Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 84. Jauhkan Tangan Kalian Dari Istriku


__ADS_3

"Selamanya, kalian akan ada di hatiku" Batin Hana mengingat wajah kedua anggota keluarga kecilnya dan menjatuhkan air matanya


Para preman yang semakin dekat dengan Hana tersenyum smirk melihat wajah ketakutan Hana. Saat ketua berandalan itu akan menyentuh pipi Hana, terdengar bunyi pintu yang ditendang cukup keras dan terlempar mengenai punggung ketua berandalan yang akan menyentuh Hana


Bruukkkk


"Jauhkan tangan kotor kalian dari istriku"


Flashback on


Vian dan teman-temannya harus menghentikan kegiatan para mahasiswa untuk 3 hari kedepan karena berdasarkan informasi dari pusat, daerah tersebut akan mengalami cuaca ekstrem selama beberapa hari kedepan. Meskipun terdapat kekecewaan yang memenuhi hati para mahasiswa, namun tidak dengan pelatih mereka. Pelatih mereka justru bersemangat dan tak sabar untuk pulang ke rumah bertemu keluarga mereka.


Bahkan pada mahasiswa semakin kecewa melihat wajah senang para pelatih mereka yang bertolak belakang dengan raut wajah mereka


Selama perjalanan pulang, Vian tak henti-hentinya tersenyum mengingat sebentar lagi dia akan bertemu dengan keluarga kecilnya


"Tunggu abang sayang, abang akan segera pulang dan bermain bersama kalian lagi" batin Vian menatap wallpaper ponselnya.


Setibanya di rumah, Bu lula yang tengah menunggu kepulangan Hana tersenyum melihat putranya yang masih hidup dan berdiri di depannya


"VIAN..... " Teriak Bu Lula bahagia dan berlari memeluk anak semata wayangnya. Vian menyambut ibunya dengan bahagia dan mengelus lembut punggung wanita yang telah membesarkannya


"Jangan pernah tinggalkan ibu lagi Nak hiks.. hiks.. " lirih Bu lula memeluk Vian erat


"Iyah Bu, Vian janji nggak bakal ninggalin ibu lagi. Vian rindu ibu" tangis Vian pecah memeluk wanita yang sangat berjasa bagi hidupnya. Bagi Vian, ibunya adalah cinta pertamanya. Selama masih melihat senyuman ibunya, Vian yakin dunianya akan baik-baik saja. Vian akan menjadi manja seperti anak kecil saat bersama ibunya. Ayahnya sampai terheran-heran bagaimana putranya yang sangat tegas dan penuh wibawa bisa menjadi seperti anak kecil saat bersama ibunya


"Sudah sayang, yang penting anak ibu selalu sehat dan bahagia dalam kehidupannya. Dalam doa ibu, hanya menginginkanmu bahagia sayang. Ibu selalu berdoa agar kau selalu tersenyum dalam kehidupanmu agar ketika ayah dan ibu pergi menghadap pencipta, kami akan pergi dengan tenang" ucap Bu lula menghapus air mata di pipi putra kebanggannya. Vian mengangguk dan berlutut di kaki ibunya


"Trimakasih ibu, tanpa ibu, putramu ini bukanlah seorang perwira seperti sekarang. Jika bukan karena doa ibu, Vian tidak akan pernah sebahagia ini. Terimakasih ibu"


"Itulah keinginan semua orang tua nak, mereka hanya menginginkan anak mereka bahagia sepanjang hidup mereka. Sekarang kau juga sudah menjadi orang tua, kau juga pasti menginginkan yang terbaik untuk anakmu. maka Didiklah anakmu dengan sebaik mungkin agar hatimu tenang saat rambutmu sudah memutih nanti" ucap Bu lula tersenyum sambil membantu putranya berdiri

__ADS_1


"Dimana Viara bu? Aku sangat merindukannya" seru Vian sambil menghapus air matanya


"Dia didalam sayang, dia sedang tidur". Vian mengenggam tangan ibunya dan berjalan masuk untuk menemui putri kecilnya.


