
Hari ini hari yang paling ditunggu Hana, hari dimana suaminya akan pulang setelah sebulan tidak bertemu. Hana menggerakkan kursi rodanya dan dibantu Mia untuk memasuki taksi
"Han,apa kau tidak lelah menggerakkan kursi rodamu? Kondisi kakimu belum sepenuhnya pulih. Apa kau masih akan ke pelabuhan?" tanya Mia khawatir
"Aku tidak lelah Mia, aku sudah terbiasa duduk di kursi roda. Aku harus tetap semangat menyambut kepulangan suamiku" ucap Hana tersenyum menyakinkan Mia
"Yaudah, kalau kau perlu sesuatu atau ada yang sakit, beritahu aku ya"
"Siap bos"
Setibanya di pelabuhan
"Alhamdulillah kalian muncul juga, kupikir kalian tidak akan kesini" ucap sisil lega
"Kami akan tetap datang menyambut kepulangan orang yang terkasih meskipun lambat sisil"
"Hehehe, sini biar aku yang ambil alih mendorong kursi roda Hana" ucap sisil dan langsung mendorong kursi roda Hana
"Makasih ya sil"
"Sama-sama Hana"
"Hei kalian lihatlah, kapalnya udah dekat" ucap Mia antusias. Beberapa ibu-ibu yang juga sedang menunggu kepulangan suami mereka tersenyum dan berbinar setelah mendengar seruan Mia.
Mia dan sisil kembali meloncat-loncat bahagia, sedangkan Hana dan ibu-ibu lainnya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya
Marwah yang baru tiba di pelabuhan setelah dari desanya tersenyum mendengar ucapan Mia tadi. Marwa meletakkan kopernya dan berbalik badan kearah laut. Marwa tersenyum melihat kapal milik TNI sudah berjalan mendekati jembatan
"Semoga kau ada disana bang. Aku merindukanmu dan aku ingin bertemu lagi denganmu setelah sekian lama" batin Marwa berharap
"Kapalnya sudah bersandar ayoo" seru Mia berjalan bersama ibu-ibu lainnya untuk segera mendekati kapal. Sisil yang sangat menanti kepulangan suaminya melepaskan pegangannya dari kursi roda Hana dan meninggalkan Hana sendiri yang agak jauh dari tempat bersandar nya kapal
"Mereka sangat bahagia, sehingga mereka melupakanku disini" gumam Hana tersenyum dan berusaha menggerakkan kursi rodanya
"Abang.... " panggil sisil dan Mia serentak setelah melihat Raka dan Dika yang keluar dari kapal. Marwa yang mengamati semua prajurit yang akan keluar dari kapal tersenyum bahagia saat melihat Vian yang juga ada di kumpulan para prajurit
"Abang... " panggil marwa berlari dan langsung memeluk Vian.
Vian tersentak kaget melihat perlakuan Marwa tiba-tiba yang langsung memeluknya.
"Marwa, lepaskan aku" pinta Vian berusaha melepaskan pelukan Marwa
"Kumohon jangan paksa aku melepaskannya, aku merindukanmu selama ini. Biarlah aku meluapkan rindu dan rasa cintaku padamu sekarang" ucap Marwa terus memeluk Vian
Dika merasa kesal dengan Marwa dan ingin sekali mendorong wanita itu
__ADS_1
"Gawat, dimana Bu Danton, dia tidak datang kesini kan?" tanya Raka khawatir
"Astaga, aku meninggalkann Hana disana. Aku akan mencegahnya datang kesini" Mia dan sisil yang akan mencegah Hana membalikkan badan mereka dan tertegun saat melihat Hana telah mematung diujung sana
"Gawat" guman sisil
Vian yang masih dipeluk marwa mengangkat kepalanya dan tertegun mendapati Hana menatap tajam kearahnya. Tatapan tajam yang siap membunuh siapapun jika berani bermain-main dengannya.
"Bu Danton, ini tidak seperti dugaanmu" ucap Raka mencoba menjelaskan pada Hana yang mulai menjatuhkan air matanya
"Sayang" ucap Vian yang melihat istrinya telah menitikkan air mata.
Marwa yang mendengar ucap vian merasa jika ucapan itu untuknya, sehingga dia makin mengencangkan pelukannya pada Vian
Hana menatap mata suaminya sekilas, dan mulai membalikan kursi rodanya untuk menjauh dari tempat itu
"Hana ini tidak seperti dugaanmu" ucap Vian mencoba melepaskan pelukan Marwa
"Iyah Han, ini tidak seperti dugaanmu dengarkan kami hana" teriak sisil berlari menyusul Hana yang menggerakkan kursi rodanya dengan cepat
Vian melepaskan kasar pelukan Marwa sehingga marwa kaget dengan perlakuan kasar Vian. Vian tak memperdulikan marwa yang akan menangis, dia justru berlari mengejar hana
"Dasar wanita tidak tahu malu" geram Dika. Mia berjalan mendekati marwa dan menamparnya keras
"PLAK..... Apa kau tidak tahu malu memeluk Vian disaat... "
"Lihatlah, karena ulahmu Vian akan terkena masalah besar dari Hana"
"Siapa Hana, apa dia wanita yang duduk di kursi roda tadi?"
