
Hana yang khawatir mendengar tangisan Viara segera berlari menuju kamarnya
"Ada apa sayang? Kok anak bunda yang cantik ini nangis sih" ucap Hana menghapus air mata Viara yang terus saja menangis
"Bunda, ayah minana?" Tanya Viara dengan bahasa bayinya
"Ohh Viara rindu ayah ya?" Viara mengangguk sambil memeluk Hana
"Ayah di kantor sayang, pagi ini ayah sedang berolahraga bersama teman-temannya disana" mendengar ucapan ibunya, Viara kembali mengangis dan memukul-mukul bantal
"Pasti Viara merindukan abang" batin Hana tersenyum dan kembali memeluk putri kecilnya
"Ayo kita temui ayah di kantor" bujuk Hana berhasil membuat Viara tersenyum
"Tapi sebelum bertemu ayah, Viara ganti baju dan cuci muka dulu. Udah ya, anak bunda nggak boleh nangis lagi, nanti ayah sedih loh melihat putri kesayangannya menangis" ucap Hana sambil menghapus air mata Viara dan membawanya menuju kamar mandi
Setelah memakaikan pakaian pada Viara, Hana segera keluar dan berjalan menuju lapangan Batalyon sambil menggendong Viara. Para ibu-ibu yang melihat Viara merasa gemas dan ingin sekali mencubit pipi tembem anak itu, tapi setiap kali mereka menyentuh Viara, maka Viara akan menangis sehingga para ibu-ibu mulai panik dan ketakutan karena tangisan Viara yang tak kunjung reda
Di lapangan Batalyon, para prajurit tengah bersenam pagi bersama. Para prajurit dengan nikmat bergerak dan mengeluarkan suara keasyikan mereka
Viara yang melihat ayahnya tengah menjadi instruktur senam merasa senang sambil menunjukkan tangannya kearah Vian
"Ayah nininitu" ucap Viara tertawa melihat ayahnya yang keasyikan bergoyang sambil memainkan pinggulnya
"Hahahaha Ayah lucu yah" Hana tertawa terbahak-bahak sambil mengelus perutnya
"Goyang bang" seru Raka diikuti para prajurit lainnya.
Istri-istri prajurit yang ikut mengamati goyangan suami mereka terus tertawa, bahkan tawa Mia yang terdengar paling keras di antara mereka
"Hahha ampun, pipi bunda udah sakit nih" ucap Hana mengontrol nafasnya.
Setelah senam para prajurit selesai, semua orang bertepuk tangan dan mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Viara yang kegirangan mulai menepuk-nepuk bahu Hana agar segera mendekati Vian yang tengah meneguk sebotol air
"Viara mau digendong ayah ya" tanya Hana sambil berjalan kearah Vian. Viara membalas pertanyaan ibunya dengan tertawa dan menunjukkan mulutnya
"Tapi sayang, ayah masih keringatan loh" ucap Hana setelah berdiri di depan Vian. Viara kembali memberontak dan menangis histeris
"Hahahha, anak ayah yang cantik, jangan nangis dong, sini ayah gendongan" ucap Vian mengambil alih Viara dari gendongan Hana. Viara kembali menjatuhkan air matanya meskipun telah berada di gendongan ayahnya
"Loh kok cantiknya ayah nangis lagi sih, ada apa sayang?" Viara tidak menunjukkan reaksi dari pertanyaan ayahnya, dia justru terus menjatuhkan air mata dan memeluk leher Vian
"Ayah... "
"Iyah sayang, ayah disini. Ada apa hmm?" tanya Vian lembut
"Ayah, viannnya ma jaiyan hiks.. hiks" Ucap Viara menangis sesenggukan
"Ohh putri ayah mau jalan-jalan yah?" Tanya Vian membuat Viara mengeluarkan tawa gemasnya
"Apa abang nggak sibuk di kantor?" Tanya Hana memahami permintaan putrinya
"Hari ini nggak terlalu sibuk di kantor sayang, lagipula abang juga pengen jalan-jalan bersama Viara hari ini" ucap Vian mencium kening dan kedua pipi Viara sehingga Viara merasa geli dengan sentuhan kumis tipis ayahnya
"Baiklah bang, abang jagain Viara yah, soalnya hari ini adek harus menghadiri rapat pengurus bersama pimpinan lainnya"
"Iyah sayang, abang pergi dulu yah, assalamu'alaikum" ucap Vian mengecup punggung tangan Hana
"Walaikumsalam bang" balas Hana sambil melambaikan tangannya pada Viara
"Wah Hana, aku ikut bahagia melihat keluarga kecil kalian" ucap Mia yang berdiri disamping Hana
"Iyah Mia, aku bersyukur Allah masih mempertemukanku dengan ayahnya Viara. Aku senang sekali akhirnya putriku bisa bertemu ayahnya yang setiap malam hanya dilihatnya di foto yang selalu digenggamnya"
"Iyah Hana, aku terharu melihat tawa anak itu. Apa kau sudah memberitahu orang tua Vian di kampung jika Vian sudah kembali?"
