Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 49. Hanya Kau Yang Memilikinya


__ADS_3

Hana keluar sebentar dari kamarnya untuk pergi mengambil ponselnya yang tertinggal di motor


"Ehh Hana, tadi saya panggil-panggil kok nggak dengar?" Ucap Bu Ratih, tetangga Hana


"Benarkah?"


"Iyah Hana, tadi siang saya manggil Hana untuk mengambil mangga saya yang baru saja dipanen tadi. Tapi Hana nggak denger panggilan saya dan langsung berjalan tanpa menoleh kebelakang" Ucap Bu Ratih semakin membingungkan Hana


"Loh, siang tadi aku kan sedang menghadiri rapat. Ibu Ratih bilang ada seorang wanita yang keluar dari rumahku" batin Hana berselidik


"Orang yang ibu kira itu adalah saya memakai pakaian warna apa bu?"


"Ohh jadi itu bukan Hana, tapi dia keluar dari rumahmu nak"


"Iyah benar bu"


"Wanita tadi memakai dress berwarna maron nak"


"Ohh begitu ya bu"


"Iyah nak, ini ibu ada mangga yang baru saja panen tadi pagi, diterima ya nak"


"Terimakasih bu" ucap Hana menerima kantung kresek yang diberikan bu Ratih


"Sama-sama nak, kalau begitu ibu pulang dulu ya, assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Walaikumsalam bu" Hana tersenyum dan beranjak masuk ke rumahnya


"Ibu Ratih bilang jika ada seorang wanita yang keluar dari rumahku. Wanita itu mungkin yang mencelakakan suamiku di kamar mandi tadi. Tapi apa yang dilakukan abang di kamar mandi sehingga dia tak menyadari jika ada wanita yang masuk dan mencelakainya. Wanita itu memang tak tahu malu, dia bahkan menjadi wanita yang melihat tubuh suamiku, padahal aku istrinya bahkan belum pernah melihat tubuh suamiku sepolos itu, kecuali tadi heheh" Hana terkekeh mengingat saat menemukan Vian di kamar mandi tadi


"Akan kuberi pelajaran pada wanita itu, berani sekali dia masuk ke rumahku dan mencelakai suamiku" batin Hana geram dan mendorong kasar pintu kamarnya sehingga membuat Vian tersentak kaget


"Sayang, ada apa? Kok marah kayak begitu" ucap vian mengelus dadanya


"Apa yang abang lakukan tadi di kamar mandi?" tanya Hana seolah menginterogasi pelaku


"Tentu saja abang mandi sayang"


"Kenapa abang mandi tanpa sehelai benang pun tadi?"


"Abang sering mandi seperti itu sayang, kecuali saat adek memandikan abang, maka abang hanya memakai boxer saja?" jawab Vian


"Siapa saja orang yang pernah melihat tubuh polos abang?" tanya Hana merasa pipinya kembali memanas


"Ohh kalau itu, cuma ibu abang yang melihatnya sayang" ucap Vian tersenyum melihat wajah merona istrinya


"Jadi wanita tadi...." Batin Hana merasa sakit dalam hatinya.


"Ada apa sayang?" tanya Vian yang melihat Hana terdiam sambil menundukkan wajahnya. Hana mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearah Vian. Vian terkejut melihat ekspresi tiba-tiba dari istrinya, Vian mulai mengingat saat terakhir kali Hana menginterogasi ketua preman dan menendang bagian utama ketua preman itu yang membuat Vian merasa ngilu dengan teriakannya.


"Jangan berani melukai atau macam-macam dibelakang istrimu bang, sebelum anaconda diterkam elang" ucapan Gama kembali terngiang dikepala Vian. Vian merinding saat Hana berjalan mendekatinya sambil memegang gunting, seolah siap untuk memotong dibawah sana yang ikut menegang.

__ADS_1


"Jangan sakiti abang dek" batin Vian mulai takut saat Hana memajukan langkahnya dengan gunting ditangannya. Setelah Hana berdiri tepat disamping ranjang, Hana meletakkan gunting itu diatas nakas yang membuat Vian bernafas lega


"Syukurlah.. " batin Vian lega


"Apa saja yang abang lakukan di kamar mandi saat ada seorang wanita yang masuk melihat abang tadi siang?" Tanya Hana kembali membuat Vian bertanya-tanya


"Wanita?" tanya Vian bingung. Hana segera masuk ke kamar mandi untuk mencari sedikit bukti jika ada wanita yang masuk dan mencelakai suaminya. Saat melirik kebelakang bathub, hana melihat lipstik berwarna pink disamping kain putih. Hana mengambil kain itu dan melihat noda lipstik pink ini yang menempel disana. Hana berpikir ini pasti kain yang digunakan untuk menyumpal mulut Vian, apalagi hana mencium sedikit aroma obat bius dari kain itu.


Hana berbalik untuk keluar dan mendapati disamping pintu terdapat bros bunga yang tak asing dimata Hana


"Bross ini sepertinya tak asing dan pernah kulihat sebelumnya, tapi dimana ya?" batin Hana berselidik


"Jadi benar yang dikatakan bu Ratih, ada seorang wanita yang masuk dan berniat mencelakai suamiku saat dia tengah membersihkan diri. Berarti.... " Hana mulai geram dan kembali ke kamarnya.


"Apa saja yang abang lakukan sehingga tak menyadari ada wanita yang masuk dan mencelakai abang?" Tanya Hana dengan wajah seperti bom yang siap meledak


"Wanita? Jadi ada seorang wanita yang masuk dan mencelakai abang saat abang mandi siang tadi?"


"Iyah bang" lirih Hana menunjukkan bross dan lipstik yang ditemukannya di kamar mandi. Hana terduduk dan memeluk kedua lututnya erat sambil menyembunyikan wajahnya yang kembali mengalirkan air mata. Vian segera beranjak dari ranjang dan duduk didepan istrinya


"Ada apa sayang? Kenapa menangis lagi"


"Abang tahu tidak, ada seorang wanita yang berniat mencelakakan abang. Wanita itu hampir saja membuat adek kehilangan abang dan menjanda selamanya. Bahkan wanita itu yang menjadi kedua setelah ibu abang, bukan adek hiks.. hiks.. " suara tangisan Hana terdengar pilu bagi siapapun yang mendengarnya. Vian meraih tubuh rapuh itu dan membawanya ke dalam ketenangan


"Hanya ibu dan kau wanita yang istimewa dihati abang. Biarlah wanita itu yang kedua, dia hanya sebentar menatapnya, tapi adek akan selamanya memilikinya" ucap Vian menenangkan Hana. Hana yang merasa nyaman dengan pelukan hangat suaminya mulai terlelap dalam dekapan hangat itu. Merasa tidak ada gerakan lagi dari istrinya, Vian mengangkat tubuh Hana ke atas ranjang dan ikut berbaring disampingnya

__ADS_1


"Hanya ibuku dan dirimu wanita yang terbaik dalam hidupku. Siapaun wanita yang mendekatiku, hanya namamu saja yang selalu indah dalam hatiku" batin Vian mengecup singkat bibir Hana dan memeluknya erat


Bersambung....


__ADS_2