
"Terimakasih ya dek telah mendengar keluhan kakak, terimakasih telah memotivasi kakak untuk tetap bersemangat menjalani hidup"
"Sama-sama kak, jangan ulangi tindakan kakak yang seperti tadi ya"
"Siap komandan" Ucap Vian mendapat tawa dari Hana
"Kakak, yuk kita pulang"
Vian mengangguk dan Hana mulai memapahnya menuju motor Vian yang telah terparkir dipinggir jalan
"Kakak nggak bisa jalankan motor ini dek, kaki kakak masih terkilir"
"Begitu ya kak" Hana mulai berpikir caranya agar mengantar Vian pulang
"Yaudah, Hana yang akan mengantar kakak pulang"
"Caranya" Tanya Vian bingung
Hana tersenyum dan mulai menaiki motor Vian. Karena memakai rok yang lebar, sehingga memudahkan Hana untuk menaiki motor sport milik Vian
"Loh, adek bisa naik motor"
"Tentu saja bisa kak, motor kakak seperti motor ayah, hanya saja bentuknya yang beda" Ucap Hana yakin
"Ayo naik kak, adek yang akan mengantar kakak pulang" Vian tersenyum dan mulai menaiki jok belakang motor
"Sudah siap kak"
"Siap dek"
"Jangan lupa pegangan ya kak, Bismillah" Ucap Hana dan mulai melajukan motor membelah jalanan kota, sementara Vian tersenyum dan manggut-manggut melihat keahlian Hana
"Adek bisa lebih cepat? "
"Tentu saja kak" Ucap Hana yakin dan mulai menambah sedikit kecepatan motornya
__ADS_1
"Wah adek hebat"
"Haha terimakasih kak"
Hana tersenyum dan mulai melajukan motornya. Setelah tiba di depan rumah dinas milik Vian, Hana membantu Vian duduk di depan kursi teras. setelah itu Hana memarkir motor Vian di halaman rumah
"Terimakasih ya dek telah mengantar kakak kesini"
"Sama-sama kak, sekarang kakak masuk dan istirahat ya"
"Baiklah dek, maafin kakak yang nggak bisa anterin adek pulang ya"
"Nggak apa-apa kok kak, adek pamit pulang dulu ya, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam dek" Hana tersenyum dan mulai berjalan menaiki taksi online pesanannya
Vian berencana pergi ke puskesad untuk mendapatkan perawatan lebih dengan cedera yang dialaminya. Setelah masuk ke ruang puskesad, terlihat Dika sedang diurut oleh dokter Rangga
"Aduh.. aaa sakit... Pelan-pelan dong pijatnya"
"Tentara kok cengeng sih" dokter Rangga dan Dika mengikuti arah suara dan terperanjat kaget melihat kondisi Vian yang luka-luka
"Astaghfirullah, kau kenapa Vian" Ucap Dokter Rangga langsung mengobati luka Vian
"Habis darimana, pulang cari sarapan langsung lecet" Ucap Dika
"Biasa laki laki jantan mah biasa sepeti ini" Jawab Vian enteng
"iyah sih, tapi jangan gini juga"
"Hehe Maaf dokter"
"Cepat duduk disamping Dika, aku akan mengurut kakimu" Vian segera berajak dan duduk disampung Dika
"Nyaman sekali kau duduk disini, aku pikir kau berharap agar Rangga tidak mengurutmu"
__ADS_1
"Emangnya kenapa?" Tanya Vian bingung
"Kau akan berteriak kesakitan saat tangan mengerikannya itu menyentuh kulitmu"
"Aku adalah prajurit tangguh, jadi aku tidak akan kesakitan dengan sentuan Arghhh.... " teriak Vian saat Rangga mulai mengurutnya
"Hei setidaknya pake apa-apa sebelum Aargghh.... "
"Katanya prajurit tangguh ternyata..."Ucap Dika mengejek
"Diam kau Dika "
"Sudah-sudah kalian berdua, aku sudah memijat dan memberi obat pereda nyeri di kaki kalian. Sekarang pergilah, kupingku sakit mendengar teriakan kalian"
"Baiklah dokter, terimakasih" Ucap keduanya serentak dan berjalan keluar Puskesad
"Loh, kok motormu lecet seperti ini Vian? Apa luka di tubuhmu akibat kau kecelakaan?"
"Iyah Dika" Ucap Vian lemah.
Dika tahu jika sahabatnya mengalami masalah yang berat, maka dia bisa saja melakukan hal yang nekat
"Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu?"
Vian mengontrol nafasnya dan mulai menceritakan kejadian tadi saat Asti menolak cintanya. Dika mengepalkan tangannya mendengar penuturan Vian. Dika tahu kalau Vian sangat mencintai Asti, terlebih lagi saat Asti berjanji akan menunggu Vian menjadi orang sukses dan melamarnya
"Aku prihatin dengan kisah cintamu sobat, mungkin inilah takdir yang Allah rencanakan untukmu. Allah sengaja menjauhkan orang yang tidak baik dalam hidup kita agar kita dapat menyambut orang baik yang ditakdirkan untuk hidup kita. Memang terdengar sulit, bahkan sangat sulit untuk menerima kenyataan, tapi kau harus iklas melepaskan Asti" Ucap Dika menepuk bahu Vian
"Kau benar Dika, aku akan mencoba melupakannya, terimakasih kau selalu mengerti kondisiku"
"Sama-sama Vian, ayo kita cari makanan diluar"
Vian tersenyum dan mengendarai motornya menuju restoran terdekat dari Markas
"Setiap kejadian, Pasti ada hikmah dibaliknya"
__ADS_1
Bersambung.....