
"Abang udah mandi belum?" Tanya Hana
"Belum dek, emang mau kemana?" ucap vian sambil menatap layar komputernya
"Masa abang lupa sih, kan hari ini hari pernikahannya kak Dafa sama Laila"
"Astaghfirullah, iya iya dek, sekarang abang mandi dulu yah" ucap Vian mematikan komputernya dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Hana tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya
Beberapa menit kemudian, Vian yang telah selesai mandi keluar dengan memakai handuk sepinggang. Hana tertegun menatap wajah suaminya yang semakin tampan setelah selesai mandi
"Kenapa lihatin abang terus, abang ganteng yah"
"Hehhe Iyah, abangku menang ganteng" ucap Hana dan langsung memeluk Vian erat
"Dek, jangan peluk abang seerat ini dong. Nanti handuk abang jatuh gimana?" ucap Vian mencoba menggoda istrinya
"Biarin handuknya jatuh, lagipula adek udah lihat semuanya" balas Hana masih memeluk Vian erat. Vian tersenyum dan kembali membalas pelukan hangat istrinya.
Karena pelukan Hana yang begitu erat dan badannya yang menempel dengan tubuh Vian, Vian berusaha menahan bisikan setan karena merasa sesuatu yang dibawah sana telah menegang dan bergerak-gerak seolah ingin melepaskan sesuatu
"Astaga, tahan Vian tahan. Dan handuk bekerja samalah denganku. Terus tutupi tubuhku seperti ini" batin Vian mencoba menahan diri
"Dek, udah dong peluknya"
"Nggak mau bang, adek masih pengen meluk abang" ucap Hana masih terus memeluk Vian erat
"Ya ampun dek, mengertilah situasi abang sekarang" batin Vian cemas. Hal yang ditakutkan Vian terjadi karena handuk yang menutupi tubuhnya kini telah jatuh merosot ke lantai. Hana masih terus memeluk tubuh suaminya erat dan tak menyadari jika tubuh Vian kini telah polos tanpa ditutupi sehelai benang pun.
Hana yang merasa ada sesuatu yang menyentuh perutnya mulai menundukkan pandangannya dan alangkah terkejutnya Hana melihat alat bertegangan tengah berdiri tegak kearahnya. Hana segera berjongkok meraih handuk yang jatuh ke lantai dan membuangnya ke sembarangan arah sehingga Vian terkejut dibuatnya
"Loh dek, kok handuknya dibuang sih, emang adek suka lihat tubuh abang sepolos ini?"
"Iyah bang, adek suka" balas Hana. Hana mengenggam dan mengelus benda itu dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Vian membiarkan istrinya bermain-main dengan benda miliknya karena Vian juga ikut menikmati sentuhan dan elusan lembut istrinya
"Bagaimana kalau kita main sebentar ayah?" Kata Hana menggoda suaminya
"Loh, Bunda berani ngajakin singa untuk diterkam?"
"Iyah ayah, boleh nggak?"
"Dengan senang hati bundaku sayang" Ucap Vian tersenyum dan mulai meletakkan tubuh istrinya diatas ranjang
"Ayah sebelum mulai baca doa dulu yah, dan jangan berisik, Viara masih tidur"
"Siap laksanakan"
Vian mulai membaca doa, dan setelah doanya selesai Vian mulai membuka seluruh pakaian istrinya dan menelusuri area perang yang amat di sukainya. Udara dinginnya pagi menjadi saksi pergulatan 2 manusia yang menyatukan ikatan mereka dalam bentuk cinta dan kelembutan.
_______________________
"Bunda, kita mandi dulu yuk" Ucap Vian lembut pada istrinya yang masih terbaring lemas di sampingnya. Hana menganggukkan kepalanya dan tersenyum membiarkan tubuhnya digendong suaminya. Vian menyalahkan shower dan mengosok sabun cair yang dituang ditangannya. Vian memeluk Hana dari belakang dan mulai menyambuni tubuh istrinya sambil mengecup leher Hana.
