Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 15. Kenyataan Pahit


__ADS_3

Setelah diantar pulang oleh Vian, Hana langsung ke rumah Bu Mira karena Bu Mira mengajaknya berkunjung ke rumahnya


"Assalamu'alaikum ibu"


"Walaikumsalam calon menantuku, silahkan masuk"


"Baiklah terimakasih ibu"


Bu Mira tersenyum dan mulai mengajak Hana melihat koleksi kartu undangan, gaun pernikahan serta konsumsi dan dekorasi pesta


"Wah, ibu sudah mempersiapkan semuanya ya, bahkan pernikahan Hana masih lama loh"


"Nggak apa-apa nak, ibu berupaya menyiapkan pernikahan kalian dari jauh hari agar pernikahan kalian berjalan lancar dan meriah"


"Wah terimakasih ibu"


"Sama-sama nak, ayo dilihat kembali"


Hana tersenyum dan mulai melihat-lihat koleksi yang ditunjukan calon mertuanya kepada. Saat tengah asyik melihat dekorasi, terdengar ucapan salam dari depan pintu


"Assalamu'alaikum ibu"


"Walaikumsalam Dafa, silahkan masuk"


Dafa berjalan masuk mengandeng tangan Asti dan berjalan mendekati ibunya, Bu Mira mengepalkan tangannya melihat perlakuan putranya


"Apa maksudmu membawa wanita ini ke rumah" Ucap Bu Mira sedikit meninggi

__ADS_1


"Ibu aku ingin...." Ucap Dafa terputus


"Cepat usir wanita itu dari sini" Bentak Bu Mira


"Aku hanya ingin memperkenalkan calon istriku kepada ibu, tolong restui hubungan kami" Hana yang mendengar Ucapan Dafa tersentak kaget dan berusaha menahan air matanya


"Apa maksudmu Dafa, Hana adalah calon istrimu, bukan wanita sial ini" Ucap Bu Mira mendorong tubuh Asti hingga terbentur pintu


"Cukup ibu, selama ini aku selalu diam karena menuruti permintaan ibu, tapi aku tidak ingin menerima perjodohan dengan Hana Bu" Geram Dafa


"Lalu kenapa kau setuju saat pak Burhan memberitahu perjodohan kalian?"


"Aku akan menolaknya ibu, tapi aku tidak sanggup melihat kalian bersedih"


"Lalu apa sekarang kami tersenyum? lihatlah wajah Hana, sejak tadi dia berusaha menahan tangisnya" Tegas Bu Mira


"Plak... " Tamparan keras mendarat dipipi Dafa


"Sekarang kau berani melawan ibumu ya, sekarang kau pilih wanita itu, atau Hana yang ibu restui"


"Jika itu permintaan ibu, aku akan tetap memilih Asti. Karena aku hanya mencintai Asti dan aku bahkan tak pernah menganggap Hana ada. Aku sudah berusaha membuatnya menjauh dariku, tapi dia selalu saja mendekatiku"


Hana yang tak kuat menahan air matanya kini menangis dan berlari kencang meninggal rumah Bu Mira dengan hati yang telah hancur berkeping-keping


"Hana tunggu ibu nak, HANA... " Panggil Bu Mira yang tak lagi dihiraukan Hana. Bu Mira membalikan badannya dan menatap tajam Asti dan Dafa seolah ingin membunuh mereka


"Jika dia wanita pilhanmu, baiklah silahkan kalian menikah dan punya anak, tapi sampai mati ibu tak akan merestui hubungan kalian, CAMKAN itu" Guntur bergerumuh seolah mendukung ucapan bu Mira. Bu Mira yang kesal memasuki kamarnya dan membanting pintu cukup keras sehingga Asti tersentak kaget sambil memegang dadanya

__ADS_1


"Tenang ya sayang, ibu hanya sedang marah, jadi dia berbicara seperti itu"


"Tapi Sayang, aku takut jika kita menikah tanpa restu orang tua"


"Ibu akan merestui kita jika kita telah menjadi suami istri. Saat itu ibu pasti sudah tenang dan menerimamu"


"Bagaimana dengan Hana calon istrimu" Dafa langsung memeluk Asti yang menggerenyotkan bibirnya


"Kau tenang saja ya, aku hanya akan mencintaimu, hanya kau yang ada didalam hatiku. Soal Hana kau tak usah pikirkan dia, sekarang pikirkanlah pernikahan kita" Asti mengangguk dan membalas pelukan Dafa


"Mungkin suasana ini yang Vian rasakan saat ayah menolaknya dulu" Batin Asti mengingat Vian dimasa lalu.


Hana terus berjalan dibawah guyuran hujan yang terus saja membasahi bumi seolah ikut menangis dengan kenyataan yang dialami Hana


"Ya Allah, aku mencintainya, sangat mencintainya, tapi mengapa dia mematahkan hatiku dan membuangnya ke tempat sampah, apa aku tak berarti baginya. Apa aku salah mencintainya dengan tulus" Lirih Hana menatap ke arah langit yang masih setia menurunkan hujan


Hana berjalan sangat lambat karena tubuhnya yang lemah dan hatinya yang kini telah hancur dipatahkan oleh orang yang menjadi calon suaminya


"Ya Allah nak, kenapa basah kuyup begini" Ucap Bu Tiya melihat Hana yang berjalan masuk ke rumahnya. Tak berselang lama Hana ambruk tak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang cukup tinggi


"Astaghfirullah Hana, kamu kenapa sayang, bangunlah nak" Ucap Bu Tiya memapah Hana ke kamarnya. Bu Tiya mengganti baju Hana dan mulai megompres keningnya yang sangat panas. Sementara Hana terus saja mengigau tak jelas dengan air mata yang selalu meluncur disudut matanya


"Kumohon jangan tinggalkan aku, kumohon jangan" Hana mengigau dan terus saja meng geleng-geleng kan kepalanya


"Ada apa nak, apa yang sebenarnya terjadi padamu"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2