Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 88. Menjagamu Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Setelah membersihkan busa ditubuh Vian, Hana meraih handuk dan dililitkan ditubuh suaminya


"Sekarang abang tidur yah, sini adek bantu" ucap Hana memapah tubuh suaminya untuk berbaring di ranjang. Hana yang akan mengambilkan baju untuk Vian menghentikan tindakannya saat mendengar suara tangisan Viara. Hana segera berlari ke keranjang bayi Viara dan berusaha menenangkan Viara yang menangis kencang


" cup..cup..sayang, jangan ribut. Ayah lagi sakit" ucap Hana berusaha menenangkan putrinya. Karena tangisan Viara yang semakin kencang, Hana segera membawa Viara keluar kamar dan menenangkannya di ruang tengah agar tidak menganggu Vian yang tertidur lelap.


"Sudah yah sayang, jangan nangis lagi, ada bunda disini kok" ucap Hana menghapus air mata Viara dan mulai menyanyikan lagu tidur untuk putrinya. Setelah putrinya tertidur di gendongannya, Hana mendudukkan tubuhnya di sofa sambil terus menyanyikan lagu pada Viara. Karena lelah yang menyerang tubuhnya, Hana tertidur di sofa dengan tangannya yang masih mengendong Viara.


Pukul 4 dini hari, Hana yang terbangun karena mendengar suara ringis segera berlari memasuki kamar.


Saat membuka pintu kamarnya, Hana tertegun melihat kondisi suaminya. Hana segera meletakkan Viara di keranjang bayinya dan bergegas menghampiri Vian yang tengah bergetar hebat diatas ranjang. Handuk yang menutupi tubuh polosnya kini telah terjatuh di lantai dan kedua kaki vian yang terbuka lebar menampakkan benda miliknya nya yang berdiri tegak sempurna.


"Apa yang terjadi padamu bang?" Tanya Hana cemas melihat tubuh polos Vian terus bergoyang-goyang keatas dan kebawah meski matanya dalam keadaan tertutup.


Vian terus membuka lebar kakinya dan bergetar hebat diatas ranjang seperti orang yang kejang-kejang. Hana meletakkan kepala suaminya di pahanya dan mengenggam tangannya erat. Hana menghapus keringat di kening suaminya yang masih bergerak liar diatas ranjang


"Sayangku, keluarkan semua yang kau tahan selama ini. Keluarkan lah apa yang menyakiti tubuhmu dari dalam. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Aku tidak akan marah padamu, aku sangat mencintaimu sehingga aku lupa caranya marah padamu. Aku sedih melihatmu tersiksa seperti ini. Jadi keluarkanlah sayang, jika memang sulit maka pelan-pelan saja" bisik Hana lembut di telinga suaminya yang masih setia menutup mata.


Tak berselang lama, tubuh Vian berhenti bergerak liar diranjang. Hana tersenyum melihat Master P milik suaminya yang berdiri tegak terus mengeluarkan urine dan cairan pelepasan


"Terimakasih sudah mendengarkanku dengan baik. Cepat sehat yah sayang, aku mencintaimu" ucap Hana mengecup pipi Vian dan mengelus wajah pucatnya. Hana memegang benda milik suaminya dan mengelusnya dengan lembut. Setelah cairan telah berhasil dikeluarkan Vian, hana segera membersihkan cairan yang membasahi benda milik suaminya dan mencucinya lembut dengan tangannya.


Setelah selesai membersihkan master P milik suaminya, Hana segera menyalakan AC kamarnya dan memperbaiki posisi kaki Vian yang terbuka lebar. Karena tubuh vian yang berkeringat hebat, Hana membiarkan tubuh suaminya tetap polos tanpa ditutupi apapun agar suhu dinginnya AC menghilangkan rasa panas ditubuh suaminya.


Hana meletakkan kepala Vian di pahanya dan kembali memijatnya lembut


"Kenapa abang seperti ini? Apa ada sesuatu yang terjadi saat abang di pesta semalam?" gumam Hana berselidik. Hana terus memijat kepala Vian dengan lembut sampai pukul 8 pagi. Hana yang tengah membersihkan keringat yang kembali tergenang di kening Vian mendengar suara salam dari depan pintu. Hana segera keluar kamar dan menyambut kedatangan tamunya

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Hana" sapa Dafa tersenyum


"Walaikumsalam Kakak, ayo silahkan masuk" ucap Hana diangguki Dafa sambil tersenyum


"Dimana Vian? Apa dia baik-baik saja?"


