
Pagi ini tepat pukul 5.30, Vian dan beberapa anggota berolahraga mengelilingi lapangan 10 kali putaran
"Haduh capeknya" Ucap Dika mengontrol nafasnya
"Parah lu dik, baru aja 10 putaran udah lemas aja"
"Hehe aku nggak makan semalam, jadi hari ini tak bertenaga" Jawab Dika
"Yaudah istirahat dulu yuk" ajak Vian
"Ehh Vian, bagaimana dengan gadis yang kau antar pulang kemarin?"
"Iyah dik, aku juga heran dengan Dafa, dia telah Berubah180 derajat dari Dafa yang kukenal dulu"
"Berubah bagaimana maksudnya"
"Kemarin dia pergi meninggalkan Hana sendirian didepan markas, saat aku bertanya pada hana, dia pulang dengan berjalan kaki karena hanya ponsel yang ada ditangannya, dia tak membawa uang sepeserpun"
"Ohh nama Gadis itu Hana ya"
"Benar Dika, dalam perjalanan mengantar Hana pulang, aku melihat Dafa membonceng seorang wanita dari arah berlawanan" Ucap Vian mulai geram
"Kurang ajar kau Dafa, dia meninggalkan wanita yang setia menunggunya sendirian di depan Batalyon sementara dia pergi mengantar gadis lain" Geram Dika
"Udah Dika, mending kita pulang dan cari sarapan yuk"
"Ayo" Dika Dan Vian pamit pulang untuk mandi karena tubuh yang lengket dan berkeringat setelah berolahraga pagi
Setelah siap untuk pergi, ponsel Vian bergetar. Saat Vian mengecek ponselnya, tertera nama Dika yang mengubunginya
"Halo Vian, maaf ya sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan bersamamu pagi ini"
"Loh, ada apa dik?"
"Aku terpeleset di toilet nih, pahaku rasanya sakit sekali, tolong beliin sarapan untukku yah"
__ADS_1
"Baiklah, tetaplah di rumah dan jangan kemana-mana"
Vian mematikan sambungan secara sepihak dan mulai melajukan motornya mencari restoran untuk sarapan pagi. Ditengah perjalanan mencari restoran, Vian mengamati seorang gadis di pinggir jalan yang sepertinya sedang menunggu ojek online pesanannya. Vian tersenyum dan mendekati gadis itu
"Asti" Ucap Vian masih memakai helm
"Maaf anda siapa ya, kok tau nama saya" Tanya Asti bingung. Vian membuka helm dan memperbaiki rambutnya, seketika Asti tertegun melihat Kekasihnya dulu
"Vian, apa yang kau lakukan disini"
"Aku bertugas disini Asti"
"Tunggu, apa kau tentara?" Tanya Asti yang melihat Vian mengenakan celana loreng
"Tentu saja Asti, sekarang aku telah menjadi tentara dan sukses, jadi.. " Vian merogoh sakunya dan berlutut dihadapan Asti
"Apakah kau bersedia menikah denganku" Ucap Vian menyodorkan kotak berisi Cincin
"Tapi aku tidak bisa menikahimu" Ucap Asti seperti sambaran petir bagi Vian
"Apa maksudmu Asti, kau bilang kau bersedia menungguku dan kita akan menikah setelah aku sukses"
Flashback On
5 tahun yang lalu, Vian dan Asti berpacaran cukup lama semenjak mereka kelas 10 SMA. Vian ingin mengajak Asti ke jenjang pernikahan agar tak menimbulkan dosa dan juga Fitnah
Hari ini, Asti dengan bahagia menunggu Vian di depan rumahnya karena Vian akan melamarnya didepan kedua orang tuanya. Tak berselang lama orang yang ditunggu Asti telah datang dengan senyuman manisnya
"Akhirnya kakak datang juga" Ucap Asti memeluk Vian
"Jelas dong kakak datang, ini demi calon istri kakak"
"Haha makasih sayang"
"Apa kau sudah siap Asti?"
__ADS_1
"Siap kak, ayo kita temui orang tuaku didalam" Vian tersenyum dan mulai mengikuti langkah Asti yang mengandeng tangannya
"Paman, maksud kedatangan saya kesini ingin mengajak Asti ke jenjang pernikahan. Apakah paman setuju jika saya memperistri Putri Anda" Ucap Vian serius
"Emangnya kamu bisa kasih makan anak saya jika saya menikahkan putriku denganmu" Ucap Ayah Asti bagaikan sambaran petir di siang bolong
"Apa maksdunya ayah, Asti dan kak Vian saling mencintai. Bahkan kak Vian mengajak Asti ke jenjang yang baik Ayah"
"Diam kau Asti, apakah hidupmu terjamin jika menikah dengan pria ini. Pria miskin yang hanya tinggal di rumah yang bahkan hampir menyerupai gubuk. Dia belum tentu bisa menafkahimu lahir dan batin"
"Tapi paman, saya punya beberapa lahan sawah, saya pasti bisa menghidupi Putri anda"
"Enak sekali bicaramu, kaun pikir aku sudi mengizinkan putriku untuk ikut membantumu di sawah, jangan harapkan itu. Lebih baik kau pergi karena aku akan mencari lelaki yang lebih untuk putriku"
Vian yang masih memiliki harga diri pergi meninggalkan rumah Asti dengan rahang mengeras
"Kak Vian, tunggu" Ucap Asti berlari mengejar Vian namun dicegah oleh ayahnya
"Mau kemana kamu"
"Lepaskan tanganku Ayah, jika kau masih mencegahku, maka aku tak akan menganggapmu ayahku lagi" Kesal Asti menarik tangannya dan berlari menyusul Vian. Asti memeluk Tubuh vian yang bergetar menahan amarah
"Maafkan aku kak, maafkan Ayahku"
"Ayahmu tidak salah Asti, memang ayahmu benar jika aku hanyalah pria miskin, aku pergi dari rumahmu karena aku masih punya harga diri"
"Aku mengerti kakak, tolong maafkan aku"
"Tidak apa-apa Asti, tenanglah" Ucap Vian mengelus lembut punggung Asti
"Aku berjanji aku akan menunggumu kak, jadilah orang sukses agar ayahku menerimamu dan merestui hubungan kita dengan lapang dada. Selama kau berusaha, aku akan selalu menunggumu"
"Benarkah Asti, kau bersedia menungguku"
"Benar kak, demi cinta kita aku akan menunggumu" Vian dan Asti saling berpelukan menunjukan betapa besar cinta keduanya. Sejak saat itu Vian menjual beberapa hektar sawah milik keluarganya untuk mergabung di Akademi Militer
__ADS_1
"Akan aku buktikan, jika pria miskin ini suatu saat juga akan sukses, bantu Aku Ya Allah"
Bersambung....