
Dafa memberhentikan motornya di depan Batalyon dan meninggalkan Hana sendirian yang mematung di tempat
"Jika bukan karena ibu, aku tidak akan mengajakmu jalan-jalan, merepotkan saja"
Vian yang baru saja selesai latihan menembak beranjak mendekati Dafa yang baru saja datang
"Baru selesai belajar nembak ya bro" Tanya Dafa melihat senapan yang masih dipegang Vian
"Iyah bro, ngapain kesini, bukannya kau sedang ada urusan pada ibumu"
"Aku malas mengikuti saran ibu yang selalu saja memaksa. Aku kesini untuk latihan menembak juga"
Vian manggut-manggut dan saat melirik kedepan Batalyon, terlihat seorang wanita cantik yang Vian kenal wajahnya
"Dafa, siapa wanita itu, kok dia ada di motormu?"
"Bukan siapa-siapa" balas Dafa dan berlalu meninggalkan Vian
Sementara Vian tersenyum melihat gadis yang masih berdiri di tempat yang sama. Gadis cantik berjilbab panjang dan gamis biru yang menjular menutupi kakinya membuat Vian tertegun melihatnya.
Cukup lama Hana berdiri menunggu Dafa keluar dari Batalyon, begitu juga dengan Vian yang masih terus memandangi wanita di depan sana
"Hei, kok bengong sih" sapa Dika
Vian tak menanggapi ucapan Dika dan terus melihat kedepan, Dika mengikuti arah padang Vian dan mendapati seorang gadis manis tengah berdiri di depan gerbang
"Ohh rupanya wanita itu"
"Iyah Dik, wanita yang hampir kutabrak saat menuju ke sini"
"Ngomong-ngomong dia manis juga ya" Ucap Dika yang ikut mengamati Hana
"Iyah benar dika"
__ADS_1
Setelah selesai latihan menembak, Dafa merogoh ponselnya yang berdering tanda adanya panggilan masuk
"Halo sayang, ada apa hmm?" Tanya Dafa
"Bisa kau jemput aku sayang? Taksi pesanaku belum juga datang dan hari yang mendung" Ucap Asti
"Baiklah kau dimana sayang?"
"Aku di depan supermarket xxxy sayang"
"Aku akan segera kesana, tunggu aku ya"
"Oke sayang, bye"
Dafa mematikan sambungan dan melapor ke pemimpin jika dia akan segera pulang. Setelah itu Dafa berjalan mendekati Hana yang masih setia menunggunya
"Kau kira kau sudah pulang"
"Belum kak, aku menunggumu sejak tadi"
"Ngomong-ngomong apa yang sedang mereka bicarakan yah" Tanya Dika
"Entahlah, kita perhatian aja dulu"
Dafa membunyikan motornya dan saat Hana akan naik ke jok belakang
"TUNGGU" Ucap Dafa
"Ada apa kak?"
"Aku ada urusan penting, jadi bisa kan kau pulang sendiri"
"Tapi kak...."
__ADS_1
Dafa tak mendengar Ucapan Hana dan langsung tancap gas menemui kekasihnya
"Aku bisa saja pulang sendiri, tapi aku tak membawa apa-apa, cuman ponsel yang ada ditanganku. Ketahuilah aku setia menunggumu disini agar kita bisa menghabiskan waktu bersama, tapi sepertinya dugaanku salah" Gumam Hana menatap Dafa yang kian menjauh
"Drt..... drt.... " ponsel Hana berdering. Mata Hana membulat dengan sempurna melihat nama yang tertera di ponselnya. Dengan tangan yang gemetar, Hana menekan tombol hijau memulai panggilan
"Assalamu'alaikum nak" Sapa Bu Mira
"Walaikumsalam ibu"
"bagaimana jalan-jalan nya nak, apa seru?" Tanya Bu Mira. Hana menghela nafas sebelum menjawab Bu Mira
"Alhamdulillah seru Bu, kami baru saja mengelilingi kota"
"Syukurlah. Hana tolong berikan ponselnya pada Dafa. ibu ingin berbicara dengan Dafa"
"Ehh anu Bu.." ucap Hana gemetar
"Ada apa nak. kenapa suaramu bergetar?"
"Tidak apa-apa Bu, Kak Dafa sedang ke warung untuk membeli air mineral"
"ohh yaudah, cepat pulang ya nak, hari semakin mendung. ibu takut kalian kehujanan dan jatuh sakit"
"Baik Bu, sudah dulu ya Assalamu'alaikum ibu"
"Walaikumsalam Calon menantuku"
Hana mematikan sambungan secara sepihak dengan bulir bening yang berhasil lolos dari matanya
"Maafkan aku Bu, maafkan aku yang membohongi ibu" lirih Hana melangkahkan kakinya untuk pulang
"Haruskah aku menyerah"....
__ADS_1
Bersambung....