Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 90. Kebahagiaanku Tercipta Setelah Aku Menemukanmu


__ADS_3

Setelah menjabat sebagai komandan kompi, tentu tugas dan tanggung jawab Vian semakin bertambah. Namun Vian selalu bersemangat melakukan tugas dan tanggung jawabnya karena sang istri selalu ada dan mendukungnya sepenuh hati. Seperti saat ini,Hana juga ikut membantu suaminya dalam acara bakti sosial pada korban bencana banjir di desa sebelah


"Adek masih kuat?"


"Siap kuat bang" jawab Hana antusias


"Jika adek lelah, beritahu abang yah" ucap Vian yang diangguki Hana sambil tersenyum


Hana dan teman-temannya mulai membagikan sembako pada warga yang terdampak bencana di tempat pengungsian. Meskipun sembako yang mereka pilih untuk dibagikan kepada para pengungsi mendapat berbagai penolakan dari ibu-ibu persit lainnya, namun itu tidak mampu menghilangkan semangat Hana untuk membantu para pengungsi yang membutuhkan


"Terimakasih bu Danki" ucap anak kecil


"Sama-sama sayang, sembakonya dikasih sama ibunya yah"


"Iyah bu" ucap anak itu tersenyum dan berjalan kearah ibunya


"Bu Danki, saya ikut bahagia melihat tawa anak-anak ini"


"Iyah bu, saya juga bahagia bisa membantu dan memberikan senyuman pada anak-anak korban bencana ini"


"Ijin Bu, tapi ada beberapa ibu-ibu yang berbisik-bisik tentang anda di belakang" Ujar Bu Rima sedikit berbisik


"Tidak apa-apa ibu-ibu, perbedaan pendapat memang wajar. Tapi apa yang kita lakukan sekarang sudah sesuai dengan intruksi dari Bu Danyon" jelas Hana


"Iyah Bu, tidak usah dipikirkan, ayo kita lanjutkan lagi pekerjaan kita" ucap Bu Iwan mengajak teman-temannya untuk kembali membagikan sembako.


Komandan dan Bu Danyon yang tengah memantau proses pembagian sembako tersenyum senang melihat anggota yang dipimpin Hana sangat bersemangat dan mendapatkan kesan yang baik dari para pengungsi. Hana dan Bu Iwan kini tengah duduk melingkar diatas tenda yang dibentangkan diatas tanah dan mulai bermain bersama anak-anak korban bencana.


"Ayo anak-anak, begini cara mainnya yah" seru Hana menujukan tata cara bermain pada anak-anak. Mereka duduk sambil berpegangan tangan dan mulai bernyanyi hingga suara tawa dan keriuhan mereka terdengar.

__ADS_1


Melihat tawa anak-anak itu, semua orang ikut bahagia,dan korban pengungsi berpikir masih ada orang baik yang peduli dan menghapus air mata mereka. Para orang tua yang melihat tawa anak-anak mereka ikut terharu pada dua wanita baik yang memberikan senyuman tawa bahagia pada anak-anak mereka.


Vian yang juga berdiri disamping komandan batalyon ikut bahagia melihat tindakan istrinya yang menghibur anak-anak disana


"Saya rasa, kehadiran Bu Danki sangat mudah diterima oleh ibu-ibu persit lainnya dan juga masyarakat banyak" ujar Danyon


"Iyah benar pah, Bu Danki yang sekarang juga sangat mudah untuk menyingkirkan perilaku dan tingkah ibu-ibu persit yang kurang baik. Ibu bangga memiliki anggota yang dapat dijadikan teladan seperti Bu Hana" balas Bu Danyon pada suaminya


Vian yang mendengar ucapan dua orang disampingnya tak henti-hentinya mengembangkan senyumannya pada Hana. Saat berjalan mendekati teman-temannya, Vian menghentikan langkahnya karena seseorang menarik tangannya


"Vian, ini kau kan nak?" ucap wanita paruh baya itu memeluk Vian. Vian melepaskan pelukan orang yang pernah menghinanya dulu


"Ada apa bu?" tanya Vian pada ibu dari mantan kekasihnya dulu


"Kau masih mencintai putriku bukan?" Vian hanya terdiam mendengar ucapan wanita itu


"Maafkan aku karena aku hanya diam saat ayahnya menolakmu ketika kau melamar putriku dulu. Sekarang aku merestui hubungan kalian dan aku menyetujui kalian untuk menikah. Aku yang akan mengurus semua biaya pernikahan kalian" ucap wanita itu senang dan menarik tangan Vian untuk mendekati Asti.


