Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 9. Andai


__ADS_3

"Andai Kak Dafa, calon suamiku sebaik dan se perhatian sepertimu kak Vian" Batin Hana melihat Vian di sampingnya


"Ada apa dek, kok ngeliatin kakak seprti itu" Tanya Vian yang mengetahui jika Hana terus saja menatapnya


"Kakak, terimakasih atas semua yang kakak lakukan untuk adek hari ini, disaat orang terdekat adek meninggalkan adek sendiri di depan Batalyon, kakak datang membantu adek untuk pulang, bahkan kakak rela basah kuyup dan berhenti bersama adek disini" Ucap Hana tersenyum


"Aduh, jantungku, berhentilah berdetak kencang. Dia hanya tersenyum manis padamu, bukan mengajakmu lari keliling lapangan" Batin Vian melihat senyum tulus Hana


"Sama-sama dek, kakak ikhlas kok bantuin kamu. Tapi siapakah perwira yang meninggalkanmu di depan Batalyon tadi?" Mendengar pertanyaan Vian, Hana menundukkan kepalanya agar Vian tak melihat jika matanya telah berkaca-kaca saat ini


"Sekarang kakak antar pulang ya, kebetulan hujan sudah mulai reda" Hana mengangguk dan naik ke jok belakang motor. Setelah semuanya beres Vian melajukan motornya dengan hati-hati karena jalanan yang basah


"Kakak nggak mau masuk dulu" Tanya Hana setelah sampai di halaman rumahnya


"Nanti lain kali ya dek, kakak harus segera pulang"


"Baiklah kakak, Hati-hati dijalan ya"


"Siap dek, Kakak pamit ya, Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam kakak" Ucap Hana melambaikan tangannya pada Vian yang kian menjauh


Sementara di rumah Bu Mira


"Assalamu'alaikum ibu" Ucap Dafa memasuki rumahnya

__ADS_1


"Walaikumsalam nak, bagaimana Jalan-jalanya? Lalu dimana Hana?"


"Astaghfirullah. Aku lupa jika aku meninggalkan Hana di depan Batalyon tadi. Bagaimana kondisinya sekarang, jika dia kenapa-napa maka aku yang akan disalahkan. Jika tidak pulang, maka aku akan menyakiti ibu. Bagaimana ini" batin Dafa cemas


"Kok bengong nak, dimana Hana sekarang?"


"Ehh Hana sudah dirumahnya bu, Dafa baru saja dari rumahnya"


"Alhamdulillah sekarang masuklah dan ganti pakaianmu"


Dafa menangguk dan berjalan ke kamarnya "semoga kau baik-baik saja Hana"


*********


"Hehe nggak apa-apa kok bu, setelah meminum susu jahe hangat buatan ibu, pasti Hana akan segar kembali"


"Iyah nak, ngomong-ngomong ini jas hujan loreng milik siapa?"


"Astaghfirullah, aku lupa mengembalikannya pada kakak tadi, aku akan mengembalikannya jika bertemu dengannya lagi" Batin Hana


"Hana lupa untuk mengembalikan jas hujan ini tadi, tapi nanti Hana akan kembalikan"


"Baiklah nak, sekarang ganti bajumu dan makan malam ya nak"


"Siap ibu" ucap Hana tersenyum dan berjalan menuju kamarnya

__ADS_1


"Semoga hubungan perjodohan mereka berdua berjalan dengan Baik" Batin Bu Tiya tersenyum melihat pintu kamar Hana


Hana yang akan segera tidur mengurungkan niatnya kerena mendengar ponselnya berdering. Saat mengecek ponselnya terdapat panggilan masuk dari Dafa


"Assalamu'alaikum Hana"


"Walaikumsalam ada apa kak?"


"Kamu dimana sekarang?"


"Dirumah" ketus Hana


"Bagaimana kondismu, kau baik-baik saja kan?" Tanya Dafa cemas


"Apa pedulimu" Hana mematikan sambungan secara sepihak


Hana terduduk di samping ranjang dan mulai terisak sambil menutup mulutnya


"Maafkan aku kak Dafa, aku tak ingin kasar dan ketus padamu, tapi apa yang kau lakukan hari ini benar-benar menyakiti hatiku. Sekali saja rasakanlah bagaimana pernihnya hatiku menghadapi sikapmu selama ini" Batin Hana terisak


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Begitulah perempuan, mereka sangatlah unik. Dia akan menagis saat kau lukai, tapi dia juga akan menangis saat melukaimu


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2