Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 72. Satu Nama Dihati Sangat Prajurit


__ADS_3

"Telah terjadi kerusuhan di desa yang kalian tempati sekarang, segera siapkan senjata kalian dan segera lumpuhkan kelompok bersenjata yang menyerang desa" perintah komandan pada pasukannya yang telah berada di desa itu sejak beberapa hari yang lalu


"Siap komandan" balas Dika dan segera berlari ke camp mereka diikuti pasukannya


"Laila, telah terjadi penyerangan di desa ini, ikutilah kakak agar kau selamat" ucap Dafa mengenggam tangan Laila dan berlari membawa Laila ke tempat yang aman


"Terus pegang tangan kakak Laila" ucap Dafa meminta agar Laila terus memegang tangannya saat berlari ke dalam kerumunan warga desa yang melarikan diri setelah mendengar ledakan yang cukup keras dari arah kebun kopi mereka


"Evakuasi warga sekitar" perintah kapten


"Siap laksanakan" ucap para prajurit dan mulai mengevakuasi warga ke tempat yang aman dari serangan anggota bersenjata


"kak Dafa, bagaimana dengan bang pandu hiks..hiks.. " lirih Laila ketakutan


"Kau tenang saja Laila, kakak yakin Pandu akan baik-baik saja" ucap Dafa mencoba menenangkan Laila.


Dafa dan pasukannya terus membantu mengevakuasi warga, sedangkan pasukan piton dan cobra kini telah memasuki zona merah dimana para pemberontak telah terlihat


"Lemparkan granat kearah musuh"


"Siap" pada prajurit melemparkan granat dan kembali menembakkan peluru mereka kearah musuh yang bersembunyi di semak-semak


Dooor...


Door..


Door....


"Hantam"


Satu persatu musuh tumbang karena luka di kaki dan tangan mereka, namun jumlah mereka cukup banyak sehingga para prajurit mulai kewalahan menghadapi musuh, apalagi pasukan pembantu yang belum tiba di lokasi sampai sekarang


*************


"Hana, mengapa seolah aku dekat dengan nama itu, nama yang tidak asing dihatiku. Tapi siapakah wanita bernama Hana itu? Apakah dia memiliki hubungan denganku sebelumnya?" batin pandu bertanya-tanya.


Seketika kepala pandu kembali sakit saat mengingat wajah seorang wanita yang samar samar dikepalanya


"Aargghhh" ringis pandu menahan kepalanya yang terasa sangat sakit. Bayangkan seorang wanita samar-samar terus tergiang dikepalanya


"Abang" ucapan Hana tergiang dikepalanya pandu


"Iyah suamiku sayang"


"Adek merindukanmu abang"


"Siapa kau, mengapa kau terlihat samar-samar dipikiranku argghhh" ringis pandu mendengar suara seorang wanita yang tergiang dikepalanya. Pandu berusaha mengingat wajah wanita yang samar itu namun kepalanya semakin sakit setiap berusaha mengingatnya


"Abang cepat pulang yah"


"Makannya jangan buru-buru dong bang"


"Jangan tinggalin adek yah"

__ADS_1


"Kangen tidur dipeluk Abang" suara Hana kembali tergiang di kepala pandu


Pandu berusaha mengingat wajah wanita itu meskipun kepalanya yang semakin sakit


"Bantu aku ya Allah, tunjukkan wajah dari wanita yang samar-samar teringat di kepala hamba" ucap Pandu berusaha mengingat wajah wanita yang semakin terlihat jelas di kepalanya.


"Aaaaargghhhhhh" teriak pandu menahan sakit yang semakin menjadi di kepalanya. Wajah wanita itu perlahan mulai terlihat jelas dipikirkan pandu.


Setelah berusaha cukup keras mengingat semuanya, pandu berhasil mengingat wajah wanita yang samar-samar dikepalanya, bahkan wajah wanita itu tidak lagi samar di pikirannya


"Sayang, ini adek" ucap Hana tersenyum manis dipikirkan Pandu.


