
Pagi ini, Vian dan beberapa anggotanya pergi menyusuri desa warga dan ikut berbaur dengan warga sekitar. Para anggota juga membantu warga yang membersihkan halaman dan membangun sebuah masjid, sedangkan Vian dan dan beberapa rekan tengah berbincang dengan kepala desa
"Selamat datang di desa kami, semoga kalian senang dan betah disini ya" Ucap kepala desa
"Tentu saja pak, desa anda memiliki Penduduk yang sangat ramah dan gemar membantu sesamanya"
"Benar sekali pak, itulah alasan saya bangga memimpin desa ini. Mari saya akan tunjukan desa kami" ucap kepala desa dan mulai memperkenalkan bangunan dan adat istiadat yang ada di desanya
Dari arah berlawanan, terlihat seorang gadis manis yang berjalan mendekati mereka
"Ayah" Panggil gadis tersebut berjalan mendekati kepala desa dan para prajurit. Namun gadis itu tak menyadari dari atas kepalanya terdapat batang kayu yang akan menimpanya
"Awaaass" Teriak Vian dan berlari menyelamatkan gadis itu
Bugh...
Vian jatuh dan terguling-guling ditanah sambil memeluk gadis itu. Kepala desa yang panik sigap mendekati keduanya diikuti prajurit dibelakangnya
"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya kepala desa memeluk putrinya yang ketakutan
"Ayah hiks. hiks..."
"Tenanglah nak" kepala desa melepaskan pelukan putrinya dan mendekati Dika yang membantu Vian berdiri
"Bagaimana kondisimu pak. Terimakasih sudah menolong putri saya"
"sama-sama tuan "Balas Vian sambil memegangi kakinya
"Sepertinya kamimu terkilir Vian" Ucap Dika
"Kalau begitu kalian istirahatlah dirumahku, kebetulan jarak rumahku tidak jauh dari sini"
__ADS_1
"Baik pak" Dika membantu Vian untuk berjalan sedangkan anggota yang lain ikut bergabung membantu pembangunan Masjid
Setelah tiba dirumah kepala desa, Dika membantu Vian untuk duduk di sofa meluruskan kedua kalinya. Dari arah belakang muncul gadis tadi yang membawa 3 cankir kopi
"Perkenalkan, ini putri saya pak namanya marwa. Dia putri semata wayang saya" Ucap Pak Darman
Marwa tersenyum kearah lelaki yang telah menolongnya tadi
"Terimakasih kak karena telah menolong saya tadi" Marwa tersenyum dan tertunduk malu-malu
"Sama-sama Marwa, ini sudah menjadi tugas kami juga"
"Apa saya boleh memijat kakimu yang terkilir kak?" Tanya Marwa dan langsung mendapat tatapan tajam dari Dika
"Benar sekali pak, izinkan putri saya memijat kaki anda sebagai bentuk terimakasih karena telah menolongnya tadi"
"Baiklah" Ucap Vian langsung membuat senyum marwa merekah. Marwa segera mengambil minyak pijit dan mulai memijat kaki Vian dengan lembut
30 menit kemudian, Marwa menyudahi pijatan nya dan tersenyum manis pada Vian
"Sudah selesai kak, coba digerakkan kakinya" Vian mengangguk dan langsung berdiri dari tempat duduknya, Vian mulai menggerakkan kakinya dan benar saja kakinya telah pulih seperti semula
"Terimakasih" Ucap Vian dan diangguki marwa yang tersenyum malu-malu
Vian dan Dika berpamitan pulang ke barak yang berjarak 500 meter dari rumah pak Darman. Pak Darman mengangguk dan mempersilahkan kedua tamunya untuk pulang
"Hei Vian, aku merasa ada yang aneh pada gadis tadi"
"Sepertinya dia gadis yang baik"
"Kalau sampai Hana melihatmu dengan suka rela menerima tawaran gadis tadi, maka dia akan menerkammu ditempat"
__ADS_1
"Haha, kau memang benar Dika, terkadang aku kewalahan menghadapi sikap cemburuan istriku"
Vian dan Dika mengobrol sepanjang jalan mengenai setiap bangunan yang mereka lewati.
Keesokan harinya di rumah pak Darman
"Ayah, Hari ini Marwa bersama warga desa yang lain akan berbelanja di pasar dekat perbatasan ayah"
"Yaudah nak, ayah akan meminta pak Tentara untuk mengantarmu dan warga desa kesana. Jalan sedang rusak menuju kesana, mungkin mereka juga bisa membantu kalian" marwa hanya mengangguk menuruti ayahnya sambil tersenyum
******
"Pak tentara, bisakah kalian menemani putriku dan warga lainnya yang akan kepasar di dekat perbatasan"
"Baiklah, saya akan mengajak rekan saya yang lain" Balas Dika. Dika masuk dan mulai berunding dengan anggota yang lain, dan telah diputuskan jika Dika, Raka, dan Vian yang berangkat
Para warga senang bisa diantar oleh tentara, mereka bisa leluasa bercengkrama dengan para Tentara yang selama ini hanya mereka dengar namanya. Sementara Marwa hanya diam menatap salah satu tentara disana. Tak terasa senyum tipis muncul di sudut bibirnya saat tanpa sengaja bertatapan dengan tentara itu
"Lebih baik kita menunggu warga di warung kopi itu" ucap Dika
"Lettu Vian, apakah pasar ini aman dan terkendali" tanya Raka
"Tentu saja, komandan telah memerintahkan sebagian pasukan untuk berjaga diarea pasar dan juga di perbatasan" balas Vian sambil menyeruput kopinya
Terlihat sebagian warga telah kembali dan mulai menaikkan berlanjaan mereka diatas pickup.Dika dan Raka membantu para warga untuk menaikkan barang, sedangkan Vian berjalan mendekati Marwa yang kesulitan membawa kantung belanjaannya
"Sini saya bantu bawakan. Kamu tunggu saja disana bersama ibu-ibu yang lain" tunjuk Vian pada ibu-ibu yang tengah mengobrol menunggu hasil belanjaan mereka naik keatas pick up
"Baiklah terimakasih" Marwa tersenyum dan bergabung dengan ibu-ibu yang tengah mengobrol. Marwa tidak menanggapi ucapan ibu-ibu yang tengah bercengkrama, dia justu sibuk mengamati punggung Vian yang tengah menaikkan barang-barang
"Lelaki yang baik" gumam Marwa tersenyum
__ADS_1
Bersambung.....