
Setelah jenazah dipulangkan ke rumah duka, para tetangga mulai berdatangan, begitu juga dengan Vian dan Dika yang mendengar kabar jika ibunya Hana telah berpulang 2 jam yang lalu.
Setelah vian memasuki rumah Hana, terlihat jika Hana terduduk di samping jenazah ibunya dengan tatapan kosong kedepan. Vian beranjak mendekati Hana dan mengelus lembut punggung Hana
"Adek" panggil Vian. Hana yang mendengar ucapan Vian kembali menjatuhkan air matanya dan menatap Vian dengan tatapan sendu
"Kakak, semua orang pergi meninggalkanku. Apa aku tidak pantas berkumpul dan hidup bersama mereka?" lirih Hana
"Kasihan Hana, belum lama ayahnya meninggal sekarang ibunya pergi menyusulnya" ucap tetangga prihatin
"Iyah benar bu, sekarang Hana tinggal seorang diri" ucap Bu RT menatap sendu pada Hana
Mia yang mendengar ucapan para tetangga semakin mengencangkan pelukannya pada Hana
"kita ikhlaskan kepergian ibumu ya, ingatlah Han, kau tidak sendirian. ada kami disampingmu" Ucap Mia mengelus punggung Hana
Sementara Bu Mira yang kesal menarik paksa tangan Dafa dan mendorongnya keluar rumahnya
__ADS_1
"Pergi kau dari sini. Mulai sekarang kau bukanlah anakku"
"Tapi ibu, apa maksdunya ibu sebenarnya"
"DIAM kamu, bukankah ini yang kau mau, merusak kehidupan Hana.Mengapa kau tak bisa melihat ketulusan dimatanya, mengapa kau tidak bisa mengerti perasaannya, mengapa Dafa hiks.. hiks.. Karena ucapanmu tadi B Tiya meninggal karena serangan jantung hiks...hiks.."
"Jangan menangis ibu" Ucap Dafa memeluk ibunya namun Bu Mira kembali mendorongnya
"Mengapa kau menolak Hana demi wanita itu, wanita yang tak bisa melakukan hal apapun bahkan memasak. Mengapa Dafa hiks.. hiks.. Tahukah kau alasan ayah dan ibu menjodohkanmu dengan Hana" Tanya Bu Mira menarik kerah seragam Dafa, sementara Dafa hanya tertunduk dan menggeleng pelan
Dafa berlutut di kaki ibunya setelah mendengar penjelasan yang sebenarnya dari perjodohan mereka
"Maafkan aku ibu... Maafkan aku. Aku tidak memahami alasan dibalik perjodohan ini. Maafkan aku ibu" Lirih Dafa menangis di kaki ibunya. Bu Mira mengangkat bahu putranya agar berdiri tegak di hadapannya
"Sudah terlambat nak" Lirih Bu Mira berlari kearah kamarnya. Sementara Dafa melajukan motornya menuju tempat pemakanman umum. Saat tiba di TPU, para warga mulai meninggalkan TPU meninggalkan Hana, Vian, dan beberapa temannya.
Dafa berjalan mendekati Hana dan duduk di sampingnya
__ADS_1
"Maafkan aku Hana" Ucap Dafa mengenggam tangan Hana. Vian yang melihat perlakuan Vian ingin sekali menendang Dafa agar tak menyentuh tangan Hana
"Jangan menyentuhnya, atau kupatakan tanganmu" Umpat Vian dalam hati
Hana melepaskan tangannya dari genggaman Vian
"Maafkan aku kakak, tapi aku tidak bisa. Aku bisa saja memaafkanmu, tapi luka ini akan selalu membekas dihatiku" Lirih Hana menatap Dafa
"Kumohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya"
"Tidak kak, semuanya sudah terlambat. Sekarang pergilah dan hidupin keluarga mu yang baru, biarlah aku berjalan dengan kakiku sendiri" Ucap Hana tersenyum kecut meninggalkan Makam ibunya. Dafa yang akan mengejar Hana terhenti karena Vian menahan tangannya
"Kau dengar kan ucapannya? Setidaknya jangan sakiti hatinya jika kau tak mampu membahagiakannya" Ucap Vian menekan setiap kalimatnya. Vian dan teman-temannya pergi meninggalkan Dafa yang mematung ditempat
"Banyak orang kehilangan karena terlambat memahami,tapi banyak juga yang menyesal karena terlambat menyadari"
Bersambung....
__ADS_1