"Iyah Mia, aku sudah memberitahu mereka beberapa hari yang lalu, mereka sangat bahagia mendengar jika putra mereka masih hidup. Mereka ingin sekali mengunjungi kami disini, tapi mereka masih harus mengurus ladang mereka yang sebenar lagi akan panen"
"Nanti kapan-kapan kita berkunjung di desa yah, aku akan mengajak bang Dika bersamaku. Jujur aku juga sangat merindukan suasana desa disana"
"Siap komandan"
"Hahhaa. Ayo kita pergi sebelum rapat pengurus dimulai" Hana mengangguk dan mulai berjalan disamping Mia.
************
__ADS_1
"Wah, ternyata besok hari ulang tahun persit. Ini akan menjadi pengalaman pertama untuk kita" Seru Mia
"Iyah sih, tapi sayangnya kita bukan satu tim" ucap sisil pelan
"Nggak apa-apa kali sil, dengan begitu kita bisa menguji kemampuan kita masing-masing"
"Tapi sepertinya aku akan kalah saing dari kalian. Lomba yang akan kita ikuti kan lomba memasak, sedangkan masakanku tidak seenak buatan kalian"
"Jangan putus asa sil, makanan buatanmu juga enak kok. Kan rasa di lidah orang berbeda-beda" jelas Mia
"Hmm baiklah, sepertinya aku harus belajar memasak lagi sebentar. Kalau begitu aku pamit yah"
"Iyah sil silahkan" ketiganya kemudian terpisah dan menuju rumah masing-masing
Hana yang akan memasuki rumahnya terhenti karena mendengar sapaan seseorang
"Assalamu'alaikum Hana"
"Walaikumsalam eh Laila, silahkan masuk" balas Hana mempersilahkan Laila masuk
"Ada apa Laila? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Hana lembut
"Aku datang menemuimu sebenarnya aku ingin belajar memasak bersamamu. Paman adalah koki yang sangat hebat dan berbakat, pasti paman mewariskan keahliannya padamu kan. Jadi aku ingin belajar memasak bersamamu. Aku sudah membeli semua bahan-bahan yang diperlukan. Bolehkah Hana?" ucap Laila menunjukkan kantung belanjaannya
"Tentu saja boleh" tutur Hana. Mendengar ucapan Hana, Laila beranjak dan segera memeluk Hana
"Terimakasih Hana, kalau begitu aku keluar sebentar yah, sepertinya bahan-bahan yang kubawa masih kurang"
"Sama-sama Laila, kalau bahan yang kau bawa masih kurang, aku punya beberapa bahan yang bisa kita gunakan. Jadi kau tenang saja ya"
"Terimakasih Hana, ayo aku sudah tidak sabar untuk belajar bersamamu" seru Laila antusias
"Hahaha ayo" ajak Hana menuju dapur diikuti Laila
Sepanjang mengajari Laila memasak, Hana sangat mudah menjelaskan tata cara memasak dan memasukan bumbu pada Laila yang sangat cepat mengerti. Meskipun Laila sedikit kesulitan, Hana dengan sigap membantu Laila hingga Laila merasa nyaman dengan Hana. Bahkan suara tawa mereka menggema di penjuru dapur karena canda tawa mereka bersama dan salah satu masakan mereka yang hampir gosong
"Hahha untuk ayam bakarnya nggak gosong"
"Iyah Laila, ayo kita hidangkan semuanya di meja"
"Ayo" Laila mengangguk dan mulai membantu Hana menghidangkan makanan mereka yang telah jadi di meja makan
"Sepertinya suamiku sudah pulang, aku tinggal sebentar ya Laila"
"Iyah silahkan Hana" Hana mengangguk dan segera menuju ke depan pintu
"Ya ampun, kenapa wajah anak bunda kotor begini sih" ucap Hana mengambil alih Viara dari gendongan Vian
"Wajah ayah juga kotor nih, kalian darimana aja" Tanya Hana membersihkan dagu Vian
"Heheh habis makan es krim bunda" cengir Vian yang mendapat tawa dari Viara
"Adek ini, kok malah ngetawain ayah sih, kan adek yang suapin ayah eskrim sampai belepotan gini. Awas kamu ya" ucap Vian sambil mengeritiki perut Viara
"Terimakasih ya bang, pasti abang capek karena seharian ini menjaga anak bandel ini"
"Hahahha, meskipun anak kita bandel, tapi abang sangat menyayanginya sayang"
"Yaudah sekarang abang makan dulu yah, pasti abang udah laper kan"
"Iyah bundaku sayang" ucap Vian lembut. Vian menghentikan langkahnya saat mendengar sapaan Dafa dari depan pintu
"Assalamu'alaikum" sapa Dafa
"Walaikumsalam bro, ada apa?"
