
"Loh, kok Dafa ninggalin gadis itu sendirian, padahal dia datang bersama gadis itu" Ucap Vian heran
"Jika itu benar, berarti di Dafa itu bukan lelaki sejati,dia meninggalkan gadis itu sendirian huh dasar" geram Dika
"Aku antar pulang dia dulu ya Dika, sepertinya dia akan kehujanan jika berjalan kaki seperti itu"
"Silakan, lindungi dia Vian"
Vian menangguk dan melajukan motornya mendekati Hana yang semakin jauh dari Depan Markas
"Assalamu'alaikum nona"
"Ehh bang, Walaikumsalam. Abang yang kemarin nolongin Hana bukan"
"Iyah maafkan abang ya atas kejadian kemarin"
"Nggak apa-apa kok bang, salah Hana juga yang nggak lihat saat menyebrang"
"Siapa namamu nona"
"Nama saya Hana bang, kalau abang namanya siapa?"
"Perkenalkan nama Abang Vian" ucap vian menjabat tangan Hana
"Salam kenal bang, adek pulang dulu ya"
"Biar abang antar pulang ya, hari juga semakin mendung, sepertinya akan turun hujan"
"Nggak apa-apa kok bang, adek bisa jalan sendiri, adek nggak mau ngrepotin abang"
"Nggak kok dek, abang nggak keberatan kok. Kan abang yang tawarin buat antar adek pulang"
Hana tersenyum dan mulai menaiki jok belakang
"Terimakasih ya kak"
"sama-sama dek"
__ADS_1
Vian tersenyum dan melajukan motornya menbelah jalan kota
"Kok aku deg-degan ya" Batin Vian melirik Hana dari kaca spion
Vian melanjutkan perjalanannya namun dari arah berlawanan terlihat Dafa sedang membonceng wanita yang tak dapat Vian kenali karena wanita itu membelakangnya dan memakai Helm
"Mengapa kau lakukan ini Dafa, kau meninggalkan gadis ini sendirian di depan Batalyon yang setia menunggumu demi wanita itu, dasar" Batin Vian geram sehingga dia mengrem mendadak. Hana yang terkejut melirik Vian dari spion, terlihat rahang Vian mengeras, dan bahunya bergetar menahan marah. Hana juga melihat jika Vian meremas kuat kedua setir motornya
Hana mengusap lembut punggung Vian mencoba menenangkannya. Vian yang merasa ada tangan lembut yang mengelus punggungnya tersenyum melihat Hana dari balik spion, bahkan amarah yang ditahannya kian mereda dengan perlakuan tiba-tiba Hana
"Abang kenapa, kok marah. Jika abang ingin marah maka keluarkan saja amarah itu, jangan ditahan ataupun dipendam nanti akan menjadi dendam"
"Nggak apa-apa kok dek, Abang hanya kesal dengan orang yang melewati kita tadi. Maafkan abang yang berhenti mendadak tadi, adek pasti kaget"
"Nggak apa-apa kok bang, adek mengerti dengan kondisi abang" Ucap Hana tersenyum dan berhenti mengelus punggung Vian
"Tunggu, apa yang kulakukan?" Batin Hana tertegun dengan apa yang baru saja dilakukannya. Sedangkan Vian tersenyum melirik Hana dari kaca spion yang saat ini wajahnya telah merah merona
"Terimakasih sudah mengerti abang dek, sekarang kita lanjut jalan yah"
"Eh iyah bang"
Tak berselang lama, langit yang tak mampu menahan beban menurunkan hujan dan membasahi jalanan kota
Vian memberhentikan motornya di depan toko karena tak mungkin menembus hujan yang semakin deras
"Adek, kita duduk dulu ya disini. Setelah hujannya berhenti, kakak akan mengantarmu pulang"
"Baiklah kakak" Ucapan Hana tersenyum dan menggosokkan kedua tangannya agar tubuhnya merasa hangat setelah basah kuyup karena guyuran hujan
Vian yang melihat Hana keinginan membuka bagasi motornya dan mengambil jas hujan loreng yang selalu disimpannya. Vian memakaikan jas hujannya pada Hana dan duduk disampingnya, sedangkan Hana tertegun dengan perlakuan Vian secara tiba-tiba
"Bagaimana dek, masih kedinginan?"
"Udah mendingan kak, tapi jika adek pake jas hujan kakak, terus kakak bagaimana? Kakak juga basah kuyup sama seperti adek"
"Kakak nggak apa-apa kok dek, kakak sudah biasa dengan hal seperti ini" Ucap Vian lembut
__ADS_1
"Adek tunggu disini ya, kakak pesan makanan dulu di warung itu"
"Baiklah kakak"
Vian tersenyum dan beranjak mendekati Warung untuk memesan makanan untuknya dan juga Hana
"Drt.. Drt.. " Ponsel Hana berdering
"Ya ampun ibu, pasti ibu cemas karena jam segini aku belum juga pulang" Hana khawatir dan langsung menekan tombol hijau di ponselnya
"Halo nak, kamu dimana? Ini sudah jam 7 malam tapi kamu belum juga pulang, ibu daritadi menelpon nomor Dafa tapi tak diangkat nak"
"Hana baik-baik saja kok bu, Hana lagi berteduh karena hujan lebat di kota, ibu jangan khawatir ya"
"Alhamdulillah, jaga diri baik-baik ya nak, jika hujannya berhenti kamu segera pulang ya nak"
"Baiklah bu"
"Kamu sudah makan nak?"
"Hehe belum ibu" Cengir Hana
Vian yang mendengar obrolan Hana dan ibunya tersenyum melihat tingkah Hana
"Yaudah ibu akan buatin makanan untukmu"
"Terimakasih ibuku, ibu memang yang terbaik. Kalau begitu sudah dulu ya bu, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam sayang"
Vian berjalan mendekati Hana dan menyerahkan Cup mi instan panas ditangan Hana
"Kita makan dulu ya dek, pasti adek belum makan"
"Maafkan adek yang ngrepotin kakak ya" Ucap Hana menunduk
"Nggak kok adek sama sekali nggak ngrepotin kakak. Sekarang makanlah"
__ADS_1
Hana tersenyum dan mulai menyantap makannya bersama Vian yang juga makan di sampingnya
"Andai Kak Dafa, calon suamiku sebaik dan se perhatian sepertimu kak Vian" Batin Hana melihat Vian di sampingnya