Vian duduk disamping ranjang sambil mengecup kedua pipi putrinya yang tertidur sangat pulas


"Ibu, apa semuanya baik-baik saja? Sepertinya putriku baru selesai menangis. Lalu dimanakah Hana?" Tanya Vian


"Viara memang menangis tadi nak, tapi Viara mulai tenang dan tertidur setelah ibu memberinya susu. Ibu juga sejak tadi menunggu kepulangan Hana nak, tapi Hana belum kembali sejak tadi pagi"


"Sejak pagi? Hana kemana bu?" Tanya Vian cemas


"Tadi pagi Hana pamit untuk pergi ke pasar membeli keperluan dapur. Tapi Hana tak kunjung kembali nak,Ibu sudah menghubunginya berkali-kali namun tak kunjung dijawab nak"


Tok... Tok.. Tok..


"Assalamu'alaikum" terdengar salam seseorang dari depan pintu. Vian dan bu lula keluar untuk menyambut tamu mereka


"Walaikumsalam"


"Ohh Iyah, kau perwira polisi yang pernah menangkap para berandalan yang menyerangku dulu. Hana pernah menceritakannya padaku dulu" ucap Vian membalas uluran tangan Mika


"Iyah benar pak, ngomong-ngomong apa Hana nya ada?" Tanya Mika tersenyum


"Hana sejak tadi belum pulang nak, terkahir kali dia meminta izin untuk pergi kepasar pagi tadi. Tapi ini sudah menjelang sore namun Hana tak kunjung pulang" ucap Bu lula cemas


"Apa ibu sudah menghubungi Hana?" Tanya Mika lagi


"Iyah Mika, Ibuku sudah menghubunginya, tapi tak kunjung ada jawaban dari istriku"


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres" gumam Mika mengeluarkan laptopnya dan mulai melacak lokasi Hana. Bu lula segera berlari masuk saat mendengar tangisan Viara, sedangkan Vian terlihat serius mengamati kegiatan Mika yang tengah melacak lokasi Hana saat ini

__ADS_1


"Ketemu" seru Mika antusias


"Pak, lokasi Hana sangat jauh. Lokasinya berada di hutan pinggiran kota yang berjarak 4 kilometer dari sini"


"Tapi tidak mungkin Hana berada disana. Lokasinya sangat berbeda jauh dari pasar yang Hana datangi. Apa jangan-jangan istriku diculik?" ucap Vian khawatir


"Kemungkinan seperti itu pak. Sebelum kita bergerak kesana, untuk memastikan sekali lagi, bisakah bapak menghubungi Hana, aku akan melacak nya lewat komputer ku"


Vian mengangguk dan mulai menghubungi Hana. Dari radar, Vian dan Mika mengamati jika lokasi Hana saat ini memang ada disitu


"Tidak ada jawaban dari Hana"


"Segera bergerak pak, aku akan menghubungi anggotaku agar segera kesana" perintah Mika dan mulai menghubungi pasukannya. Vian masuk ke kamar untuk pamit kepada bu lula yang tengah menenangkan Viara yang terus menangis


"Bu, Vian pamit dulu yah, Vian akan pergi mencari Hana. Ibu jagain Viara yah" ucap Vian sambil menyalami tangan Bu lula


"Iyah Nak, Berhati-hatilah dan bawa istrimu kembali"


Vian mengelus pipi putrinya dan mengecup kening Viara


"Tunggu ayah pulang yah nak, ayah janji akan membawa bunda kembali" ucap Vian memeluk putrinya dan meletakkannya di gendongan Bu Lula.


Vian menghapus air matanya dan segera berlari kedepan rumah dimana mobil polisi sudah siap mengantar mereka menuju lokasi Hana.


Setibanya di hutan, polisi segera meringkus para berandalan yang berjaga di depan gudang dimana Hana disekap. Beberapa dari berandalan membawa senjata api sehingga polisi mengalami sedikit kendala untuk menangkap mereka.


Polisi telah memberikan tembakan peringatan namun masih tidak diindahkan oleh para berandalan. Sehingga para polisi terpaksa melumpuhkan para berandalan dengan timah panas dan menyerang berandalan lainnya yang menodongkan senjata api


"Pak Vian, cepat masuk kedalam dan selamatkan istrimu, aku dan anggotaku yang akan mengurus para berandalan ini" perintah Mika sambil menembak para berandalan yang melawan. Vian mengangguk dan segera berlari masuk kedalam gudang


Flashback Off

__ADS_1


"Jauhkan tangan kotor kalian dari istriku"


Bersambung.....


__ADS_2