Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 50. Mengapa Sifat Abang berubah?


__ADS_3

Setelah selesai shalat subuh bersama, Hana dan vian kembali pulang ke Asrama. Setibanya di rumah hijau, Vian yang belum sepenuhnya pulih segera masuk kekamar dan membaringkan tubuhnya. Hana yang melihat suaminya terlelap kembali memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya, tak lupa Hana mencium kening Vian dengan lembut.


Setelah itu Hana beranjak kedapur dan kembali bergelayut dengan wajan untuk menyiapkan sarapan pagi mereka


"Alhamdulillah selesai juga" Ucap Hana meletakkan semua masakannya diatas meja


"Sayang" Hana mengangkat kepalanya dan tertegun melihat suaminya yang berdiri di depan pintu dapur dan telah memakai seragam lorengnya


"Loh, abang kan masih sakit. Kok udah mau dinas aja"


"Iyah sayang, abang udah mendingan kok" Ucap Vian tersenyum mencoba meyakinkan Hana


"Yaudah abang duduk dan sarapan dulu ya sebelum bekerja"


"Iyah sayang" Vian mendaratkan bokongnya di kursi dan langsung melahap makanan yang selalu nikmat saat menyentuh lidahnya


Hana tersenyum melihat suaminya telah menghabiskan makanan di piringnya, setelah itu Hana menyerahkan segelas susu jahe hangat untuk diminum Vian


"Abang minum dulu susu jahe nya ya, biar badannya sehat dan cepat sembuh"


"Istriku menang perhatian" Ucap Vian mengelus kepala Hana dan langsung meneguk susu jahe pemberian Hana sampai tandas tak bersisah


"Alhamdulillah, terimakasih ya dek"


"Sama-sama sayangku"


"Hahaha, abang pamit ya dek, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam abang" Jawab Hana menyalami tangan Vian. Setelah Vian pergi, Hana kembali ke rumah lamanya untuk mencari pelaku yang berusaha mencelakai suaminya


"Siapa ya wanita itu, apa dia punya dendam padaku atau bang Vian yah" Batin Hana melihat kain ditangannya.


Hana mengambil pakaian kotor Vian dan beranjak pulang ke rumah dinasnya. Saat berjalan menuju jalan yang sedikit ramai, Hana mendengar suara panggillan orang yang dicintainya dulu


"Hana" Hana melirik kesamping dan mendapati Dafa memberhentikan motornya tepat di sampingnya


"Ehh kak Dafa, habis darimana kak?"


"Dari rumah ibu han. Kau juga darimana Han?"


"Aku juga baru pulang dari rumah ibu. Ngomong-ngomong dimana Asti kak?"


"Jangan sebut nama itu han,kakak sangat membencinya"


"Apa yang terjadi kak?" tanya Hana. Dafa mengontrol nafasnya dan mulai menceritakan yang sebenarnya tanpa ada yang ditutup tutupi. Hana menutup mulutnya tak percaya dengan kenyataan yang dikatakan Dafa barusan

__ADS_1


"Bagaimana ibu kak, apa ibu baik-baik saja?"


"Alhamdulillah ibu baik-baik saja. Untung saat itu aku segera datang sebelum terjadi sesuatu yang buruk pada ibu" jawab Dafa menghela nafasnya


"Jadi kakak akan mengajukan cerai di kantor?"


"Benar Han, kakak sudah tidak bisa mempertahankan pernikahan yang sudah tidak sehat ini"


"Baiklah jika itu keputusan kakak" Ucap Hana tersenyum menguatkan Dafa


"Terimakasih Han, kau akan ke rumah Bu Danyon bukan?"


"Iyah benar kak"


"Yaudah sekalian sama kakak aja, kan kita satu jalan" ajak Dafa. Hana berpikir jika menunggu ojek online, maka waktu yang dibutuhkan cukup lama. Hana mengangguk dan mulai menaiki jok belakang Dafa


"Sudah Han?"


"Sudah kak" Dafa tersenyum dan kembali melajukan motornya ke markas bersama Hana.


Setibanya mereka di depan Batalyon, Vian yang baru akan latihan menembak merasa geram dengan dua orang didepan sana. Vian cemburu saat Hana memegang kertas dan menjelaskan apa yang tertera di kertas itu pada dafa. Emosi Vian makin meningkat saat melihat Hana yang membalas senyuman manis Dafa


Vian langsung mengambil posisi dan menembak kearah target dengan tatapan penuh amarah


"Dia kenapa?" Tanya Gama heran


"Sepertinya begitu bang"


Hana kemudian terpisah dan ikut mengamati para prajurit yang latihan menembak dari kejauhan. Hana tersenyum bangga melihat Vian yang selalu berhasil menembak tepat mengenai sasaran. Hana bertepuk tangan saat melihat Vian telah meletakkan senapannya kembali.


