Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 43. Rencana


__ADS_3

Sementara Di rumah Bu Mira


"Assalamu'alaikum Bu" Ucap Dafa memasuki rumahnya


"Walaikumsalam nak" Balas Bu Mira dengan nafas tersengal-sengal


"Loh ibu, kok ibu letih seperti ini. Minumlah dulu Bu" Bu Mira meraih gelas yang disodorkan Dafa dan meneguknya sampai tandas


"Ada apa bu, dimana Asti?"


"Istrimu itu sejak pagi sudah tidak terlihat di rumah. Dia bahkan tidak tau caranya memasak dan membereskan rumah. Sudah berkali-kali ibu menegurnya, tapi kata-kata ibu tidak dia indahkan"


"Apa maksudmu bu? Asti adalah wanita yang rajin dan juga baik" sangkal Dafa


"Jika kau berpikir seperti itu, silahkan cek dapur dan periksalah kamar kalian"


Dafa menuju ke dapur dan alangkah terkejutnya ia melihat asap yang memenuhi penjuru dapur. Diatas kompor terdapat wajan dengan makanan yang gosong diatasnya, alat-alat memasak berhamburan dimeja dan lantai, serta air kotor di wastafel"


"Apa Asti yang melakukan ini bu?" Tanya Dafa


"Iyah nak, saat ibu ke dapur tadi, dapur ibu sudah berantakan dan asap memenuhi penjuru dapur"


"Apa Asti tidak membantu ibu mengurus rumah ini?" geram Dafa


"Benar nak. Ibu sudah lelah dengan tindakan istrimu itu"


"ASTI...... " Teriak Dafa


Asti yang tengah bermain ponsel dikamarnya langsung keluar mendengar teriakan suaminya


"Ada apa bang?"


"PLAK" tamparan keras berhasil mendarat di pipi Asti sehingga Asti memegangi pipinya


"Mengapa kau menghancurkan rumahku. Mengapa kau tidak membantu ibu mengurus rumah ini. Aku menikahimu agar kau dapat menjadi menantu yang baik untuk ibuku"


"Aku capek mengurus rumah ini bang. Kuku tanganku selalu saja patah saat nenek tua ini menyuruhku bekerja"


"DIAM... " Teriakan Dafa langsung membungkam Asti


"Apa begini caranya menjadi seorang istri"


"Aku lelah bang, ayahku selalu memperlakukan aku seperti ratu dirumahku. Ayahku bahkan melarangku jika aku menyentuh perabotan di rumah. Tapi ibumu selalu berusaha menjadikanku pembantu di rumah ini" Ucap Asti meneteskan air mata yang berhasil melunakkan Dafa


"Bukan itu maksud ibu Asti, sudah tugas seorang menantu untuk mengurus orang tua dan rumah suaminya"


"Aku tidak mau mendengarkan kalian" Ucap Asti berlari meninggalkan rumah


"Ibu sabar ya menghadapi istri Dafa"


"Ibu sudah lelah nak menghadapi sikap istrimu. Dia tidak pernah membantu ibu bekerja, dia hanya merepotkan ibu saja. jika Hana lah yang menjadi menantuku, ibu sudah bahagia sekarang" Ucap Bu Mira berlalu ke dapur


Dafa tersenyum kecut melihat kekacauan di rumahnya, dan saat memasuki kamar mereka, amarah kembali menguasai Dafa karena kamar mereka yang begitu berantakan


"Astaghfirullah Asti, setidaknya rawatlah kamar ini dengan baik"


Asti yang pertama kalinya dibentak suaminya merasa sangat marah pada ibu mertuanya


"Dasar nenek tua, kerjanya cuman tau memerintah dan marah-marah saja. Tidak bisakah dia menyewa pembantu di rumah, tanganku lecet setiap kali dia menyuruhku bekerja" geram Asti


"Tunggulah ibu mertua, akan ku balas perlakuanmu padaku hari ini" geram Asti mulai mencari cara untuk mencelakakan ibu mertuanya


********


"Abang... " Ucap Hana meloncat ke pelukan Vian


"Adek kenapa belum tidur"

__ADS_1


"Adek menunggu abang kembali"


"Abang sudah kembali, ayo tidur"


"Abang kapan berangkat bertugas"


"Satu minggu lagi sayang, adek masih punya waktu satu minggu lagi dengan abang. Apa adek ingin ke suatu tempat?" Tanya Vian


"Abang, apa istri prajurit nggak boleh ikut suaminya bertugas ya"


"Jelas sayang, takutnya nanti istri prajurit malah ngrepotin suaminya saat bertugas hahaha" Ucap Vian mencubit hidung Hana


"Abang kok ketawa sih"


"Abang bayangin bagaimana repotnya para prajurit jika membawa istri mereka bertugas"


