Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 6. Prajurit Baru


__ADS_3

"Kenapa semalam kau menolak memakan makanan Hana?" Tanya Bu Mira


"Aku tidak berselera memakan makanannya ibu" jawab Dafa datar


"Lalu apakah pantas mengabaikannya seperti itu, ketahuilah dia membuat masakan itu penuh semangat agar calon suaminya juga memakannya"


"Cukup ibu, aku tidak menyukai gadis itu"


"Tapi nak, dia gadis yang baik untukmu. lagipula Hana sangat mencintaimu"


"Tapi aku tidak mencintainya ibu. semua ini kulakukan demi ibu, jika bukan karena ibu, aku akan katakan pada pak burhan kemarin jika aku menolak perjodohan ini"geram Dafa berlalu meninggalkan ibunya yang mematung di tempat


Dafa melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju Batalyon bertemu anggota yang baru saja bergabung


"Siapa ya anggota yang baru bergabung disini"


"Entahlah, apa dia prajurit yang berpangkat tinggi juga?"


Tak berselang lama, terlihat 2 prajurit baru berjalan mendekati sekelompok perwira yang duduk di depan kantor komandan


"Assalamu'alaikum"Ucap Vian sopan


"Walaikumsalam, apa kau prajurit yang dipindah tugaskan kesini?" Tanya Rama sopan


"Benar sekali, perkenalkan nama saya Viandro Aditya Putra, biasa dipanggil Vian, dan ini teman saya Dika. Seemoga kita dapat berteman dan bertugas bersama dengan baik yah"


Para anggota maju dan mulai bersalaman dengan Vian. Terdengar suara tawa dan candaan dari para anggota karena Vian adalah prajurit yang ramah sehingga dia mudah sekali mendapatkan teman


"Kuharap kau tidak melupakanku Vian" Terdengar suara Bariton yang berjalan mendekati Vian


"Ahh Dafa" Vian tersenyum dan berjalan memeluk Dafa


Vian dan Dafa bersahabat saat mereka sama-sama belajar di Akademi Militer. Namun setelah lulus dari Akademi Militer mereka berpisah karena bertugas di tempat yang berbeda selama 4 tahun.


"Bagaimana kabarmu sobat" tanya Dafa


"Haha aku baik-baik saja. Bagaimana kabar paman dan bibi"


"alhamdulillah, mereka baik-baik saja"


Mereka melanjutkan percakapan dan bercanda mengeluarkan rasa rindu yang selama ini terpendam


"Drt.... Drt.... " Ponsel Dafa bergetar. Dafa tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya

__ADS_1


"Halo sayang, ada apa hmm?"


"Sayang kita jalan yuk sore ini, sebelum kau pergi bertugas, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu" Ucap Asti


"Baiklah sayang, apapun untuk dirimu. Sudah dulu ya sayang"


"Iyah tentaraku, bye"


"Bye" telepon dimatikan


"Wah mesranya,pake sayang-sayang segala, siapa tuh" Goda Vian


"Hahah biasa calon istri" Dafa tersenyum mengingat Asti


Tak berselang lama ponsel Dafa kembali berdering


"Assalamu'alaikum ibu, ada apa?"


"Walaikumsalam, sore ini kau ajak Hana jalan-jalan sebagai permintaan maafmu"


"Tapi Bu sore ini..... "


"Nggak ada tapi-tapi. Turuti permintaan ibu sebelum kau jadi anak durhaka"


"Hmm baiklah Bu"


"Ada apa lagi bro"


"Ini vian, ibu memintaku ke rumah karena ada yang harus diurus sore ini, tapi sore ini aku akan menemani kekasihku sebelum kita bertugas"


"Lebih baik kau turuti permintaan ibumu saja, karena ibu jauh lebih berhak padamu dibanding kekasihmu"


"Baiklah Vian, aku pamit ya, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, semoga sukses"


Dafa bergegas dan melanjutkan motornya membela jalanan kota


"Maafkan aku Asti, ibuku lebih utama dibandingkan denganmu, tapi hanya kaulah pemenangnya hatiku, bukan yang lain"


*********


Hana tersenyum dan berlari ke kamar untuk bersiap-siap setelah mendapat telepon dari Bu Mira jika sore ini Dafa akan mengajaknya jalan-jalan

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ibu" Ucap Dafa menyalami tangan Bu Tiya


"Walaikumsalam nak"


"Ibu apa Hana ada di rumah"


"Ada nak, sebentar ibu panggilkan ya"


"Baiklah Bu"


Bu Tiya tersenyum dan masuk kedalam memanggil anaknya


"Hana, dicariin Nak Dafa nih"


"Iyah bu sebentar"


"Wah anak ibu cantiknya, mau kemana nak?"


"Mau jalan-jalan sama kak Dafa bu"


"Yaudah sana, nak Dafa sudah menunggumu dibawah"


Hana tersenyum dan mulai mengikuti ibunya ke depan rumah


"Bu, Dafa pinjam dulu Hana nya ya"


"Iyah nak, jangan pulang kemalaman ya"


"Baik bu"


"Kalau begitu kami pamit ya bu, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam nak"


Hana naik ke jok belakang dan Dafa mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang


"Terimakasih ya kak udah sempatin waktu kakak sama Hana"


Dafa diam saja dan tak menghiraukan ucapan Hana


"Kita mau kemana kak"


"Bisa diam nggak sih" Bentak Dafa yang langsung membungkam Hana

__ADS_1


"Kenapa, mau nangis lagi? Terus lapor sama ibu kalau aku kasar padamu, dasar cengeng" Kata-kata tajam menusuk kembali diterima Hana


"Apakah aku mundur saja dari perjodohan ini, tapi aku sudah berjanji untuk memenuhi permintaan terakhir ayah, kuatkan hatiku Ya Allah" Batin Hana melihat ke atas agar air matanya tak tumpah


__ADS_2