Setelah membersihkan tubuh istrinya dari busa sabun, Vian segera meraih handuk dan dililitkan nya ke tubuh Hana
"Terimakasih ayah. Sekarang ayah mandi yah, Bunda keluar untuk siapin baju ayah dulu" ucap Hana dan diangguki Vian sambil tersenyum. Hana yang berjalan keluar menghentikan langkahnya saat Vian menahan tangannya
"Sayang, bolehkah kita melakukannya lagi dengan waktu yang lebih lama?"
"Iyah suamiku, kapanpun ayah mau, bunda selalu ada kok" balas Hana tersenyum.
Vian kembali melayang ke angkasa dan memeluk tubuh istrinya
"Terimakasih sayang, bagaimana kalau malam nanti setelah pestanya berakhir?"
"Iyah suamiku, tapi jangan cepat lelah yah" kata Hana mengecup bibir Vian dan berjalan keluar kamar mandi.
Setelah rapi dengan pakaian pestanya, Hana segera mengganti sprei ranjangnya dan menyiapkan baju untuk suami dan juga putrinya.
"Viara sayang, ayo bangun. Nanti kita terlambat ke pesta loh" ucap Hana menepuk-nepuk pipi putrinya yang masih tertidur pulas. Tak berselang lama, Viara terbangun dari tidurnya dan tersenyum pada kedua orang tuanya yang berdiri di dekatnya
"Bunda, ayah ninimimim" ucap Viara dengan bahasa bayinya
"Iyah sayang, ayo Viara mandi dulu, setelah itu kita ke pestanya tante Laila" ucap Hana lembut sambil menggendong Viara. Sebelum pergi ke kamar mandi, Hana mengecup pipi Vian dan kembali melanjutkan langkahnya bersama Viara di gendongannya.
"Bunda sayang ayah"
_________________
Setelah prosesi pedang pora selesai, Semua prajurit segera maju ke panggung dan berfoto bersama kedua mempelai. Setelah pada prajurit selesai berfoto bersama, Hana segera mendekati kedua mempelai dan membalas pelukan Laila padanya
"Selamat atas pernikahamu yah, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah"
"Iyah Hana terimakasih" ucap Laila memeluk hana erat dan menangis bahagia di bahu hana.
"Wah udah nikah aja lu, selamat ya bro" ucap Vian menepuk bahu Dafa
__ADS_1
"Terimakasih Vian, ngomong-ngomong kenapa wajahmu cerah sekali hari ini, senyumanmu melebihi seseorang yang baru nikah aja"
"Hari ini gua juga bahagia bro, kau tahu sendiri kan" ucap Vian mulai membisikkan sesuatu di telinga Dafa
"Wah, kalau itu mah lebih indah lagi. Jadi kepengen juga" ucap Dafa tersenyum setelah mendengarkan bisikan Vian
"Intinya lakukan perlahan-lahan bro, jangan kesetanan. Jangan samakan dengan para pemberontak yang kau lenyapkan saat bertugas"
"Siap Danki" Dafa dan Vian tertawa bersama sambil bercengkrama tentang pengalaman mereka bersama. Tak berselang lama, terdengar suara MC yang menyerukan sesuatu
"Baiklah pada tamu undangan sekalian, guna menambah kemeriahan di acara pernikahan ini, apakah ada di antara diantara kalian yang ingin menyumbang lagu?" Tanya MC pada para tamu
"Sana Vian, bernyanyilah. Sudah lama aku tidak mendengar nyanyianmu"
"Hahaha, aku kesana dulu yah" balas Vian yang diangguki Dafa sambil tersenyum. Vian berjalan mendekati MC dan mulai bergabung dengan Band musik yang merupakan para pasukannya
"Lagu ini ku persembahkan untuk seorang wanita yang telah menjadi pendamping hidupku. Terimakasih karena telah mencintai seorang Abdi negara dengan tulus dan penuh cinta. Dan untuk kalian yang juga akan menjadi pendamping para Abdi negara, kalian istimewa karena kalian adalah wanita yang tangguh dan juga hebat. Ini untukmu wahai pendamping hidupku, mungkin orang mengatakan jika laguku ini hanyalah nyanyian atau hiburan semata,tapi bagiku ini adalah ungkapan hati dan cintaku padamu. Terimakasih karena telah hadir dan mewarnai perjalanan hidupku, terimakasih atas segalanya sayang. Setelah semua kasih sayang dan kebahagiaan yang kamu berikan padaku, aku ingin meminta satu hal lagi darimu, boleh ya sayang?"