"Abang sedang istirahat di kamar kak, abang bahkan belum siuman sejak pukul 2 dini hari tadi" ucap Hana pelan


"Tapi kak, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres disini. Sejak suamiku pulang dari pesta semalam, aku menemukannya berendam di bathub tadi malam. Aku merasa ada yang aneh karena suamiku sehat saat pergi kemarin pagi, tapi kenapa dia pulang wajahnya sudah melemah seperti itu" ucap Hana berselidik. Dafa menghela nafas dan mulai menceritakan kejadian semalam saat dia menemukan Vian yang terjatuh setelah keluar dari hotel. Dafa juga menceritakan apa yang dialami Vian lewat CCTV hotel yang dia periksa pagi tadi.


Hana yang mendengar ucapan Dafa menitikkan air matanya. Ternyata suaminya sampai seperti ini karena tidak mau menanamkan benih pada wanita lain selain dia. Suaminya begitu teguh menjaga ucapan Hana pagi sebelum Vian berangkat ke pesta temannya


"Tapi siapa yang melakukan itu pada suamiku dan juga bang Dika?" Tanya Hana bingung


"Kakak masih menyelidikinya Hana, tapi setelah penyelidikan kakak selesai, kakak akan memberitahunya padamu"


"Sama-sama Hana" balas Dafa tersenyum.


"Ohh yah kak, bisa nggak kalau kakak jagain rumah ibu sebentar, adek mau ke warung dulu membeli bahan makanan hari ini" pinta Hana yang diangguki Dafa sambil tersenyum


"Baiklah kak, jika kakak ingin bertemu abang, kakak temuilah dia di kamarku" ucap Hana tersenyum dan berjalan keluar rumahnya. Dafa segera menyusul Vian di kamar Hana


"Hai bro, cepat sembuh yah, apa kau tidak malu tel*****g memperlihatkan benda milikmu pada istrimu" ucap Dafa pada pria yang terbaring lemah dan masih setia menutup mata di depannya.


Dafa tersenyum pada Vian dan beranjak meninggalkan kamar Hana


"Terimakasih sudah menjaga rumah adek yah Kak"

__ADS_1


"Iyah sama-sama Hana, kakak izin pamit dulu ya, jaga suamimu dengan baik. assalamu'alaikum Hana"


"Walaikumsalam kakak" balas Hana tersenyum. Hana segera beranjak kedapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Vian. Sementara Vian di kamarnya mulai menggeliat dan perlahan-lahan membuka mata


"Astaga, kenapa tubuhku sesakit ini? Apa yang aku makan kemarin sehingga tubuhku sepanas ini?" gumam Vian. Vian berusaha untuk bangun namun rasa sakit di area kepemilikannya memaksanya untuk tetap berbaring


"Abang sudah bangun?" Tanya Hana yang baru saja datang sambil memegang nampan makanan


"Iyah dek" balas Vian tersenyum. Hana segera mengambilkan sarung dan menutupi tubuh polos suaminya.


"Pelan-pelan sayang" ucap Hana membantu Vian untuk bersandar di sandaran ranjang. Hana mengecup kedua pipi Vian dan mulai menyuapinya. Vian tersenyum melihat istrinya yang begitu perhatian padanya sejak tadi malam. Hana yang masih menyuapi Vian menjatuhkan air matanya mengingat keadaan suaminya semalam dan juga saat dini hari tadi


"Kok adek nangis? Kan abang yang sakit, bukan adek" ucap Vian menghapus air mata istrinya


"Terimakasih sudah menjaga milikku bang. Adek sudah denger ceritanya dari kak dafa" lirih Hana berhambur memeluk Vian


"Adek nggak marah sama abang? Wanita itu telah menyentuh abang" ucap vian mengelus punggung Hana


"Adek nggak marah sama abang, justru adek makin sayang sama suami adek ini" ucap Hana lembut


"Yang harus dimarahin tuh wanita penggoda itu. Dia belum tahu seberapa kuatnya adek menghajar preman. Berani sekali dia menyentuh milikku" kesal Hana mengepalkan tangannya. Sementara Vian menahan tawa melihat wajah kesal istrinya


"Sudah sayang, jangan marah-marah lagi. Abang butuh pelukan". Hana tersenyum dan memeluk Vian erat


"Siapa wanita itu, aku akan selidiki dia nanti"


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2