"Hana" lirih Pandu jatuh terbaring di tanah karena rasa sakit yang menyerang kepalanya


"Cepat pulang yah bang, adek akan selalu setia menunggu abang disni. Biarlahh doa adek yang menjaga abang disana. Jika abang kembali nanti, adek akan memeluk abang setiap saat. Cepat pulang prajuritku, hanya satu nama yang di hatiku" ucap Hana tersenyum dipikirkan Pandu. Pandu seketika membuka mata dan beranjak bangun


"Hanya namamu yang ada didalam hatiku Hana, satu nama dihati sang prajurit" ucap Pandu mantap


"Tunggu abang kembali sayang, abang akan segera pulang kedalam pelukanmu" ucap Pandu menghapus keringat di keningnya dan berlari membantu teman-temannya yang sedang melawan para pemberontak


***********


Hana memegangi dadanya merasakan detak jantungnya yang semakin kencang, seketika air matanya jatuh membasahi pipinya. Hana segera keluar kamar dan berlari sekenceng mungkin kedepan rumah.


"Abang, abang dimana, cepatlah pulang bang, adek merindukanmu" lirih Hana menatap foto pernikahannya yang terpampang jelas di dinding ruang keluarga.


Hana menghapus air matanya dan tersenyum manis pada putrinya yang memegang foto ayahnya ditangannya


"Bunda bummumum nini?" Tanya Viara menunjukan foto Vian pada Hana


Viara terus mendekap foto Vian di dadanya sambil terus tersenyum ceria pada ibunya


"Melihat wajah putri kita, aku merasa kau tengah tersenyum manis padaku bang. Wajahnya yang persis sepertimu mengingatkanku akan pelukan hangatmu dulu" gumam Hana membawa putrinya kedalam pelukannya


"Sekarang hanya putriku hartaku satu-satunya. Aku akan selalu menjaga dan merawatnya sepenuh hatiku" ucap Hana mencium putrinya yang merasa geli dengan sentuhan ibunya


*************


Dooor...


Dooor...


Dooor..


"Aargghhh"


"Gawat cobra, pasukan mereka semakin banyak, sangat sulit untuk menyerang mereka yang semakin bertambah"


"Tetap serang dan selalu waspada dengan setiap serangan"


"Lapor komandan, mengapa pasukan tambahan belum tiba di lokasi, jumlah para pemberontak semakin meningkat dengan jumlah prajurit kita yang hanya berjumlah sedikit. Sangat sulit untuk memberantas mereka" lapor piton melalui earpiecenya


"Pasukan tambahan sedang melakukan terjun payung sekarang dan sebentar lagi akan sampai di lokasi kalian"

__ADS_1


"Baik komandan" ujar piton kembali menembaki musuh


Door..


Door..


Door...


"Gawat, kita terkepung" ujar cobra


"Hahha, mau kemana lagi kalian. Kalian sudah masuk kedalam perangkat kami. Anak-anak cepat tekan remot kontrolnya dan ledakkan para prajurit menyebalkan ini"


"Baiklah" salah satu anggota yang memegang remot kontrol mengangkat tangannya keatas untuk menunjukan pada para prajurit jika dia akan segera menekan tombol di remot tersebut.


"Teman-teman, jika setelah ini masih ada yang selamat dari kalian. Tolong katakan pada istriku aku sangat mencintainya meskipun aku tingallah nama"


"Benar lettu, jika kita mati terpanggang disini, aku hanya ingin mengatakan jika aku senang dalam bekerja sama bersama kalian"


"Tiga.... "


"Dua.... "


"Satu.... "


Dooor......


Seseorang menembak tangan musuh tersebut hingga remot kontrol yang dipegangnya jatuh ketanah


Para pemberontak yang kehabisan peluru di senapan mereka segera berlari sebelum ditembaki para prajurit


"Pandu" ucap pada prajurit serentak saat melihat jika orang yang menembak tangan musuh tadi adalah pandu


"Siapa yang kalian panggil, apakah aku?"


"Iyah kau, siapa lagi" jawab Dafa


"Nama payah macam apa itu, aku adalah lettu Vian, si anaconda liar" ucap Vian tersenyum pada teman-temannya


"Vian" pada prajurit senang dan berlari memeluk Vian


"Eits tunggu dulu, sebelum memelukku, segera berantas para pemberontak itu"


"Hahha siap laksanakan" ucap para prajurit berlari mengejar para pemberontak yang melarikan diri di tengah hutan


Para prajurit tambahan pun telah sampai dan ikut membantu melumpuhkan para pemberontak hingga satu persatu dari mereka tumbang dan tewas ditempat.


Booom..


Door....


Door...


Dooor..

__ADS_1


Setelah memastikan para pemberontak telah berhasil dilumpuhkan, para prajurit segera kembali ke camp mereka untuk merayakan keberhasilan mereka


Bersambung......


__ADS_2