
Para prajurit yang melihat Rigas memukuli Vian segera maju namun langkah mereka kembali tertahan melihat remot kontrol yang ditunjukkan Rigas
"Sekali saja kalian membantu pimpinan kalian, akan kuledakkan gubuk ini" Ancam Rigas masih menindih tubuh Vian.
"Maafkan aku sayang, jika abang nggak pulang setelah melawan orang ini, maafkan dan ikhlaskan abang yah" batin Vian teringat senyuman Hana.
Vian yang merasa tubuhnya telah lemas tak bertenaga lagi membiarkan bogem mentah yang kembali mengantam setiap inci tubuhnya
"Abang.." lirih Hana ketakutan. Hana merasa sedang terjadi sesuatu pada Vian
"Mungkin inikah ikatan batin antara aku dan suamiku, bertahanlah abang" ucap Hana meletakkan kantung belanjaannya di halaman rumah dan mengepalkan tangannya
Hana melakukan gerakan menendang dan memukul seperti sedang memukuli seseorang. Vian yang merasa ada gerakan tiba-tiba di tubuhnya mengangkat tangan dan kembali membogem mentah wajah Rigas yang menindih tubuhnya
"Argghh" ringis Rigas menahan sakit akibat pukulan cukup keras di wajahnya
Hana kembali mengangkat kakinya dan menghajar udara seperti gerakan mengajar seseorang
Vian yang merasa terdapat energi yang datang dari mana di dalam tubuhnya mengangkat kakinya dan dan kembali menendang perut Rigas hingga Rigas jatuh tersungkur
Bugh...
Bugh..
Arghh....
"Bagus sayangku" batin Hana merasa lega mengingat Vian.
Rigas yang tidak mau kalah brusaha bangkit dan kembali menerjang Vian.
Hana refleks menunduk seperti gerakan kayang, dan meraih udara seperti meraih tangan seseorang yang melayang di atasnya, dan kembali membogem mentah udara di depannya.
Vian kembali mendapatkan sebuah energi yang menggerakkan tubuhnya untuk menunduk seperti gerakan kayang sehingga pukulan Rigas tidak mengenai wajahnya. Vian meraih tangan Rigas dan kembali menyerang Rigas secara brutal
"Hahha bagus, sekarang begini, begini, begini, begini, dan tendang" ucap Hana membogem mentah udara dan langsung menendang udara di depannya
Vian kembali melakukan hal yang sama dengan berkali-kali mendaratkan membogem mentah di tubuh Rigas dan serangan terakhir berhasil dilakukan vian dengan menendang pinggang Rigas yang langsung membuat Rigas tersungkur menghantam tembok
"Ada apa ini? Seolah tubuhku telah diambil alih seseorang" gumam Vian melihat tangannya
Rigas yang telah lemas kembali bangkit sambil menahan pisau ditangannya
Vian melakukan hal yang sama dengan menahan pisau agar tidak menusuk jantungnya
Vian memelintir tangan Rigas hingga pisau yang dipegangnya berhasil jatuh ke tanah.
__ADS_1
salah satu pasukan Vian yang naik pitam dengan perbuatan Rigas mengangkat tubuh Rigas dan membanting nya cukup keras sehingga terdengar bunyi retak dari tubuh Rigas
Prak..
Karena tak kuat lagi menahan sakit, Rigas perlahan-lahan menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya
"beres"
********
"Loh, lagi ngapain han?" tanya sisil yang sejak tadi mengamati tindakan Hana
"Biasa olahraga, hehe"
"Olahraga sih, tapi kan ini udah mau malem"
"Sesekali toh sil. Ngomongin-ngomomg mau ngapain ke rumahku di jam begini?"
