Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 83. Diculik


__ADS_3

"Nak, berapa lama lagi Vian akan pulang?" Tanya Bu lula yang membantu Hana memasak di dapur


"3 hari lagi Bu" balas Hana sambil memotong sayur


"Ibu, boleh nggak kalau Hana tanya sesuatu tentang masa lalu bang Vian sama ibu"


"Boleh dong sayang, mau tanya apa sama ibu?" Tanya Bu lula menatap menantunya


"Dulu sebelum Hana menikah dengan bang Vian, bang Vian pernah mencintai wanita lain yang bernama Asti. Bisaka ibu ceritakan kisahnya pada Hana?" Bu lula tersenyum dan mulai menceritakan tentang masa lalu putranya


"Dulu Vian dan Asti adalah sepasang kekasih, mereka sangatlah dekat. Bahkan berkali-kali Vian mengajak Asti untuk main di rumah, namun ada sedikit sifat Asti yang tidak ibu sukai. Saat itu Vian berencana untuk melamar Asti, namun ayahnya Asti menolak memberi restu karena kami adalah orang miskin. Kami tidak akan bisa membahagiakan putrinya jika tanpa adanya harta. Semenjak menerima penghinaan itu, Vian terus berusaha untuk mewujudkan cita-citanya. Dia berpisah dengan ibu selama bertahun-tahun demi meraih cita-citanya dan belajar di Akademi Militer. Ibu sangatlah bersyukur karena anak ibu bisa menaikan derajat orang tuanya. Semenjak saat itu, kami tidak lagi dipandang rendah oleh warga desa. Vian juga bercerita jika dia sudah sukses, maka dia akan melamar gadis yang dicintainya. Namun gadis itu menolak untuk menerima Vian kembali. Saat itu putraku sangatlah hancur. Karena terpukul dan sakit hati, putraku melakukan hal yang nekat sehingga dia mengalami kecelakaan. Namun dari kecelakaan itu, dia menemukan seorang wanita. Vian bercerita pada ibu jika wanita itu adalah malaikat untuknya. Wanita itu kembai membawa cahaya untuk kehidupan putraku sehingga putraku kembali membuka hati dan mencintainya dengan sepenuh hati. Wanita yang memberikan hidup pada putraku saat dia akan mati. Dan wanita itu adalah kau sayang, ibu sangatlah beruntung memiliki menantu sebaik dirimu. Teruslah cintai Vian dengan sepenuh hati, karena ibu yakin bahagianya putra ibu hanya ada padamu sayang, selamanya hanya namamu yang ada di hatinya "


Hana yang mendengar cerita ibu mertuanya menjatuhkan air mata dan menghambur memeluk wanita hebat di depannya


"Iyah bu, Hana janji akan terus mencintai putra ibu dengan sepenuh hati. Hana akan berusaha membahagiakan putra ibu yang juga menjadi hidup hana sekarang. Terimakasih telah melahirkan pria sebaik Vian untuk Hana. Terimakasih telah menerima Hana menjadi menantu ibu dengan sepenuh hati. Hana janji akan terus berusaha membahagiakan keluarga kecil kami"


"Iyah sayang, ibu percaya padamu" ujar Bu lula membalas pelukan Hana dan menghapus air mata di pipi menantunya


"Sekarang kita lanjut masak yuk"


"Ayo Bu" ujar Hana dan mulai melanjutkan pekerjaan mereka di dapur.


"Ibu, sepertinya persediaan bahan makanan untuk besok sudah habis. Hana ke pasar dulu yah Bu"


"Biar ibu saja sayang"


"Nggak usah Bu, lebih baik ibu di rumah saja sambil jagain Viara. Hana pamit ya Bu, assalamu'alaikum" ucap Hana menyalami tangan Bu lula


"Walaikumsalam, Hati-hati nak" Hana tersenyum dan mulai menaiki taksi online pesanannya.


Setibanya di pasar, Hana mulai berkeliling sambil membeli keperluan dapur untuk beberapa hari kedepan


"Telur sudah, daging ayam sudah, beras sudah diantar ke rumah, sayur-sayuran segar sudah, buah-buahan sudah, seafood udah, bumbu dapur juga sudah. Alhamdulillah semuanya sudah dibeli dan akan diantarkan ke rumah" ucap Hana senang.

__ADS_1


"Aku akan membeli mainan untuk putriku, pasti Viara suka nanti" gumam Hana dan berjalan menuju toko mainan langanannya. Setelah selesai membeli mainan untuk putrinya, Hana tengah berdiri di pinggir toko sambil menunggu taksi online pesannya datang.