"Hehe Iyah juga ya" cengir Hana


"Adek pengen sesuatu sama abang"


"Apa itu dek" Ucap Vian tersenyum nakal


"Malam ini abang harus tidur memeluk adek sampai pagi"


"Yah itu aja"


"Iyah sayangku"


"Yaudah deh, daripada nggak menyentuh istri sama sekali" Vian tersenyum dan mulai memeluk Hana erat. Setelah Hana tertidur, Vian yang sudah tidak tahan dengan istrinya ingin sekali mengeluarkan hasratnya. Tapi dia berusaha menahan diri dan mengurungkan niatnya


"Aku akan melakukannya disaat kamu telah siap istriku" gumam Vian membelai lembut rambut Hana


"Abang...." Gumam Hana yang terganggu


"Iyah dek ada apa... "


"Terimakasih sayang, aku mencintaimu" Ucap Hana mengigau dalam tidurnya.


Vian yang mendengar ngigauan istrinya menahan tawa dan ikut terlelap disampingnya


"Aku juga mencintaimu sayang"....


***********


"Abang pergi dinas dulu ya sayang"


"Iya bang, adek izin ya bang sebentar adek pengen ngunjungin restoran"


"Yaudah sayang hati-hati dijalan ya"


"Iya abang juga jaga diri baik-baik. I love you abang"


"Love you too sayang, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam"


Setelah Vian pergi, Hana mengunci pintu dan mengeluarkan motor matic nya


"Hana" Ucap Sisil yang baru saja datang


"Ehh kamu, bikin kaget aja" Ucap Hana mengelus dadanya


"Hehehe, aku ikut ya"


"Sudah izin sama bang Raka?"


"Iyah sudah"

__ADS_1


"Yaudah pegangan yang kuat, kita akan menuju kemenangan"


"Siap komandan" Sisil memegang pinggang Hana yang mulai melajukan motornya. Sementara dibalik pohon, Asti tersenyum licik melihat Hana dan Sisil yang bepergian bersama


"Kena kalian, sudah saatnya kalian mendapatkan balasannya" Ucap Asti dan mulai menekan tombol ponselnya


"Halo"


(..........)


"Jalankan misi, terget sudah baru saja keluar. Ikuti mereka dan perlakukan mereka sesuai perintahku"


(.......)


"Baiklah" Asti menutup sambungan dan memainkan ponselnya


"Sekarang kalian tidak akan lagi menggangguku rencanaku hihihi"


Setibanya Hana di restoran


"Nih ponsel mu" Ucap Mia menyerahkan ponsel pada Sisil


"Alhamdulillah Mia, terimakasih" ucap Sisil berbinar bahagia


"Sama-sama Sayang"


"Tapi kenapa ponselku bisa ada padamu?"


"Kemarin malam saat kau datang untuk memesan makanan, kau melupakan ponselmu diatas meja. Untung ponsel ini milikmu, kalau tidak sudah ku buang ke jalanan"


"Jangan gitu dong, ini ponsel penting tau"


"Tenang, aku hanya bercanda" Ujar Mia


"Sisil, apa bukti keracunan makanan yang kemarin masih ada di ponselmu?" Tanya Hana.


"Sebentar ya Aku cek dulu"


"Emang ada apa Hana, siapa yang keracunan?" Tanya Mia bingung


"2 hari yang lalu, para prajurit mengalami keracunan makanan saat syukuran di halaman batalyon"


"Astaghfirullah, lalu Bagaimana kondisi pada prajurit? Apa bang Dika juga keracunan?" Tanya Mia cemas


"Tidak Mia, bang Dika nggak kenapa-napa karena saat itu, bang Dika sama sekali belum menyentuh makanan itu karena baru saja pulang patroli"


"Alhamdulillah" Mia bernafas lega


"Buktinya masih ada Hana, silahkan lihat ini" Ucap Sisil dan mulai memutar video rekaman di ponselnya


Mia dan Hana membulatkan matanya sempurna, ternyata ucapan Sisil benar jika dalang dibalik keracunan itu adalah Asti. Mia yang kesal langsung mengrebek meja sehingga sebagian pengujung terserak kaget


Bruk.....


"Dia itu memang wanita licik. Ingin sekali aku cincang tubuhnya dan ku tambahkan sebagai menu masakanku" geram Mia mendapat tatapan aneh dari para pengunjung


"Benar Mia, aku ingin sekali membalasnya"


"Jangan berbuat yang tidak tidak sobat. Kita akan merencanakan serangan balasan yang mutlak dan rapi"


"Bagaimana caranya?" Tanya Mia dan Sisil serentak. Hana mendekati keduanya dan membisikkan sesuatu. Setelah membisikan rencananya, Hana dan kedua temannya tersenyum licik


"Bagaimana kalian setuju?"


"Setuju"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2