Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 57. Adek Sayang Abang


__ADS_3

Keesokan harinya Hana terduduk di depan teras menunggu kepulangan suaminya


"Abang kemana yah, sejak tiba disini abang nggak kunjung pulang. Ini udah mau magrib" guman Hana melirik jam tangannya


Sementara dibalik pohon yang tidak jauh dari rumah dinasnya, Vian tersenyum penuh kemenangan melihat istrinya masih setia menunggu kepulangannya di depan rumah


"Kau lihat kan, istrimu masih mencintaimu. Mungkin dia marah saat didepanmu, tapi cintanya akan dia tunjukkan dibelakang mu" ucap Dika ikut mengamati Hana dari balik pohon


"Kau benar Dika, aku tidak sabar ingin menemui istriku" ucap Vian beranjak keluar dari tempat persembunyiannya namun dicegah oleh Dika


"Eits, tunggu dulu. Rencana belum dimulai kau sudah main keluar aja"


"Tapi aku tidak sabar menemui istriku yang menungguku pulang"


"Tunggulah sebentar lagi, agar rencana kita sempurna"


"Hmm baiklah" ucap Vian pasrah


"Sebelum menjalankan rencana kita yang masih agak lama, kita nongkrong di warung kopi dulu yuk" ajak Dika yang diangguki Vian


Sementara Hana masih setia menunggu kepulangan suaminya di depan pintu


"Apa aku marah berlebihan ya, abang jadi nggak betah di rumah karena sifat dinginku" guman Hana berselidik


"Lebih baik jika aku menyiapkan makanan malam kesukaan abang, pasti abang suka deh" gumam Hana antusias dan mulai menggerakkan kursi rodanya menuju ke dapur


******


"Udah jam 8 malam nih, waktunya menjalankan rencana" ucap Dika


"Rencana apa bang?" tanya Raka penasaran


"Rencana untuk mendapatkan hati istri kembali" balas Vian yang mendapat gelak tawa dari teman-temannya


"Masalah dengan istrimu belum kelar uga ya"


"Yah mau gimana lagi. Jika istri marah, maka suaminya akan kalang kabut"


"Ternyata prajurit berpangkat Letnan Satu seperti abang takut sama istri yah"


"Yah, beginilah rasanya jika telah memiliki istri. Kalian kapan?" ucap Vian membuat teman-temannya terdiam


"Benar yang diucapkan bang Vian, kalian kapan nikahnya?" goda Raka

__ADS_1


"Benar juga, kita kapan yah"


"Calon aja belum ada" ucap lesu Gama


"Tapi do'ain teman-teman kalian yang membujang ini biar cepat berkeluarga sepertimu ya bang"


"Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga cepat ketemu jodoh ya"


"Aamiin, terimakasih bang"


"Sama-sama, kalau begitu aku pamit pulang ya, assalamu'alaikum semua" pamit Vian


"Walaikumsalam" ucap para prajurit serentak.


Setelah pergi meninggalkan warung kopi, Vian langsung menjalankan rencananya. Vian mengambil kesempatan untuk masuk ke kamar saat mendapati Hana tengah memasak di dapur. Vian menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan masih mengenakan seragam loreng dan sepatunya.


Sementara Hana kembali menunggu kepulangan suaminya di depan pintu


"Aduh, abang dimana sih, ini udah jam 8.30 malam" gumam Hana cemas


"Apa terjadi sesuatu sama abang ya? Lebih baik aku pergi ke warung kopi tempat biasa abang nongkrong. Semoga abang ada disana" gumam Hana menggerakkan kursi rodanya menuju ke kamar untuk bersiap-siap.


Saat Hana membuka pintu, Hana bernafas lega saat melihat orang yang ditunggunya telah memasuki alam mimpi sambil tengkurap.


"Pasti Abang capek setelah seharian bertugas" ucap Hana berjalan mendekat dan mulai membuka sepatu yang masih melekat dikaki Vian, sementara Vian tersenyum penuh kemenangan karena rencananya berhasil.


"Sentuhan yang ku rindukan setiap saat" batin Vian yang belum sepenuhnya tidur.


Hana mengecup kening Vian dan ikut merebahkan tubuhnya di sampingnya


"Adek sayang abang" ucap Hana memeluk tubuh Vian dan perlahan-lahan menutup mata.