Vian menarik tangannya dari gengaman wanita itu sehingga wanita itu menghentikan langkahnya dan menatap mata Vian


"Maafkan aku bu, aku tidak bisa memenuhi permintanmu untuk menikahi putrimu" jawab Vian tegas


"Tapi kenapa nak, bukannya kau sangat mencintai putriku. Jika kau tidak mau menikahi putriku karena dia gangguan mental, kau tenang saja. Dengan kasih sayang dan perawatan yang baik maka putriku akan kembali seperti dulu. Kumohon nikahilah putriku. Aku yang akan mengurus semua biaya pernikahan kalian " pinta wanita itu mengatupkan tangannya


"Kau tidak perlu melakukan semua itu bu" jawab Vian


"Apa maksudmu?" tanya wanita kebingungan.


"Kau lihat wanita itu, wanita yang sedang bermain bersama anak-anak disana" wanita itu mengikuti arah tunjuk Vian

__ADS_1


"Dia adalah istriku" bagai disambar petir, wanita itu terdiam dan mematung ditempat


"Saat aku akan melamar putrimu, kau hanya diam saat suamimu menolakku dan merendahkanku. kau juga sering merendahkan kedua orang tuaku di desa karena kami adalah orang miskin. setelah aku menjadi tentara, aku kembali melamar putrimu, namun putrimu kembali menolak menikah denganku karena perkataan orang tuanya yang berhasil mencuci otaknya. Semua itu tidak mengapa sekarang, karena aku telah menemukan seorang wanita yang layak aku titipkan cintaku ini padanya. Wanita itu jauh lebih baik dari putrimu, lalu dimanakah alasanku untuk menikahi putrimu sedangkan aku telah memiliki wanita sebaik istriku, bahkan kami telah memiliki anak" tegas Vian membuat wanita di depannya meneteskan air mata


"Tapi nak"


"Sebaiknya jangan pernah kau muncul dihadapanku lagi, aku tidak akan pernah mencintai putrimu lagi. Cintaku telah mati untuknya jadi jangan pernah berharap jika aku akan menikahinya lagi. Restumu sudah tidak kuperlukan" ucap Vian segera berlalu meninggalkan ibunya Asti yang mematung di tempat.


Asti yang mendengar ucapan pedas Vian meneteskan air mata dan mulai menabrakkan kepalanya ke dinding.


"Jangan seperti ini nak, janganlah menangis. Masih ada ibu disini" ucap Bu Dara memeluk putrinya


"ibu, kembalikan Vian padaku hiks... hiks.. Aku mencintainya Bu, aku tidak akan sanggup jika hidup tanpanya" lirih Asti menangis dipelukan ibunya


"maafkan ibu nak, ibu tak bisa mengembalikan Vian padamu. mungkin inilah balasan untuk kita setelah kita merendahkan Vian dan keluarganya dulu"


____________________


"Adek capek nggak?" Tanya Vian pada istrinya yang berboncengan bersamanya


"Adek sedikit lelah bang, tapi adek senang bermain dengan anak-anak tadi" ucap Hana merangkul pinggang Vian yang tengah menjalankan motornya


"Benarkah?"


"Iyah sayang, abang tau tidak..." seru Hana mulai menceritakan kebersamaannya bersama anak-anak tadi. Vian terus tersenyum mendengar cerita Hana yang begitu antusias dibelakangnya


"Ditengah awan mendung, kau datang memberikan mentari untukku, ditengah dinginnya malam, kau datang dan memelukku erat. Ditengah rapuh dan patahnya hatiku, kau datang memberiku cinta dan kasih sayang. lalu Bagaimana aku bisa menemukan cinta yang lain sedangkan semua kebahagiaan telah kudapatkan darimu. Aku bersyukur kamulah yang menjadi pendamping hidupku. Aku akhirnya tau bahwa sekarang cintaku telah berlabuh di tempat yang tepat. Aku bahagia menyadari jika kamu adalah tempat cintaku untuk pulang. Akan ku lindungi wanitaku selamanya karena hanya satu nama dihatiku selamanya yaitu namamu Hana Mutya Rahmatika"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2