Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 33. Disekap


__ADS_3

"Bang Vian... Ayo bangun" Ucap Hana lembut. Vian yang masih tak sadarkan diri bermimpi jika Hana tengah menindih tubuhnya dan mencoba membangunkannya. Vian mencoba membuka matanya namun tak bisa seolah matanya sedang dikunci rapat


"Sayang kau dimana" Tanya Vian meraba-raba sekitarnya. Namun Hana tak menjawab pertanyaan Vian. Vian mencoba mengangkat dan bangun, tapi tubuhnya seolah tak bisa digerakkan


"Hiks.. Hiks.. Abang bangunlah" lirih Hana berlinang


"Abang tak bisa bergerak sayang kau dimana" Vian mendengar suara nyanyian Hana yang seolah tengah berdoa


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Tuhan Dia sedang berjuang


Jaga dia....


Lindungi dia...


Karena ada yang menunggunya...


Untuk pulang....


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


"Uhuk.. Uhuk... "


"Akhirnya kau bangun juga" ucap Dika lega


"Apa yang terjadi?" Tanya Vian mencoba duduk bersandar didinding menahan kepalanya yang berputar


"Kau tak sadarkan diri sejak 5 jam yang lalu karena luka tembak dibahumu. Kukira kau sudah mati karena nadimu yang kian melemah"


"Tadi aku bermimpi Dika, aku terbaring dan Hana mencoba membangunkanku. Aku berusaha membuka mata dan mengangkat tubuhku, tapi badanku seolah tak bisa digerakkan. Tak berselang lama, aku mendengar suara merdu hana yang seolah tengah mendoakanku, setelah itu tubuhku terasa nyeri dan perlahan aku tersadar" Ucap Vian menjelaskan


"Itu mungkin ikatan batin antara kalian berdua. Mungkin saat ini hana sedang mencemaskanmu,sehingga dia berdoa agar kau baik-baik saja" Ucap Dika dan diangguki Vian sambil tersenyum


"Kau benar Dika. Ngomong-ngomong kita ada dimana sekarang?"


"Kita ditahan di tempat ini setelah pingsan akibat mengirup gas beracun semalam. Dan teman-teman kita juga belum sadarkan diri" ucap Dika mengamati prajurit lainnya yang juga disekap masih terbaring lemah. Tak berselang lama, para prajurit mulai siuman dan meneguk sebotol air yang dibagi 4


"Ternyata kalian sudah sadar. Kupikir kalian sudah mati" Ucap Lelaki yang para prajurit kenali sebagai lelaki yang kemarin menolak memberikan surat-suratnya saat diinterogasi di wilayah perbatasan


"Siapa kau" Tegas Vian


"Cih, rupanya kau tidak mengenaliku" Lelaki itu membuka kain penutup separuh wajahnya. Para prajurit membulatkan matanya sempurna melihat ketua pemberontakan di desa N yang telah mereka habisi tengah berdiri dihadapan mereka


"Kau masih hidup, tapi bagaimana mungkin" Ucap Raka kebingungan


"Hahahaha... Yang kalian habisi itu adalah saudara kembarku. Aku berusaha mencari kalian agar membalaskan dendam atas kematiannya"

__ADS_1


"Tapi saudaramu itu... "


"DIAM" teriak Lelaki itu yang bernama Arada


"Aku akan membalaskan dendam atas kematian kakak dan ibuku. Karena ulah kalian, ibuku terkena serangan jantung dan meninggal usai mengetahui saudaraku telah meninggal. Sekarang waktu yang tepat untuk menghabisi kalian Hahahaha.... " Ucap Arada tertawa terbahak-bahak, namun tawanya terhenti karena melihat wajahnya keenam perwira yang tanpa rasa takut sedikitpun


"Kalian tidak takut mati ya"


"Tentu saja tidak. Kami rela mati demi nagara yang kami cintai" tegas Vian


"Ohoho kau rupanya, aku mengingat jika kau yang telah menghabisi saudaraku. Anak-anak, tunjukan padanya bagaimana rasanya menahan sakit saat kematian mendekatinya" Ucap Arada pada anak buahnya


Anak buah Arada membuka sel dan menarik paksa Vian agar keluar dari sel


"Jika kalian berani menyakiti sahabatku, akan kupatahkan tangan kalian" Ancam Dika


"Sebelum mematahkan tangan kami, patahkan dulu jeruji selmu. Hahahah" Tawa pada anak buah Arada.


Anak buah Arada mengangkat tangan Vian keatas dan mengikatnya dengan dua tali yang mengantung dari atas bangunan. Setelah itu mereka mencambuki Vian dengan membabi buta


"VIAAANNNN" Teriak Dika yang melihat anggota Arada tengah menyiksa Vian


"Hahaha lanjutkan anak-anak" perintah Arada


"Hentikan sebelum kubunuh kalian"


Para prajurit dicambuki satu persatu dengan membabi buta. Baju mereka telah belumuran darah, sedangkan Baju Vian telah terlepas saat anak buah Arada membukanya secara paksa tadi


Plak....


Plak...


Plak....


