
Setibanya disana, dua truk Batalyon berjejer bersiap mengantar para anggota yang akan berangkat tugas. Truk akan mengantarkan para anggota untuk menaiki kapal yang akan mengantarkar mereka menuju tempat tujuan. Semua prajurit masih bersama istri mereka, tapi berbeda dengan Vian yang terlebih dahulu memasuki kapal bersama dua temannya yang masih membujang. Hana menahan air matanya agar tidak tumpah, namun matanya seolah tak bisa diajak kerja sama. Hatinya sakit jika harus berpisah dari suaminya dengan cara seperti ini
"Bang, setidaknya lihat istrimu sekali saja. Dia masih bediri menatapmu disana" Ucap Gama ikut sedih melihat kondisi Hana yang terus saja menangis. Vian yang tak menanggapi ucapan Gama membuat Gama dan Dika bertanya-tanya
"Ada apa dengannya? dia berbeda dari biasanya"
"Benar bang, aku juga bingung dengan sifatnya itu. Biasanya dia akan manja atau bucin saat bersama istrinya. Tapi kali ini dia bahkan tak melirik kearah istrinya yang masih berdiri disana"
Kini semua anggota telah menaiki kapal yang kembali berlayar membawa mereka ketempat tujuan. Hana terus mengamati kapal itu berharap suaminya melambaikan tangan padanya. Namun harapannya tak membuahkan hasil.
Hana terus saja mengamati kapal yang hampir tak terlihat lagi, sedangkan istri-istri prajurit lainnya telah kembali sejak tadi. Vian yang merasa sedikit bersalah segera berlari keatas kapal dan menggunakan teropong jarak jauh untuk mengamati pelabuhan yang hampir tak terlihat lagi. Dari teropong nya, Vian melihat jika Hana masih setia berdiri disana, menatap lurus kedepan dengan air matanya yang masih mengalir di pipinya. Hana tersenyum kecut pada kapal yang tak lagi terlihat. Hana menghapus air matanya dan beranjak meninggalkan pelabuhan seorang diri
"Maafkan abang sayang, abang sangat mencintaimu. Abang tak tega menghukummu seperti ini, abang ikut tersiksa dengan perlakuan dingin abang padamu. Tapi ketahuilah sayang, abang hanya ingin kau bersama abang selalu, tidak dengan pria lain. Jujur abang sangat cemburu melihatmu tersenyum pada pria yang kau cintai dulu. Maafkan abang yang menghukummu seperti ini sayang, maafkan suamimu ini" gumam Vian menjatuhkan air matanya mengingat wajah istrinya dari balik teropong tadi
"Seperti apapun sikapmu padaku, kau tetaplah suamiku. Hanya kau yang ada dalam hati ini" batin Hana menatap foto pernikahannya yang terpampang didinding
*************
Saat ini, Hana terduduk bersandar di kepala ranjang sambil terus mengamati indahnya bulan dari jendela kamarnya. Sudah 10 hari berlalu, namun sang suami belum juga menghubunginya sampai sekarang. Hana membuka ponselnya dan tersenyum membaca pesan masuk di grup WA ibu-ibu persit. Bu danyon mengirimkan pesan gambar dimana para prajurit dan beberapa warga sekitar berfoto bersama. Hana tersenyum melihat suaminya yang ikut berpose dan tersenyum dalam foto itu.
"Alhamdulillah abang baik-baik saja disana" gumam Hana terus menatap gambar di layar ponselnya. Ada rasa lega dalam hatinya meskipun sejak 10 hari terakhir sang suami belum juga memberinya kabar. Hana menyimpan ponselnya diatas nakas dan mulai memeluk bantal guling yang bersarungkan baju Vian, bahkan baju itu masih tercium aroma tubuh vian dan parfum maskulin kesukaan suaminya.
"Semoga abang selalu sehat disana" gumam hana perlahan menutup matanya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Hana yang berniat akan mengunjungi rumah ibunya Dafa terus menunggu kedatangan Dafa yang akan menjemputnya. Hana mengamati lipstik dan bros di tangannya yang merupakan bukti yang ditinggalkan seorang wanita saat mencoba mencelakai suaminya dulu.
"Aku akan terus mencarimu. Kau berani bermain-main denganku, maka aku akan ikut membalas setiap permainanmu" batin Hana geram pada pelaku yang belum berhasil ditemukannya
"Assalamu'alaikum Hana" Ucap Dafa yang telah tiba di rumah Hana
"Walaikumsalam kakak. Adek boleh nggak nanyain sesuatu sama kakak?" tanya Hana
"Boleh Han,silahkan saja" Ucap Dafa tersenyum
"Kak Dafa, apa kak Dafa tahu siapa pemilik lipstik dan bros ini?" tanya Hana memperlihatkan benda yang sejak tadi digenggamanya. Air muka Dafa berubah saat melihat benda ditangan Hana
"Iyah Hana, kakak tahu benda ini. Ini semua adalah barang-barang milik Asti" Ucap Dafa yakin.