"Tadi ibuku bilang jika Laila ada dirumah kalian karena dia akan belajar bersamamu Hana. Apakah Laila ada didalam?"
"Iyah Kak, Laila ada di dalam. Kakak masuk dulu yuk, kita makan siang bareng" ajak Hana
"Iyah bro, jangan sungkan"
"Baiklah, terimakasih sodara" jawab Dafa dan segera mengikuti langkah Vian menuju ke dapur.
Laila yang melihat Dafa masuk ke dapur jadi salah tingkat dan mulai tersenyum malu-malu. Laila segera mengalihkan pandangannya sebelum ketahuan karena wajahnya yang telah merah merona
"Silahkan duduk yang manis bapak-bapak" ucap Hana mempersilahkan kedua pria di sampingnya untuk duduk di kursi yang telah disediakan
__ADS_1
"Sini biar adek bantu" ucap Laila mulai menyendokkan makanan di piring Dafa. Hana juga melakukan hal yang sama dengan menyendokkan makanan ke piring Vian dan duduk di sampingnya
"Terimakasih yah dek" ucap Dafa tersenyum pada Laila
"Sama-sama bang" balas Laila yang akan berlalu namun dicegah oleh Dafa
"Mau kemana dek?"
"Mau nyuci piring bekas masakan tadi"
"Soal nyuci piring sebentar dulu dek, sini makanlah dulu" ucap Dafa menepuk kursi disampingnya
"Iyah Laila, nanti kita bersihkan piring sebentar, sekarang kita makan dulu yuk" ucap Hana dan diangguki Laila sambil tersenyum.
Laila tersenyum malu-malu dan beranjak duduk disamping Dafa
Hana yang tengah menyuapi Viara tersenyum mendapati Laila berkali-kali mencuri pandang kearah Dafa. Laila juga menjadi salah tingkat saat Dafa melirik kerarahnya yang juga sedang menatap Dafa.
Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Laila kembali menyantap makanannya dengan cepat hingga belepotan terkena dagunya.
Dafa yang melihat itu tersenyum dan mulai mengusap bekas makanan yang menempel di dagu Laila
"Makanannya memang enak dek, tapi jangan sampai belepotan begini dong" mendengar ucapan dan perlakuan Dafa, pipi Laila kembali merona merah. Hana bertatapan dengan Vian dan sama-sama tersenyum melihat kedekatan dua orang didepan mereka
"Wah sayang, makanan ini sangatlah enak" ucap Vian setelah menghabiskan makanannya
"Iyah Han,apa kau yang memasak makanan selezat ini?"
"Yang memasak masakan senikmat ini adalah Laila. Aku hanya membantu seperlunya saja" balas Hana sambil melirik kearah Laila yang kembali salah tingkat.
Vian dan Dafa kembali melanjutkan obrolan mereka di depan, sedangkan Hana beranjak mendekati Laila yang tengah mencuci piring
"Laila, maaf jika aku bertanya secara tiba-tiba. Apa kau memiliki perasaan kepada kak Dafa?" Tanya Hana membuat Laila berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap Hana dengan wajah yang merona merah
"Mengapa kau bertanya seperti itu Hana?"
