
Vian dan beberapa letting nya saat ini tengah nongkrong di warung kopi yang tak jauh dari depan Batalyon. Mereka tertawa dan bercanda bersama menceritakan pengalaman mereka, namun tawa Vian terhenti karena melihat Dafa yang berjalan kearah mereka sambil mengandeng tangan seorang gadis yang juga tengah menatapnya
"Hei Dafa, nongkrong dulu disini yuk"
"Ngomong-ngomong siapa wanita yang kau ajak kesini. Apa dia kekasihmu" Goda Tama
"Haha kalian bisa aja, dia ini kekasihku, dan tak lama lagi kami akan segera menikah"
Vian tersenyum kecut mendengar ucapan Dafa, sedangkan Asti tertunduk tak berani menatap Vian
"Rupanya ini lelaki yang kau cintai sehingga kau tega menghianatiku" Batin Vian
"Silahkan perkenalkan namamu dek" Ucap Denis
"Perkenalkan nama saya Asti, salam kenal abang-abang" para prajurit memperkanlakan namanya dan menjabat tangan Asti, sementara Dika tak menerima sambutan tangan Asti sehingga pada anggota keheranan
"Hei Dik, ngapain lu nggak jabat tangan Asti"
"Nggak, nanti tangan gua gatal?" Ketus Dika
"Apa maksudmu berbicara seperti itu Dika?" Geram Dafa
"Sudahlah Dafa, mungkin Dika lagi ada masalah" Ucap Vian
"Iyah sayang, mending kita ngobrol dengan abang-abang ini yuk'
" baiklah sayang " Dafa dan Asti mulai bercerita dan mendapatkan tawa dari para anggota
"Jangan lupa undang kami saat kalian menikah ya" seru Tama
"Siap laksanakan" Ucap Dafa bersemangat sedangkan Vian dan Dika langsung beranjak tanpa meminta izin pada teman-temannya
"Ada apa dengan mereka?" Batin Dafa berselidik
__ADS_1
Vian yang menahan amarahnya berjalan Cepat menuju ke rumah dinasnya dengan rahang mengeras
"Vian tunggu aku" Mendengar Ucapan Dika Vian langsung menghentikan langkahnya
"Ada apa lagi Dika? Aku baru tahu sekarang alasan Asti menolakku karena memilih Dafa sebagai kekasihnya"
"Apakah kau kesal akan hal itu?"
"Tidak Dika, aku hanya kesal mengapa harus Dafa yang terjerat dengan wanita itu, Dafa dulu sahabat dan teman dekatku"
"Syukurlah, kupikir kau kesal dengan kejadian tadi" Ucap Dika lega
"Aku memang agak kesal dengan kemesraan mereka berdua, tapi aku mengingat ucapan dan kata indah dari seseorang. Dia menyemangatiku untuk terus berjalan dan berdamai dengan masa lalu, karena setiap hal yang melimpah kita, pasti ada hikmah dibaliknya"Ucap Vian tersenyum dan melanjutkan langkahnya
"Wah, siapa ya wanita itu. Aku jadi penasaran" Goda Dika
"Wanita itu adalah........ " Ucap Vian terputus karena melihat seseorang yang dimaksudnya tengah berdiri di depan rumah dinasnya
"Wanita siapa Vian?" karena tak mendapat jawaban dari Vian, Dika mengikuti arah pandang Vian dan tersenyum melihat jika Vian tersenyum menatap gadis cantik yang berdiri didepan sana
"Assalamu'alaikum kakak"
"Walaikumsalam dek, ada apa ke rumah kakak?" Tanya Vian
"Adek hanya pengen kembaliin jas hujan kakak yang kakak pinjamkan ke adek beberapa hari lalu" Ucap Hana menyerahkan paperbag yang dipegangnya kepada Vian
"Tapi adek nggak perlu repot-repot kok kembaliin jas ini ke kakak"
"Tidak kak, jas ini milik kakak, adek tidak bisa menyimpan lebih lama apapun kalau itu bukan milik adek, jadi kakak Terima ya"
"Baiklah, kakak Terima ya"
"Alhamdulillah terimakasih kakak"
__ADS_1
"Sama-sama sayang, eh maksdunya adek" Ucap Vian keceplosan
"Kalau gitu adek pamit ya kak, assalamu'alaikum" ujar Hana segera pergi karena wajahnya yang telah merah merona
" Walaikumsalam adek"
"Wah hebat kau Vian, belum lama bertemu udah panggil sayang aja"
"Apaan sih, keceplosan tadi"
"Hahaha" Dika tertawa terbahak-bahak
"Jika itu bukan salah ngomong, apa kau akan menerima ungkapan itu dengan baik Hana" Batin Vian menatap Punggung Hana yang kian menjauh
"Bentar ya dik, aku anterin Hans dulu. Kasian kalau dia jalan kaki"
"Yaudah sana" Dika mengangguk dan mulai menjalankan motornya.
Hana yang berjalan melewati supermarket seketika terhenti karena melihat Dafa dan seorang gadis yang bergelayut manja di lengannya. Hana tersenyum kecut melihat keduanya, sementara Dafa hanya diam sambil terus menatap Hana didepan sana
Tak berselang lama, terdengar bunyi motor yang mendekati Hana
"Adek, sini kakak anter pulang" Ucap Vian
"Tapi kak.... "
"Ayolah dek, ayo naik" Ucap Vian tersenyum manis. Hana yang melihat senyum itu tak bisa menolak sehingga dia menganggukkan kepalanya. Tampak Hana kesulitan saat memakai helm karena jari tangannya terluka saat memasak pagi tadi. Menyadari kesulitan Hana, Vian tersenyum dan membantu Hana memakai helm. Asti yang mengamati Vian tengah memakaikan helm pada Hana merasa ada getaran cemburu dalam hatinya, begitu juga dengan Dafa yang hanya diam menatap adegan didepan sana sambil menahan gejolak dihatinya
Pipi Hana terasa panas saat mendapat perhatian tiba-tiba dari Vian. Vian menahan senyumnya melihat wajah Hana yang kini telah merona merah
"Sudah siap dek"
"Siap kak" Vian tersenyum dan kembali melajukan motornya membelah jalan kota.
__ADS_1
Bersambung......