Merasa istrinya telah tertidur lelap, Vian membuka mata dan tersenyum melihat tangan Hana yang melingkar dipinggang nya


"Abang juga sayang padamu dek" ucap Vian lembut dan membawa Hana kedalam dekapan hangatnya


************


Keesokan paginya, Vian terbangun dan tak mendapati keberadaan istrinya di sampingnya


"Adek, adek dimana?" panggil Vian menyusuri setiap ruangan rumah. Saat vian mencari Hana di dapur, Vian mendapati secarik kertas diatas meja


"Adek ngunjungin restoran pagi ini bang. Maaf adek nggak ngasih tau abang karena abang tidur tadi, adek jadi nggak tega banguninnya" tulis Hana. Vian yang membaca surat yang ditulis Hana tersenyum dan langsung menyantap makanan yang telah disediakan Hana diatas meja

__ADS_1


"Semoga istriku tidak marah lagi padaku" gumam Vian menatap surat diatas meja. Setelah menyantap habis sarapannya, Vian menggeledah seisi dapur dan menyadari semua bahan dan bumbu dapur telah habis. Vian berencana akan membeli semua perlengkapan dapur untuk menyenangkan istrinya


"Semoga dia menyukai tindakanku ini" ucap Vian dan mulai melajukan motornya menuju ke pasar


*********


"Syukurlah keperluan restoran sudah aman, lebih baik aku kepasar sekarang untuk membeli keperluan dapur" gumam Hana dan mulai memerintah supir taksi untuk menuju ke pasar


Marwa yang sedang berbelanja di pasar bersama Asti mengembangkan senyumnya melihat Vian tengah memilih sembako di salah satu toko. Marwa beralih menatap Asti disampingnya yang juga tengah sibuk menawar harga pada seorang penjual


"Syukurlah dia tidak melihat bang Vian disini. Aku takut wanita ini akan menyakiti bang Vian seperti yang dilakukannya dulu. Aku jadi heran dengan wanita ini, bang Vian begitu baik, tapi wanita ini bercerita bahwa dia pernah berusaha mencelakainya" batin Marwa bertanya-tanya


"Marwa, kok bengong?" tanya Asti sambil memasukan belanjaannya


"Ahh nggak kok, aku hanya kelupaan sesuatu. Boleh temani aku membelinya nggak?" ujar Marwa berusaha mengalihkan pandangan Asti dari Vian


"Yaudah ayo" ucap Asti dan mulai mengikuti langkah marwa.


Hana yang baru saja turun dari taksi berencana untuk mengunjungi rumah tetangganya dari desa yang juga tinggal di kota ini


"Sudah lama aku tidak bertemu bi Idah, lebih baik aku mengunjunginya dulu sebelum membeli keperluan rumah" gumam Hana dan mulai menggerakkan kursi rodanya di jalanan menuju rumah bi idah yang cukup sepi.


Asti yang juga akan melewati jalan itu tersenyum licik saat melihat Hana dan mulai merencanakan sesuatu untuk mencelakai Hana


"Marwa, lihatlah itu, disana ada target yang siap dilenyapkan" seru Asti antusis. Marwa mengikuti arah pandang Asti dan tertegun mendapati jika Hana tengah menggerakkan kursi rodanya di pinggir jalan seorang diri


"Ya ampun, bagaimana ini? Pasti wanita ini akan melancarkan rencana liciknya pada Hana" batin Marwa cemas.


Asti yang melihat sekelompok pemuda berandalan tengah nongkrong dibelakang toko tersenyum dan mendekati mereka


"Hei kalian, bisakah kalian membantuku"


"Ohh ada nona cantik ya, apa yang bisa kami lakukan untukmu nona" ucap salah satu berandalan


"Kalian lihat wanita di kursi roda itu, tolong celakai dia"


"Lalu apa yang akan kau berikan jika kami mengikuti perintahmu?"


"Jika kalian berhasil, akan ku bayar kalian dengan uang tunai yang cukup banyak" ucap Asti sambil mengeluarkan 20 lembar uang merah dari tasnya. Para berandalan yang tergoda dengan uang itu setuju dengan permintaan Asti dan mereka mulai berjalan mengikuti Hana


"Hei, apa yang kau lakukan. Hana bisa terluka karena mu" ucap Marwa cemas


"Itulah tujuan kita merencanakan sesuatu untuk membalas wanita itu, bukankah kau ingin memiliki Vian seutuhnya, maka rencana ini sudahlah tepat. Kau tenang saja, aku tidak akan tertangkap basah karena telah melukai Hana. Lagipula bukan aku yang menyakitinya tapi orang-orang suruhanku" ucap Asti tersenyum smirk

__ADS_1


"Ya Allah, lindungilah Hana dari orang-orang jahat ini. Aku tidaklah berdaya untuk menolongnya"


Bersambung....


__ADS_2