"Aku melihatmu berkali-kali mencuri pandang pada kak Dafa saat kita makan bersama tadi, dan kau juga menjadi salah tingkah saat berada di dekat Kak Dafa. Apa kau menyukainya laila?" Laila mengangguk sambil tersenyum malu-malu tanda mengiyakan ucapan Hana
"Sudah ku duga" seru Hana dan langsung memeluk sepupunya itu
"Aku menyukai bang Dafa han, sangat mencintainya. Kenyamanan yang selalu dia berikan untukku membuatku luluh dan mulai mencintainya. Tapi aku takut, aku bukanlah wanita cantik dan aku memiliki banyak sekali kekurangan. Bahkan penampilanku sangatlah sederhana, mana mungkin ada seorang pria yang akan tertarik dengan wanita seperiku"
"Jangan berpikir seperti itu Laila, kau adalah wanita yang baik dan juga cantik. Jangan memandang rendah dirimu seperti itu. Kau tahu, kak Dafa adalah orang yang sangat baik, aku bahkan pernah mencintainya dulu. Jika kak Dafa juga mencintaimu, dia tidak akan memandangmu dari fisikmu. Karena fisik bisa berubah, tapi tidak dengan kebaikan hati. Tidak perlu diubah, semua orang sempurna dimata orang yang mencintai kita sepenuh hati. Jadi semangatlah dan perjuangkan cintamu" ucap Hana berusaha menyakinkan Laila. Laila yang mendengarkan penuturan Hana tersenyum dan langsung memeluk Hana
"Terimakasih Hana, kau memang sepupu yang paling terbaik. Aku akan menjadikan saranmu sebagai motivasi dan pegangan agar aku memperjuangkan cintaku. Sekali lagi terimakasih Hana"
"Sama-sama Laila, aku sangat senang jika kau bahagia. Jika kau membutuhkan teman curhat, maka temuilah aku, aku akan selalu ada dan mendengarkan keluh kesahmu" ucap Hana membalas pelukan Laila. Hana dan Laila kembali melakukan aktivitas mereka dibarengi canda dan tawa diantara keduanya.
Dafa yang sejak tadi mendengar dan mengamati pembicaraan Hana dan Laila mengembangkan senyumnya dan beranjak duduk disamping Vian yang tengah mendudukkan Viara di pangkuannya
Setelah selesai melakukan aktivitasnya di rumah Hana, Laila segera meminta izin untuk pamit karena hari yang akan mendekati malam
"Terimakasih Ya Hana, kami pamit dulu"
" Iyah Hati-hati dijalan yah"
"Assalamu'alaikum" ucap Laila dan Dafa serentak
"Walaikumsalam" balas Hana melambaikan tangannya pada Laila yang telah menjauh bersama Dafa
"Viara udah tidur, lebih baik abang mandi sekarang yah. Adek mau keluar sebentar'"
"Mau kemana sayang, apa perlu abang anterin?" ucap Vian merangkul pinggang Hana
"Adek ke rumah bu Danyon sebentar. Kata bu Danyon, ada barang yang adek lupakan disana. Abang jagain Viara yah"
"Iyah sayang, pasti kok" Hana mengecup kedua pipi Vian dan mulai berjalan menuju ke rumah Bu Danyon.
Setelah kembali dari rumah bu danyon, Hana yang baru membuka pintu kamarnya tersenyum mendapati kedua orang yang sangat disayanginya telah tertidur pulas dan memasuki alam mimpi
Hana mengecup putri kecilnya dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Vian
Hana mengamati cukup lama wajah teduh Vian sambil meneteskan airmata
"Kupikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Aku tidak sanggup jika harus terpisah denganmu, sangat berat jika ku lewati hidup ini tanpa adanya dirimu di sampingku. Jangan pernah pergi dan tingalkan aku cukup lama seperti kemarin" gumam Hana mengelus pipi suaminya.
Karena lelah yang menyerang tubuhnya, Hana perlahan-lahan menutup mata sambil mendekap Vian erat. Vian yang belum sepenuhnya tertidur segera membuka mata dan terharu mendengar curhatan hati istrinya tadi
__ADS_1
"Abang janji nggak akan ninggalin adek lagi. Terimakasih adek masih setia mencintai abang sampai sekarang. Meskipun jarak sering memisahkan kita, tapi kesetiaan kita akan tetap hidup selamanya. Aku akan berusaha untuk tetap pulang disetiap penugasan. Akan ku lindungi wanitaku karena aku mencintaimu selalu meski nyawa dipelatuk senapan"
Bersambung.....