"Sayang, jika abang berakhir disini, kau harus tetap kuat ya. abang akan menunggumu di alam sana" batin Vian dan perlahan menutup mata karena rasa sakit yang menguasai tubuhnya. Prajurit yang lain ikut tumbang karena tak kuat menahan sakit


************


Malam ini, hana terus menatap cahaya rembulan dengan air mata yang membasahi pipinya


"Aku merindukanmu


Apakah kau baik-baik saja disana?


Bagaimana kabarmu setelah 10 hari kita terpisah.


Berbagai pertanyaan terus saja berputar dipikiranku

__ADS_1


Hatiku bertengkar hebat dengan logikaku


Pikiranku berusaha berkata agar kau baik-baik saja disana


Tapi hatiku terus bergejolak seolah sesuatu telah terjadi padamu.


Akan kutahan gejolak hati ini


Akan ku tunggu dirimu sepanjang waktuku


Segeralah kembali, aku merindukanmu prajuritku


Tulis Hana pada aplikasi buku diary di ponselnya


*********


Sementara Vian kelima temannya sedang terbaring lemah karena luka bekas cambukan ditubuh, dan selama 10 hari disekap, mereka tak diberi makan sedikitpun.


"ini makanlah. Kalian pasti butuh asupan juga" Ucap Arada membuka sel tahanan prajurit memberikan 6 nampan makanan yang langsung dilahap oleh keenam prajurit


"Kenapa kau membantu kami? Bukankah kau menginginkan kami mati?" Tanya Vian setelah menghabiskan makanannya


"Aku memang menginginkan kalian mati ditanganku. Tapi aku ingat jika tuhanku akan sangat membenci orang yang membunuh sesamanya" Balas Arada


"Lalu bagaimana dengan dendammu pada kami karena menghabisi saudaramu?" Tanya Dika


"Sepertinya urusan kita sudah selesai" ucap Arada dan pergi meninggalkan sel tahanan para prajurit


"Sepertinya Arada adalah orang yang baik" ucap Vian


"Iyah Lettu, jika dia mau, bisa saja dia menghabisi kita sejak hari pertama kita disekap" balas iwan setuju


Para prajurit mengangguk dan menyudahi obrolan mereka karena hari yang semakin larut. Vian tersenyum memandangi rembulan dari jendela selnya, teringat akan istrinya yang pasti tengah mengkhawatirkannya sekarang. Vian bertayamum dan mulai melaksanakan shalat tahajud demi keterangan hatinya. Tangis Vian pecah saat memancatkan doa pada-Nya mewakili hatinya yang begitu merindukan belaian dan pelukan sang istri


"Ya Allah ya tuhanku, jagalah istri hamba disana. Pasti dia sangat khawatir karena sejak tiba disini hamba sama sekali belum mengabarinya. Sampaikan rinduku padanya Ya Allah, hamba bisa menahan hujatan cambukan dan tancapan peluru ditubuh ini tapi tidak dengan kerinduan yang menikam hatiku. Hamba mohon berilah Hidayah kepada Arada, karena hamba yakin dia adalah orang yang baik, hanya saja dia tengah dibutakan oleh dendam. Kabulkan doa hamba Ya Allah sesungguhnya hanya pada-Mu tempat kami memohon dan meminta pertolongan. Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar. Walhamdulillah hirabbil aalamiin"


Arada yang mendengar doa yang dipanjatkan Vian terharu dan berjalan pergi meninggalkan ruang bawah tanah


"Dia adalah hamba yang taat. Bahkan dia sama sekali tidak membenciku setelah apa yang kulakukan padanya. Dia bahkan mendoakan yang terbaik untukku. Maafkan aku Ya Allah, maafkan aku yang telah memisahkan salah satu Hamba-Mu dengan keluarganya" Batin Arada menahan air matanya


Arada adalah saudara dari ketua pemberontakan di desa N. Arada adalah orang yang baik dan sangat taat pada tuhannya. Dia berkali-kali menolak ajakan kakaknya untuk bergabung dengan kelompok penyelundup Bersenjata ilegal karena Arada lebih memilih menjaga ibunya dan Arada sangat membenci kejahatan, apalagi kekerasan. Tapi semenjak ibunya meninggal karena mendengar jika saudaranya telah mati, iman Arada goyah. Dia mulai berpikir untuk membalas dendam atas kematian ibunya. Arada bergabung dengan kelompok Bersenjata kakaknya dan berjanji akan membalaskan semua dendam dan sakit hatinya. Saat mengetahui jika prajurit yang melenyapkan kakaknya akan menjaga perbatasan, Arada segera melancarkan aksinya disana.


Tapi, Arada kembali luluh saat mendengar nasehat Vian dan teman-temannya. Arada berpikir jika tindakan yang dilakukannya selama ini telah salah karena hal itu bernilai dosa karena bertentangan dengan perintah Tuhannya. Arada mencoba berdamai dengan keadaan dan melupakan semua dendamnya. Dia akan mengikhlaskan kepergian ibunya, dan memaafkan kakaknya karena selama ini telah melakukan hal-hal yang tidak baik dibelakang keluarganya


"Maafkan aku, aku berjanji akan menebus kesalahanku. Dan ibu, tunggulah aku di surga-Nya" Batin Arada menatap indahnya langit malam


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2