"Aku ingin belajar memasak bersamamu Hana, aku sering menyantap makananmu saat acara-acara dan benar saja rasa masakanmu jauh lebih enak dari buatanku. Bang Raka juga ketagihan dengan masakanmu. Jadi bisakah kau mengajariku"
"Baiklah, ayo masuk kedalam"
"Terimakasih Hana" ucap sisil senang dan langsung memasuki dapur Hana
***********
"Ijin, Pasukan khusus telah berhasil menjinakkan semua bom di gubuk itu"
"Benar lettu, beberapa pasukan khusus juga dikerahkan untuk menyelidiki gubuk tadi. Mungkin kita bisa menemukan dalang dibalik banyaknya mayat di gubuk tadi dan juga rencana para kelompok separatis itu"
"Baguslah"
"Ngomong-ngomong, kenapa cara jalanmu sepertinya berbeda Vian?" Tanya Dika pelan yang berjalan disamping Vian
"ahh mana ada, ini cara jalanku seperti biasa. hanya saja nyeri akibat pukulan tadi masih terasa di tubuhku" balas Vian
Setibanya di markas, Vian langsung mendapatkan perawatan dari dokter Rangga
"Kau ini, setiap pulang berperang selalu babak belur seperti ini" ucap Rangga mengobati luka Vian
"Heheh maaf dokter, musuhnya sangat kuat jadinya gini" cengir Vian
"Kau tidak takut ketampananmu hilang?" tanya Dika yang ikut mengamati Vian
"Benar loh, nanti istrimu akan meninggalkanmu jika kau terus saja babak belur seperti ini"
__ADS_1
"Nggak mungkin dokter, istriku adalah wanita yang baik dan juga setia. Seburuk apapun kondisi ku, dia pasti selalu ada dan menemaniku selamanya"
"Tapi jika terus babak belur seperti ini, istrimu bisa cemas loh"
"Itulah hebatnya istriku, dia selalu memperhatikanku setiap saat"
"Yaudah, sekarang luka diwajahmu sudah selesai kuobati katakan lagi di bagian mana rasa sakitnya"
"Disini dokter"
"Maksudnya?"
"Hatiku sakit setiap kali merindukan istriku hahaha" Vian tertawa renyah melihat wajah kedua temannya yang sampai sekarang masih membujang
"Kenapa cara jalanmu berbeda saat kau datang kesini tadi, kau seperti kepiting jika berjalan seperti itu" ujar dokter Rangga
"Yah, cara jalannku yang penuh wibawa dan ketegasan sirna karena rasa sakit yang menyerangku akibat ulah anggota tadi"
"Masih ada yang sakit? Katakan dimana, biar aku yang mengobatinya" ucap dokter Rangga cemas
"Tunggu dulu, apa maksudmu karena ulah para musuh tadi? Bukannya mereka hanya mengajarmu di wajah dan tubuhmu saja?" tanya Dika heran
"Salah satu pimpinan mereka yang berhasil ku lenyapkan memang sangatlah kuat, dia bahkan menendang keras benda pusakaku sehingga cara jalannku yang berwibawa telah sirna" mendengar ucapan Vian, Dika melirik kearah dokter Rangga dan tertawa terbahak-bahak
"Kenapa kau menertawakanku, bukannya cemas malah tertawa"
"Hahhaha soalnya lucu sih ngeliat cara jalanmu seperti itu" ucap Dika mengeluarkan tawanya
"Dokter Rangga, kenapa nggak ketawa bareng?" tanya Dika berhenti tertawa karena melihat wajah serius dokter Rangga
"Sudah berapakali tendangan atau pukulan yang mengenai benda pusakamu?"
"Yang tadi bukan yang pertama dokter"
"Ada apa dokter?" tanya Dika cemas melihat wajah gusar dokter Rangga
"Begini, jika sering terkena pukulan atau hantaman pada organ vital seseorang, maka akan memperlambat atau bahkan sangat sulit untuk memiliki keturunan" Vian dan Dika bertatapan setelah mendengar ucapan dokter Rangga
"Apa ada solusinya dokter?" tanya Vian serius
"Aku juga belum tahu, kecuali setelah aku melakukan pemeriksaan padamu. Nanti setelah selesai bertugas, aku yang akan memeriksamu di rumah sakit yang tidak jauh dari sini"
"Baiklah, terimakasih dokter" ucap Vian berusaha tersenyum dan berjalan keluar ruangan sambil menundukkan kepalanya
"Jika yang dikatakan dokter Rangga benar, aku takut jika aku tidak bisa memberikan seorang anak untuk istriku. Aku sedih setiap kali melihat wajah kesepian Hana. Semoga semuanya baik-baik saja"
__ADS_1
Bersambung.....