Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 11. Andai Kau Wanita Itu Hana


__ADS_3

"AAA SIALL" Teriak Vian membanting tong sampah di sampingnya


"Apa salahku Ya Allah, mengapa aku mengujiku seperti ini. Wanita yang aku cintai tega menghianatiku" Lirih Vian meneteskan airmata. Vian yang terkenal tegas dan belum pernah menangis sekarang menjatuhkan air mata demi seorang wanita yang bahkan tak lagi menganggap cintanya ada


"Aku menyesal pernah mencintaimu Asti, aku menyesal mempercayai Ucap manismu yang ternyata semuanya hanya kebohongan semata. Aku menyesal mengenalmu, AKU MEMBENCIMU ASTIIIIII" Teriak Vian mengeluarkan amarah yang dipendamnya, bahkan tatapan dan bisikan orang-orang yang melihat tingkahnya tak lagi Vian pedulikan


Dengan kekesalan dan amarah yang masih memenuhi hati dan pikiran, Vian beranjak menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan Tinggi


"Aku menyesal pernah mencintaimu Asti, aku menyesal.. " Batin Vian masih melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Vian yang tengah rapuh tak melihat lubang di tengah jalan, alhasil Vian tak dapat mengontrol laju motornya dan jatuh berguling-guling di aspal


"Kakak..... " Teriak Hana yang melihat Vian mengalami kecelakaan, Hana menghampiri Vian yang terbaring lemah dipinggir jalan dengan kening dan hidung yang mengeluarkan darah. Siku Vian juga terluka akibat terkikis Aspal


"Astaghfirullah kakak" Hana kaget melihat kening dan hidung Vian yang mengeluarkan darah segar. Hana dengan telaten memapah Vian dan mendudukanya di bangku taman yang tak jauh dari lokasi kecelakaan

__ADS_1


"Kakak kenapa?" Tanya Hana melihat sudut mata Vian menggenang. Saat air mata lolos dari matanya, Hana dengan lembut menghapus air mata itu sehingga Vian tertegun dengan perlakuan Hana barusan.


Hana membersihkan darah dari kening Vian dan mulai memakainkan obat serta menutup kening Vian dengan perban yang disediakannya di tas miliknya. Hana menggunakan jilbab panjangnya untuk menyumpal hidung Vian yang terus mengeluarkan darah sehingga bagian bawah jilbab putih yang dikenakannya telah berubah merah terkena darah.


Hana mengusap lembut bekas darah yang masih menempel di hidung Vian, sementara Vian terharu dengan tindakan Hana. seketika senyum tipis terbit dari bibir Vian


"Kakak kenapa bisa begini, apa kakak tahu jika berkendara dengan kecepatan tinggi bisa membahayakan dan merenggut nyawa" Ucap Hana masih membersihkan bekas darah di hidung Vian


"Kau seperti ibuku dek, sangat baik dan juga perhatian"Batin Vian melihat wajah cemas Hana. Vian tersenyum mendengar omelan Hana yang sama seperti ibunya


"maafkan kakak ya dek, karena nggak fokus berkendara jadinya seperti ini"


"Apa kakak menghadapi masalah?"


"Maksudmu apa dek, kakak nggak apa-apa kok, kakak nggak hadapi masalah sedikitpun" Sangkal Vian mencoba tersenyum

__ADS_1


"Jangan berbohong padaku kak, mata kakak memerah tanda kakak menahan amarah yang terpendam. Kakak jatuh saat berkendara, tanda jika kakak menghadapi masalah yang rumit"


"Wanita yang hebat, dia bahkan bisa melihat kesedihan dibalik senyuman yang kutunjukkan padanya" Batin Vian takjub mendengar Ucapan Hana


"Jawab aku kak"Tanya Hana


" jika masalah yang kakak hadapi sangatlah rumit, kakak harus berusaha mencari jalan keluarnya, bukan dengan cara seprti ini kak, itu bisa saja membahayakan kakak. Setidaknya ingat dengan Allah kak, Allah tidak menyukai jika hamba-Nya mati dengan cara yang konyol. Jika kakak tidak keberatan, ceritalah apa masalah kakak sama adek, adek siap mendengarkan keluhan dan masalah kakak kok" melihat mata dan mendengar ucapan tulus Hana, vian mengontrol nafasnya dan mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


Selama bercerita, Hana sama sekali tak memotong ucapan vian dan terus sabar mendengar keluhan Vian. Vian tersenyum dalam hatinya karena kesabaran Hana yang masih setia mendengarkan keluhannya


"Masalah yang kakak hadapi cukuplah berat, dan ini soal persaan. Jika menyangkut perasaan, mungkin aku juga akan hancur dan rapuh seperti kakak saat ini. Tapi adek ingat pesan ayah, jika Wanita yang baik, akan dipertemukan dengan laki-laki yang baik, begitu juga sebaiknya. Jika kakak bisa, adek mohon berusaha ikhlaskan wanita itu. Meskipun sulit, tapi perlahan-lahan kakak pasti bisa melupakannya dan menghapus perasaan cinta pada wanita yang tak pantas untuk kakak. Sekarang kakak harus yakin, jika Takdir Allah adalah yang terbaik meskipun tak sesuai yang kita harapkan, karena Allah lebih tau apa yang baik dan juga buruk bagi hamba-Nya"


Vian terharu mendengarkan nasehat Hana, tak terasa senyuman manis kembali menghiasi wajah tampannya. Hana tersenyum melihat wajah cerah Vian dan mengenggam erat tangannya


"Kakak harus yakin jika masih ada wanita yang jauh lebih baik yang akan mencintai dan mendampingi kakak suatu saat nanti. Percaya sama Allah kak, karena setelah hujan dan badai yang menerpa, maka setelahnya akan ada pelangi dan indahnya senja yang menghiasi hidup kita"

__ADS_1


"Andaikan kau wanita itu Hana" Batin Vian tersenyum dan menangguk mendengar ucapan Hana


Bersambung......


__ADS_2