"Ayoo nona, setuju!!!!!!" Seru antusias para tamu pada Hana
"Setuju... setuju... setuju!!!" Seru MC ikut menyejukkan permintaan para tamu
Dengan hati yang berdebar, dengan seruan dan tatapan para tamu, Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada suami yang menunggu jawabannya
"Yeeahh!!!!!" riuh para tamu serentak
"aku hanya minta satu hal lagi darimu sayang, Maukah kamu untuk tetap bersamaku hingga kita menua bersama?" Tanya Vian lembut. Hana berlari memeluk Vian dan menganggukkan kepalanya di dalam dekapan hangat itu
"Aku akan selalu siap untuk mendampingimu selamanya wahai prajurit kebangganku"
"Terimakasih sayang" Ucap Vian membuat semua tamu bertepuk tangan dan sebagian diantara mereka ada yang meneteskan airmata
"Hei Danki, jangan bikin baper disini!!!" Seru Dafa mendapat gelak tawa dari semua tamu
Vian tersenyum dan membawa istrinya untuk duduk disamping Laila
"Tunggu disini ya sayang, abang mau nyanyi dulu" Ucap Vian lembut dan segera berjalan keatas mimbar. Para tamu mulai berjalan maju dan menyalakan kamera ponsel mereka untuk mendengar nyanyian Vian.
"Ini Untukmu Sayang"
Vian mengontrol nafasnya dan mulai memainkan gitarnya
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
__ADS_1
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu
Hidup dan matiku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Prok... Prok... Prok....
Pada tamu bertepuk tangan meriah dan sebagian diantara mereka juga terharu mendengar nyanyian yang juga menyentuh hati mereka. Setelah Vian turun dari mimbar, Hana segera berlari kearahnya dan mendekap tubuhnya erat
"Bunda kok nangis. Jangan nangis dong sayang" ucap Vian lembut sambil mengecup kening Hana
"Bunda terharu, jadinya nangis" ucap Hana masih terus terisak di dada bidang suaminya. Vian merangkul istrinya sambil mengendong Viara dan berjalan keluar untuk pulang ke rumah.
Setelah tiba di rumah, Hana segera meletakkan Viara di keranjang tidurnya karena putri kecilnya itu sudah terlelap saat perjalanan pulang tadi.