"Ohh, jadi kau tidak tahu siapa Hana, ketahuilah, wanita yang duduk di kursi roda tadi adalah Hana, istri sekaligus belahan jiwa Vian" ucap Mia menekankan setiap kalimatnya. Marwa meneteskan air mata mendengar ucapan yang menikam hatinya
"Jadi bang Vian, sudah beristri" guman pelan Marwa
"Tentu saja, kau pikir lelaki seganteng dan sebaik Vian tak memiliki istri? Cih.." ucap Mia berdecih
"Sudahlah sayang, lebih baik kita membantu Vian menjelaskannya pada Hana" ucap Dika dan langsung menarik tangan Mia. Marwa terduduk dan mulai menangis mengetahui kenyataan dari orang yang dia cintai
"Aku mencintaimu bang, hiks.. hiks.. " Teriak Marwa menangis histeris
Vian terus berlari mengejar Hana yang menambah kecepatan gerak kursi rodanya
"Sayang tunggu abang" ucap Vian berhasil menahan kursi roda Hana dan langsung memeluk istrinya dari belakang
"Dengarkan abang dulu sayang, ini tidak seperti dugaanmu" lirih Vian dibahu Hana.
__ADS_1
Hana melepaskan pelukan suaminya dan kembali menggerakkan kursi rodanya tanpa menatap kebelakang
"Dek, dengarkan abang dulu" ucap Vian yang akan berlari mengejar Hana namun ditahan oleh Dika
"Biarlah istrimu tenang dulu, agar dia bisa memahami yang sebenarnya" pinta Dika dan diangguki Vian
"Kalian tenanglah, aku yang akan menyusul Hana" ucap Mia dan kembali mengejar Hana yang semakin menjauh
"Hana tunggu aku" teriak Mia yang tidak dihiraukan Hana
"Pak, tolong antar saya pulang" pinta Hana pada supir taksi
"Baiklah nyonya" ucap supir taksi dan mulai membuka pintu untuk Hana. Hana berusaha untuk duduk di kursi penumpang meskipun kaki kanannya kembali mengalami nyeri yang sama.
Setelah supir menaikkan kursi roda Hana, supir kembali memasuki taksi dan cemas melihat kondisi penumpangnya yang meringis kesakitan
"Nyonya tidak apa-apa? Apa perlu saya antar ke rumah sakit"
"Tidak pak, ini hanya sakit biasa aja. Antar saya pulang secepatnya ya pak"
"Baik nyonya" ucap supir kembali menjalankan taksinya.
Hana meneteskan air mata melihat kejadian yang terjadi di pelabuhan tadi
"Ternyata hatiku jauh lebih sakit dibandingkan sakit di kakiku" batin Hana berlinang.
Hana terus mengurut kakinya untuk meredakan sakit yang luar biasa sambil menangis sesenggukan
Setelah membayar pada supir taksi, Hana kembali menggerakkan kursi rodanya menuju kedalam rumah dengan air mata yang tak hentinya mengalir
"Adek, dengarin abang dulu" pinta Vian yang baru saja memasuki rumahnya
Hana menatap mata suaminya yang telah berkaca-kaca dan membanting pintu kamar cukup keras
"Adek, dengarkan abang dulu, abang mohon dek" ucap Vian mengetuk-ngetuk pintu
"Lebih baik abang pergi bersama wanita tadi, wanita tadi jauh lebih sempurna dibandingkan wanita ini. Wanita cacat yang hanya bisa terduduk di kursi roda, dan wanita yang tak pantas memeluk erat suaminya yang baru kembali setelah bertugas" ucap Hana berusaha tetap tegar
"Jangan berkata seperti itu dek, bagaimana pun kondisi adek, hanya adek wanita yang abang cintai. Abang mohon buka pintunya dek" pinta Vian menahan air matanya dan terus mengedor pintu
Hana tak menanggapi ucapan Vian, dia justru membaringkan tubuhnya sambil membekap mulutnya agar suara isakannya tak terdengar oleh Vian
"Kenapa bukan aku yang memeluk dan menyambutmu pulang bang" lirih Hana dan perlahan menutup matanya
Vian membuka pintu kamarnya dan mendapati istrinya telah tertidur telap sambil membelakanginya. Vian ikut berbaring disamping Hana dan memeluknya tubuh rapuh itu
__ADS_1
"Maafkan abang ya dek, ketahuilah hanya adek wanita yang abang cintai. Wanita tadi tidak sebanding dengan istri abang. Dalam hatiku hanya ada namamu sayang, sampai kapanpun hanya namamu yang tersimpan rapi dihatiku. Aku hanya mencintaimu seorang. Maafkan abang" lirih Vian mengecup kepala istrinya dan terlelap sambil memeluk erat tubuh Hana
Bersambung......