedapur menyiapkan sarapan mereka
"Bagaimana malam pertama bersama istri? Seru nggak" tanya Tama
"Ya seperti itulah, ditambah lagi istriku sangatlah polos dan perhatian"
"Wah, ceritakan pada kami dong, biar bisa dapat wanita sebaik wanitamu"
"Semalam dia menangis saat melihat luka tembak yang kudapatkan saat bertugas kemarin, dia terus saja mengeluarkan air mata saat mengobati lukaku, seolah dia juga ikut merasakan sakit yang bersarang di tubuhku"
Vian mulai menceritakan hal-hal mengenai Hana yang mendapat tatapan menginginkan dari teman-temannya
"Yayaya lettu Vian beruntung mendapatkan wanita sebaik istrinya" Ucap Tama ikut berbinar
"Aku juga pengen seperti itu, wanita yang khawatir akan luka ditubuhku. wanita yang memelukku erat saat aku pulang" Ucap Gama
"Semoga kalian juga mendapatkan wanita terbaik untuk menemani hidup kalian" Ucap Dika
__ADS_1
"Aaamiin doakan kami ya, kami juga ingin bahagia"
"Hahah tentu saja"
Mereka lanjut bercerita dan bercanda disela waktu istirahat mereka
"Aku pamit pulang ya, aku harus mengemasi pakaianku untuk pindah ke rumah dinas ku"
"Baiklah Vian"
"Oh ya kalian jangan lupa hadir di resepsi pernikahanku sore ini ya"
"Siap laksanakan" Ucap Para perwira serentak. Vian mengangguk dan melajukan motornya menuju ke rumah Hana
"Aroma apa ini, nikmat" Ucap Vian memarkir motornya dan berjalan masuk ke rumah Hana mengikuti sumber aroma
"Assalamu'alaikum sayang" ucap vian berdiri di pintu dapur
"Walaikumsalam, ayo abang kita sarapan dulu sebelum pergi ke rumah dinas abang" Vian mengangguk dan duduk dikursi yang disiapkan istrinya
"Aromanya wangi, sepertinya nikmat dek"
"Coba abang cicipi gimana rasanya" Vian menyendok nasi goreng udang yang dibuat Hana dan saat makanan itu menyentuh lidahnya
"Wah enaknya.. " Ucap Vian berbinar dan langsung menyantap makanan di depannya
"Ya ampun bang, makannya pelan-pelan dong,adek nggak akan rebut makanan abang kok"
"Hehe enak sayang" Ucap Vian kembali melahap nasi goreng di depannya
"Uhuk.. Uhuk.. " Vian tersedak
"Baru juga dibilangin bang, udah tersedak aja" Ucap Hana mengelus punggung Vian yang tengah meneguk segelas air hingga tandas
"Hehe kan ada istri abang yang akan ngejagain abang"
"Yaudah sekarang abang lanjutin makannya" ucap Hana ikut melahap sarapannya
"Alhamdulillah kenyangnya" Ucap Vian mengusap perutnya
"Alhamdulillah abang menyukai masakan adek, sekarang abang mandi ya. Adek sudah siapin airnya"
"Baiklah, terimakasih sayang" Ucap Vian mengelus lembut puncak kepala istrinya
__ADS_1
"Sama-sama bang" Hana tersenyum melihat vian yang telah beranjak menuju kamarnya. Hana beranjak membersihkan piring bekas makanan mereka dan menyusul Vian menuju kamar
Bersambung......