Hana tersenyum dan kembali menangis bahagia saat mendengar ungkapan cinta suaminya dalam lagu yang dia nyanyikan tadi. Hana membalikkan badannya dan segera berhambur memeluk Vian yang duduk di sisi ranjang
"Terimakasih yah bang, terimakasih karena sudah mencintai adek dengan tulus. Terimakasih karena abang mau menerima wanita seperti adek hiks..hiks.." lirih Hana di dada bidang Vian
"Abang yang seharusnya berterima kasih padamu sayang. Kau datang disaat semua orang pergi meninggalkanku. Kau datang dan membantuku untuk hidup kembali. Kau memberiku banyak cinta dan ketulusan sehingga aku lupa dengan rasa sakit yang hampir merenggut nyawaku. Kau malaikatku sayang. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu, kau selalu memelukku erat disaat hatiku rapuh, kau selalu menjagaku disaat aku sakit dan kau selalu setia menungguku pulang di setiap penugasan"
"Kau begitu istimewa di hatiku sayang, kau selalu mencintai seorang prajurit yang sering dipanggil oleh negara. Walaupun waktu juga diambil oleh negara, tapi kau selalu setia menungguku kembali. Jika masih ada cinta dihatimu untukku,maka berikanlah semua cintamu padaku sampai kita menua bersama. Teruslah dekap tubuhku sampai jantung ini berhenti berdetak" ucap Vian menjatuhkan air matanya membalas pelukan hangat istrinya
"Kau tahu sayang, aku bersyukur bisa menjadi pendamping hidupmu. Aku bangga memiliki suami sehebat dan sebaik dirimu. Suatu saat nanti saat Anak-anak kita telah dewasa, maka dia dengan bangga mengatakan jika aku bangga memiliki ayah seorang Abdi negara. Ayah yang selalu ada dan mencintai keluarganya meksipun jaraknya sangatlah jauh. Ayah yang selalu memberikan kebahagiaan dan kasih sayang yang melimpah tanpa adanya batas, Ayah yang selalu menjaga dan melindungi keluarganya meski nyawanya berada di senapan. Dia adalah ayahku, dan akan ku katakan pada dunia aku bangga menjadi anaknya" ucap Hana menghapus air mata yang menggenang di pipi Vian dan mengecup bibirnya dengan lembut
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah berjuang demi keluarga kecil kita. Terimakasih atas setiap perjuangan adek mencintai abang selama ini. Sekarang hidup dan bahagia abang sudah lengkap dengan kehadiran istri sebaik dirimu dan putri kecil kita. Jika suatu saat nanti abang tinggal nama, maka abang hanya ingin bersama kalian di surga-Nya"
"Sama-sama sayangku, teruslah genggam tangan ini sampai kita menua bersama. Bahkan mati pun tidak akan meleburkan cinta kita. Seperti perkataanmu selalu jika hanya satu nama yaitu namamu di hatiku, maka adek juga akan mengatakan jika hanya ada satu cinta di hatiku, yaitu dirimu Lettu Viandro Aditya Putra"
"Sayang, bolehlah kita melakukan sesuatu seperti tadi pagi. Aku masih ingin bermain dengan milikku" ucap Vian dan diangguki Hana sambil tersenyum. Sesuai ucapan Hana tadi pagi jika dia yang akan mengambil alih permainan, maka Vian membiarkan tubuh istrinya bermain-main dengan tubuh dan terutama benda pusakanya. Setelah malam panas yang dilewati bersama dan Hana yang memimpin permainan, akhirnya Hana tumbang dan tertidur lelap disamping Vian.
Vian segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua dan memeluk Hana erat
"Selamanya kau hanya milikku, milikku selalu. Kaulah yang terbaik sayang. Kaulah malaikatku. Hanya namamu yang ada di hatiku Hana, dan selamanya akan tertulis rapi dalam hatiku"
Memilihku adalah pilihan berat bagimu. Jika aku berhasil, aku akan pulang membawa kemenangan, tapi jika aku gagal, aku tinggal kenangan. Sering terdengar ungkapan jika mendampingi seorang prajurit haruslah kuat, harus menahan rindu yang hebat dan harus tetap sabar jika ditinggal pergi saat bertugas
Tapi ketahuilah wahai wanita pilihanku, walaupun aku jauh dan nyawaku di senapan, tapi hatiku hanyalah untukmu. Aku cinta tanah airku, tapi aku juga manusia biasa yang tulus mencintaimu. Aku tak akan goyang dengan tikaman rindu dan tusukan cinta karena aku pejuang yang tangguh.
Aku akan berusaha untuk tetap pulang dan kembali ke pelukanmu. Akan ku lindungi wanita yang bersamaku karena aku mencintaimu selalu, walau nyawa di pelatuk senapan.
Satu Nama Di Hati Sang Prajurit
Selesai........
Terimakasih untuk para readers yang setia membaca novel author sampai bab terakhir. Terimakasih atas dukungan dan komentar kalian yang selalu menyemangati author untuk tetap melanjutkan episode yang baru๐
Terus nantikan karya author selanjutnya yah
__ADS_1
Love You All๐๐