Hana yang tengah memperbaiki letak mainan putrinya di dalam kantung belanjaannya tak menyadari ada mobil yang berhenti di dekatnya dan langsung menghadangnya


"Siapa kalian" tegas hana


"Kau tidak perlu tahu siapa kami nona"


Bugh...


Salah satu preman memukul punggung Hana dengan kayu sehingga Hana kehilangan kesadarannya


"Bagus, target berhasil ditemukan. Segera bawa dia dan ikuti perintah bos"


"Baik" Orang-orang itu memasukan Hana didalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan lokasi


***************


Hana yang mulai sadar perlahan-lahan membuka mata dan merasakan sakit yang hebat di punggungnya


"Ahh sial, aku kesulitan bergerak" batin Hana berusaha melepaskan tubuhnya dari lilitan tali, namun semakin berusaha untuk melepaskan diri semakin erat tapi itu melilitnya


"Hahhaha, aku suka melihatmu menderita nona" ucap salah satu preman yang baru masuk kedalam ruangan diikuti 2 anak buahnya. Hana tertegun menatap wajah orang itu. Berandalan yang pernah dihajarnya sewaktu berusaha melukai suaminya setahun yang lalu


"Mengapa kau menatapku seperti itu, apa kau mengenaliku nona?" tanya berandalan itu menyeringai


"Tentu saja kau pasti mengingatku. Aku adalah ketua berandalan yang pernah kau penjarakan setahun yang lalu. Sudah saatnya aku membalas tindakanmu itu"


"Hahha tenang dulu nona, aku bukanlah ketua dari beberapa orang berbadan kekar di belakangku, tapi ketua kami jauh lebih kejam dari ku"


Tak berselang lama, pintu pun terbuka menampakkan seorang lelaki paruh baya yang berjalan sambil menatap Hana dengan tatapan tajam


"Siapa lagi bapak-bapak ini?" batin Hana membalas tatapan tajam pria itu

__ADS_1


"Tuan, ini dia gadis yang kau minta" ucap berandalan itu pada pria parubaya yang tak lain adalah pak Romi (Ayahnya Asti).


Prok.. Prok.. Prok...


"Kalian memang anak buah yang hebat, terimakasih karena telah membawakan ku musuh bebuyutan putriku. Musuh putriku maka akan menjadi musuhku juga"


"Apa dia ayahnya Asti?" Batin Hana berselidik


"Kau tahu, karena ulahmu putriku menderita. Karena kau putriku kehilangan cinta pertamanya. Dan juga karena kau, putriku mengalami gangguan kejiwaan" Tegas Pak Romi menatap tajam mata Hana. Pak Romi semakin geram karena melihat wajah Hana tanpa ada rasa takut sedikitpun


"Mengapa kau tidak takut sedikitpun, pasti kau bahagia karena Menghancurkan hidup putriku kan" kesal pak Romi mencengkram kuat dagu Hana.


Pak Romi semakin kesal karena Hana kembali tak memberikan tanggapan apapun padanya


"Kau" pak Romi yang telah naik pitam langsung menampar keras pipi Hana hingga hidung Hana mengeluarkan darah


"Kau akan merasakan akibatnya karena berani menghancurkan hidup putriku. Anak-anak, bermainlah dengannya, aku ingin melihat wajah menderitanya"


Hana merasa cemas saat mendengar ucapan pak Romi. Hana ketakutan saat melihat wajah ketiga preman dibelakang pak Romi yang menyeringai kejam sambil berjalan kearahnya


"Bermain-mainlah dengannya, paksa dia agar dia dengan suka rela membuka kakinya untuk kalian dan habisi dia hingga dia mati secara perlahan-lahan" perintah Pak Romi diangguki anak buahnya.


"Hhemmhmmmm" ucap Hana menggeleng-gelengkan kepalanya pada orang-orang yang berjalan mendekatinya. Pak Romi tertawa terbahak-bahak melihat wajah ketakutan Hana


"Hahahha,kalian Cepatlah, aku sudah tidak sabar melihat wajah menderita wanita ini" para preman mempercepat langkah mereka mendengar ucapan ketua mereka


Hana terus meronta-tonta karena ketakutan yang menguasai tubuhnya


"Kumohon jangan" ucap Hana tidak terdengar jelas karena mulutnya yang ditutupi lakban


"Ya Allah, jika aku harus berakhir disini, Aku iklas ya Allah. Tapi kumohon jagalah suami dan juga putriku. Semoga mereka selalu bahagia meskipun tanpa ada aku disisi mereka. Katakan padanya aku sangat mencintainya ya Allah, bahkan kematian pun tak akan mengubah besarnya rasa cintaku untuknya" batin Hana mengingat wajah kedua anggota keluarganya dan mulai menjatuhkan air matanya


"Selamanya, kalian akan ada di hatiku"

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2