"Wah bang, sepertinya kau punya penggemar tanpa dibayar"


"Maksdunya apa bang?" Tanya Vian bingung. Vian mengikuti arah yang ditunjukkan Gama dan benar saja dari jarak yang sedikit jauh, Hana tengah tersenyum manis padanya. Vian berjalan untuk meninggalkan lapangan tembak menuju motornya yang terparkir di parkiran markas. Hana tersenyum dan segera berlari memeluk Suaminya


"Wah suamiku memang hebat" ucap Hana sambil memeluk Vian. Vian hanya diam tak membalas pelukan Hana


"Bang,dipanggil komandan untuk segera ke ruangannya" panggil Tama


"Siap laksanakan" Vian melepaskan pelukan Hana dan berjalan menuju kantor komandan tanpa berkata sepatah katapun pada istrinya. Hana hanya tersenyum kecut melihat punggung suaminya yang kian menjauh


"Ada apa bang? Kenapa abang tiba-tiba berubah seperti ini" batin Hana menahan air matanya. Hana segera menemui Bu Danyon yang menunggunya di rumahnya


Setelah pertemuan dengan Bu Danyon dan beberapa ibu-ibu lainnya, Hana ikut mendengar perbincangan antara sisil dan Bu danyon


"Bu Hana dan Bu sisil, tentunya kalian tahu tugas seorang istri prajurit bukan"

__ADS_1


"Ijin Bu, kami mengetahuinya" Ucap Hana dan sisil serentak


"Besok suami kalian akan ditugaskan untuk membangun desa yang jauh dari perkotaan. Kemungkinan hanya sebulan mereka bertugas disana" mendengar ucapan Bu Danyon, Hana dan sisil menghembuskan nafas kasar


"Baiklah Bu, kami pamit pulang dulu ya Bu, kami harus membantu mempersiapkan keberangkatan suami kami besok" ucap Sisil


"Baiklah silahkan" Hana dan sisil berjalan gontai menuju rumah mereka. Setibanya di rumah, Hana tak mendapati Vian disana, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.50 sore.


"Sebelum abang pulang, lebih baik aku menyiapkan makanan malam dan menyiapkan keperluannya besok" Gumam Hana memasuki kamarnya dan mulai mengemasi keperluan suaminya di tas ransel dan juga kopernya. Setelah mengemas semuanya, Hana bergelayut dengan pisau dan wajan untuk menyiapkan makanan malam.


***********


"Abang kemana ya, kok belum pulang. Udah jam segini" batin Hana mondar-mandir di depan pintu sambil melihat jam yang tertera pukul 8 malam. 30 menit kemudian, terlihat Vian yang telah datang dan memarkir motornya di depan rumah


"Assalamu'alaikum abang" Ucap Hana menyalami tangan suaminya


"Walaikumsalam" ujar Vian dingin dan langsung menuju kearah dapur untuk mengambil minum


"Abang ayo makan dulu yuk, adek udah siapin makan malam untuk abang"


"Nggak, abang sudah makan tadi" ucap Vian berlalu meninggalkan dapur.


"Ada apa bang? Kenapa abang berubah seperti ini?" tanya Hana menahan tangan Vian. Vian tak mejawab Hana, dia justru melepaskan genggaman tangan Hana di lengannya dan berjalan masuk kekamar


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu bang? Jika adek ada salah, katakanlah. Jangan diamin adek seperti ini" gumam Hana melihat keatas agar air matanya tidak tumpah karena suaminya. Hana beranjak membersihkan peralatan dapur dan menutup makanan yang sama sekali belum disentuh oleh suaminya.


Saat membuka pintu kamarnya, Hana tersenyum kecut mendapati Vian telah terlelap sambil membelakangi nya. Hana ikut berbaring disamping suaminya dan memeluk Vian erat


"Mengapa kayu berubah secepat ini. Apa yang telah kulakukan sehingga membuatmu bersikap seperti ini padaku" batin Hana menutup mulutnya agar suara isak tangisnya tak terdengar.


"Aku takut kehilanganmu mas, tolong jangan tinggalkan aku" batin Hana memeluk Punggung Vian dan perlahan menutup mata.


Keesokan paginya, Hana mengerjap ngerjapkan matanya dan melihat jika Vian telah rapi dengan seragamnya sambil menenteng ransel besarnya.


"Mau kemana bang?" Tanya Hana


"Bukannya Bu danyon sudah mengatakannya padamu"ucap Vian dingin. Hana beranjak dan berjalan untuk memeluk suaminya


"Abang adek...... " Ucap Hana terhenti karena Vian yang telah melangkah keluar kamar


"Assalamu'alaikum" ucap Vian terus berjalan tanpa menengok sekalipun kebelakang. Hana terduduk didepan pintu sambil terisak memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh


"Abang, apa salah adek sehingga abang berubah secepat ini. Adek masih pengen habiskan waktu bersama abang, tapi kenapa abang seolah menghindari adek" batin Hana terisak. Hana segera berlari keadalam kamar untuk bersiap-siap untuk menemui Vian sebelum Vian pergi.


Setelah rapi dengan seragamnya, Hana mengunci pintu dan langsung melajukan motornya menuju dermaga.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2