Hana membulatkan matanya mendengar ucapan Dafa.
"Iyah dek, lipstik ini kakak berikan padanya 2 bulan yang lalu, sedangkan bros ini kakak yang membelikannya untuk Asti saat bertugas menjaga wilayah perbatasan dulu"
"Jadi wanita itu adalah.... Asti" batin Hana menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Dafa
"Ada apa Hana? Bagaimana kau bisa mendapatkan benda-benda milik Asti?" Tanya Dafa yang melihat Hana terus saja menunduk. Hana menghela nafasnya dan mulai menceritakan kejadian yang dialami suaminya yang hampir mati karena seorang wanita yang sangat membenci Hana. Dafa yang mendengar cerita Hana mengepalkan tangannya erat, ternyata Asti tak kunjung menyadari kesalahannya, dia justru melakukan hal yang nekat untuk kembali membalas dendam pada setiap musuhnya
"Keterlaluan" geram Dafa dengan rahang mengeras
__ADS_1
"Kakak tenang ya, lebih baik sekarang kita ke rumah ibu, pasti ibu sudah menunggu kita" ucap Hana mengelus punggung Dafa mencoba menenangkannya
"Ayo han" Vian mulai melajukan motornya saat Hana telah duduk nyaman di jok belakangnya
Flashback on
Hari itu, Asti yang geram pada hana bersiap untuk melakukan balas dendam dan berniat mencelakai hana. Saat tiba dan mengamati rumah Hana dari balik pohon, terlihat Hana dan Sisil yang berjalan bersama menuju pertemuan dengan ketua persit.
"Ahh rencanaku gagal" Gumam Asti kesal. Saat Asti akan beranjak pergi, Asti melihat jika suami Hana akan keluar rumah dan menuju kearah yang berlawanan dengan batalyon. Asti tersenyum smirk dan mulai mengikuti Vian sampai Vian berhenti di sebuah rumah yang diketahui sebagai rumah milik Hana yang dulu. Asti mengendap-endap memasuki rumah Hana agar tidak ketahuan Vian. Asti terus mengamati Vian yang meraba-raba lemari hingga Vian berhasil menemukan apa yang dicarinya. Vian kembali menyimpan kertas itu di lemari dan berjalan kearah kamar mandi. Asti kembali mengintip Vian dari balik pintu sampai Vian menceburkan dirinya kedalam bathub yang penuh dengan air dan kerannya yang masih menyala
"Jika aku tidak bisa membalasnya padamu, maka aku akan membalasnya pada suamimu" batin Asti kembali memasuki kamar mandi dan berjalan mengendap-endap.
Vian yang membelakangi pintu masuk tak mendengar langkah kaki Asti karena bunyi keran yang masih menyala. Asti yang merasa vian lengah mengeluarkan kain yang telah diberi obat bius yang cukup banyak dan langsung membekap mulut Vian kasar.
Vian yang berusaha membuka tangan wanita itu dari mulutnya tak kuat menahan aroma obat bius yang cukup kuat di kain itu. Karena tak kuat dan tubuhnya melemas, Vian tak sadarkan diri sambil bersandar di bathub
"Beres" Gumam Asti senang dan menceburkan kepala Vian dalam air agar Vian mati kehabisan nafas didalam bathub seolah kematiannya bukanlah ulah orang lain dan murni kecelakaan. Asti tertegun cukup lama mengamati tubuh polos mantan kekasihnya dulu
"Maafkan aku sayang, aku tidak membencimu tapi kau sekarang suami orang yang aku benci. Jika aku kehilangan suamiku karena ulahnya, maka istrimu juga akan kehilangan suaminya dengan cara seperti ini, tentunya caraku lebih kejam darinya hihihi" Gumam Asti senang karena rencananya berhasil
Sebelum meninggalkan kamar mandi, Asti mengambil gambar Vian yang terbaring didalam bathub dan membiarkan keran air yang terus menyala. Asti tak menyadari saat dia mengeluarkan kain dari sakunya, lipstik yang disimpannya ikut terjatuh disamping bathub. Dan saat Asti berniat mengunci pintu kamar Hana, bros dari bajunya terjatuh namun Asti tak menyadari hal itu
"Rasakan pembalasanku Hana, aku tidak sabar lagi melihat wajahmu yang penuh air mata" Gumam Asti tersenyum dan langsung meninggalkan rumah Hana
__ADS_1
Flashback off
Bersambung.....