Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 41. Panik


__ADS_3

"Segera tangani para perwira yang keracunan"


"Laksanakan pak" Ucap tenaga kesehatan dan mulai memberikan pertolongan pertama saat keracunan. Komandan mengusap wajahnya kasar karena sang istri terus saja diam sambil menundukkan kepalanya


Hana yang mendengar keributan di depan segera keluar dari toilet dan mendapati kepanikan yang memenuhi halaman batalyon


"Ada apa ini Bu Danki?" Tanya Hana yang berdiri disamping Bu Danki


"Ini Bu Danton, para prajurit yang mencicipi masakan buatan Bu Danyon mengalami keracunan makanan" Ucap Bu Danki cemas


"Tapi Bu, saat kita mencicpinya tadi tidak terdapat kejanggalan sedikitpun. Bahkan kita tidak keracunan saat ini"


"Iyah Bu Danton, ada sesuatu yang tidak beres"


Hana meninggalkan Bu Danki dan berjalan mencari suaminya di tengah kepanikan ibu-ibu


"Astaghfirullah abang...." ucap Hana segera berlari kearah Vian yang tergeletak di tanah Baju Vian dan anggota lainnya telah basah akibat keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuh mereka


"Abang bertahan ya hiks.. hiks.. "


"Uhuk.. Uhuk.. Jangan nangis sayang, abang kuat kok uhuk.. uhuk" ucap pelan Vian sambil memegangi perutnya. Hana menghapus air matanya dan dengan telaten merapah tubuh Vian untuk mengantarnya pulang. Setibanya di kamar mereka, Hana membaringkan tubuh Vian di ranjang dan beranjak ke dapur


"Abang tunggu ya, adek buatkan sesuatu untuk abang"


Hana segera berlari kedapur dan mulai meracik obat herbal yang pernah diajarkan ibunya untuk mengobati orang yang keracunan makanan.


"Semoga ini bisa menyembuhkan suamiku. Bantu aku Ya Allah" Ucap Hana menghapus air matanya dan berlari ke kamarnya


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk... Sakitnya aaarghh" ringis Vian sambil memegangi perutnya. Hana dengan telaten memegang dagu Vian dan membantunya meminum obat herbal buatannya


Byurrr


Vian memuntahkan obat itu karena tak bisa menelan akibat nyeri hebat di perutnya. Hana mengusap lembut dagu Vian yang kotor dengan tangannya tanpa rasa jijik sedikitpun


"Abang tetap bertahan ya, minumlah obat ini perlahan-lahan" Ucap Hana mengelus lembut Pipi Vian


"Bismillahirrahmanirrahim" dengan ucapan bismillah, Hana kembali membantu Vian meneguk obat herbal buatannya. 2 menit kemudian, gejala keracunan yang dialami Vian berangsur-angsur hilang walaupun wajahnya yang masih sangat pucat. Hana masih terus menjatuhkan air mata sambil membersihkan dagu suaminya. Vian terharu dengan perhatian istrinya dan mulai mengusap lembut air mata yang mengalir dipipi Hana


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah" Ucap Hana bahagia dan langsung memeluk suaminya erat

__ADS_1


"Uhuk.. Uhuk.. Terimakasih sayang" Ucap pelan Vian menghapus air mata istrinya


"Abang buat adek takut tahu" Ucap Hana mengenggam erat tangan Vian


"Sekarang abang sudah baik-baik saja sayang"


Hana mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Hana berniat ingin membuka baju Vian yang basah akibat keringat, tapi wajahnya terasa panas sehingga dia mengurungkan niatnya


"Ada apa sayang?" Goda Vian melihat wajah istrinya telah merona merah


"Abang... Adek pengen lakuin sesuatu sama abang. Boleh nggak?" Ucap Hana tersipu


"Boleh dong sayang, semua tubuh dan jiwa raga abang juga milik adek"


"Terimakasih sayang, kalau begitu angkat tangan abang" Vian tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. Hana dengan telaten membuka baju Vian yang basah karena keringat. Kini Vian telah bertelanjang dada menampakkan perut sixpack nya


"Cuman gitu aja sayang?" tanya Vian


"Tentu saja bang. Abang pikirnya apa?"


"Nggak mikir apa-apa sih" Balas Vian tersenyum


Hana yang polos mengamati jika celana suaminya juga basah karena keringat.


"Jadi abang maunya apa?" tanya Hana bingung


"Mau... " Ucap Vian tertahan karena melihat wajah istrinya yang kembali memerah seperti udang rebus.


"Abang ini" Ucap Hana menyembunyikan wajahnya dengan tangannya. Sementara Vian menahan tawanya karena kembali berhasil menggoda istrinya


"Mau kemana dek"


"Mau ambil selimut bang" Hana membuka lemari dan mengambil selimut miliknya. Hana mendekati Vian dan menutup tubuh suaminya dengan selimut


"Mau ngapain dek?" Goda Vian


"Mau nerkam anaconda" Ujar Hana memasukkan tangannya kedalam selimut. Hana menutup matanya dan berusaha melepas kancing celana Vian yang basah karena keringat. Vian yang merasa geli dengan sentuhan hana, merasa jika sesuatu yang berada dibawah sana telah terbangun dan menegang. Setelah berhasil melepas kancing dan melucuti celana suaminya, Hana membuka mata dan kembali menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.


"Sudah selesai bang" Ucap Hana tersipu

__ADS_1


"Belum selesai loh dek" Ucap Vian kembali tersenyum nakal. Hana yang mengerti arti senyuman itu mengambil bantal dan menutup paksa wajah suaminya


"Adek jangan bunuh abang" ucap Vian meronta-ronta


"Abang yang kelewatan godain adek sih"


"Hahaha Iyah dek, lepasin keburu abang mati ditangan istri sendiri" pinta Vian. Hana segera melepas bantal yang dipegangnya dari wajah Vian


"Adek ini... " Ucap Vian mengontrol nafasnya


"Kok godain istri sendiri nggak boleh?"Ucap Vian cemberut


"Boleh sih bang, tapi... " Hana menahan ucapannya karena melihat Vian berbaring membelakangi nya. Hana yang mengerti jika suaminya tengah marah padanya mencoba untuk merayu Vian


"Abang... "


"Abang.. " Ucap Hana menggoyang tubuh suaminya


"Abang sayang..... "


"Hmmm"


"Abang marah ya sama adek"


"Nggak tahu" ketus Vian, namun dibibirnya kini telah menyungging senyuman licik


Hana ikut berbaring disamping Vian dan memeluk tubuh Vian erat


"Jangan marah sama adek dong pangeranku" goda Hana. Vian yang mendengar ucapan manis Hana membalikkan badannya dan menatap datar wajah Hana. Hana mengelus lembut pipi suaminya dan langsung mel**** bibir Vian. Vian kembali membalas perlakuan lembut istrinya sedangkan dalam hatinya Vian tengah tertawa mendapatkan Apa yang dia inginkan malam ini


"Jangan marah sama adek, adek takut abang ninggalin adek"


"Nggak sayang, abang nggak marah kok. Cuman adek yang ada dihati abang"


"Lalu abang kok nggak menjawab panggilan adek tadi, itu tanda abang marah sama adek kan?"


"Abang nggak marah kok, hanya ngambek aja hahaha" Ucap Vian tertawa terbahak-bahak. Merasa pipinya kembali memanas, Hana segera berlari keluar meninggalkan Vian sendirian dikamar. Sementara Vian tersenyum melihat tingkah istrinya


"Segera kembali sayang, aku menunggumu disini"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2