
Para prajurit terus mengikuti kapal Pandu sampai kapal yang mereka ikuti berhenti di sebuah dermaga di desa yang bersebelahan dengan kota
Pandu yang baru saja turun dari kapal sambil memegangi kepalanya langsung disambut oleh seorang wanita yang berjalan mendekatinya
"Abang, abang kenapa?" tanya wanita itu
"Kepala abang sakit dek" ucap pandu sambil memijat kepalanya
"Ayo bang, nanti adek obatin sakitnya setelah tiba di rumah" pandu mengangguk dan mulai mengikuti langkah gadis itu yang memapahnya
"Siapa wanita itu?"
"Apakah itu istrinya?"
"Jika itu istrinya, jadi pandu bukanlah lettu vian, hanya wajah mereka saja yang mirip"
"Teman-teman, kita harus tetap menyelidiki siapa pandu sebenarnya"
"Benar bang, mungkin pandu adalah Lettu Vian, hanya saja dia mengalami lupa ingatan dan terdampar di desa ini" ucap Dafa menjelaskan
"Baiklah, kalian siapkan Camp disini, aku dan bang Dika akan menyelidiki kemana pandu pergi"
"Siap laksanakan"
Dafa dan Dika segera berlari mengkuti Pandu hingga mereka berhenti saat melihat Pandu yang berjalan masuk di dalam sebuah rumah sederhana
"Sebaiknya kita tunggu beberapa saat sebelum bertanya pada wanita yang bersama Pandu tadi"
"Baiklah bang" jawab Dika setuju. Setelah menunggu sekitar 20 menit, Dika dan Dafa segera mendatangi rumah yang dimasuki Pandu tadi
Tok.. Tok.. Tok...
"Assalamu'alaikum"
Wanita tadi yang mendengar bunyi ketukan pintu di depan rumahnya, segera keluar untuk menyambut tamunya
__ADS_1
"Walaikumsalam" balas wanita itu tertegun saat melihat salah satu tentara yang berdiri di depan pintunya
"Laila?" ucap Dafa melihat gadis didepannya
"Ehh abang, kita pernah bertemu sebelumnya bukan. Saat itu aku membantu mendonorkan darahku untuk adek abang"
"Iyah laila, ternyata kau masih mengingatnya"
"Iyah bang. Ngomong-ngomong apa yang membuat kalian datang kesini?" tanya Laila setelah mempersilahkan kedua tamunya masuk
"Kami ingin bertemu dengan pandu, apa dia ada di rumah?" tanya Dika
"Iyah benar bang, abang pandu sedang istirahat dikamar"
"Dimanakah kau menemukan pandu laila?" tanya Dika penasaran
"Apa maksud abang, adek tidak mengerti sama sekali"
Dafa menatap Dika dan menghela nafas sebelum menceritakan kecurigaannya kepada Laila
Laila menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Dafa
"Jadi begini bang, saat aku pergi ke pantai untuk membeli ikan, aku melihat bang pandu terbaring di pinggiran pantai saat aku mendekatinya, ternyata dia masih bernafas. Setelah itu aku merawatnya sampai sekarang"
"Jadi benar Pandu adalah Vian" ucap Dika bahagia
"Jika bang pandu adalah orang yang kalian maksud, apakah bang pandu sudah memiliki istri?" tanya Laila
"Iyah Laila, bahkan pandu sudah memiliki anak sekarang. Istrinya adalah wanita yang pernah kau tolong dengan mendonorkan darahmu padanya" jawab Dafa terus terang
"Kasihan sekali istrinya, pasti dia sangat merindukan suaminya. Aku sudah berusaha untuk mengembalikan ingatan bang pandu, tapi usahaku selalu gagal bang"
"Tenang saja Laila, kami akan membantu mengembalikan ingatan Vian. Vian adalah salah satu prajurit terkuat di angkatan kami. Kami sebagai temannya sudah sepantasnya untuk terus membantu teman kami"
"Baiklah kak" balas Laila tersenyum.
__ADS_1
*********
Sudah berhari-hari Para prajurit berusaha mengembalikan ingatan Pandu,namun hasilnya tetap nihil. Setiap menceritakan tentang masa-masa yang mereka lewati bersama dulu, semakin menambah rasa sakit kepala Pandu. Bahkan beberapa kali Pandu tak sadarkan diri karena menahan rasa sakit yang hebat dikepalanya setelah mendengar ucapan para prajurit itu.
"Bagaimana ini bang, usaha kita untuk mengembalikan ingatan Pandu selalu gagal. Bagaimana jika pandu mengalami lupa ingatan untuk selamanya"
"Benar bang, aku sudah kehabisan cara untuk membantu mengembalikan ingatan Pandu" ucap iwan pasrah
"Kita tidak boleh seperti ini teman-teman. Kita harus berusaha untuk mengembalikan ingatan Pandu kembali. Sudah sepantasnya bang pandu berbahagia bersama istri dan anaknya. Oleh karena itu, kita harus berusaha lebih giat lagi untuk mengembalikan ingatannya" jelas Dika
"Siap bang" jawab para prajurit serentak
"Ayo kita ke rumah pandu lagi" ucap Dafa diangguki oleh para anggotanya
Setelah tiba di rumah pandu, pandu yang membuka pintu rumah langsung menatap tajam kepada para prajurit yang berdiri di depan rumahnya
"Mau apa lagi kalian kesini?" Tegas Pandu
"Pandu, dengarkan kami... "
"Cukup, sudah kubilang aku bukanlah orang yang kalian cari. Namaku bukan Vian, tapi pandu. Aku hanyalah seorang nelayan, bukan seorang tentara berpangkat Letnan satu. Jadi pergilah, kepalaku sakit mendengar ucapan kalian" kesal Pandu
"Abang, dengarkan mereka dulu. Mereka berniat baik kok" ucap Laila mengelus punggung Vian
"Tidak dek, mereka selalu membuat kepala abang sakit karena cerita dan ucapan-ucapan mereka. Lebih baik abang pergi sebelum kepala abang kembali sakit" ucap Pandu dan berjalan menjauhi rumahnya
"Apa kau tidak ingin dengan seorang wanita bernama Hana" ucap Dika langsung membuat Pandu memberhentikan langkahnya. Pandu menjatuhkan air matanya mendengar nama yang menenangkan hatinya. Nama yang selalu tertulis rapi dihati namun seolah pudar didalam ingatan.
"Maafkan aku, aku tidak mengetahui nama yang kalian sebutkan" balas pandu dan kembali melanjutkan langkahnya
"Bagaimana ini bang, sepertinya bang pandu udah menolak untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya" ucap Laila pelan
"Kita jangan patah semangat dek, suatu saat nanti pandu pasti akan mendapatkan ingatannya kembali. Kurasa waktu itu sudah semakin dekat" ucap Dafa langsung menenangkan Laila
"Aku tahu kau adalah temanku Vian, semoga ingatanmu cepat kembali seperti dulu. Aku merindukan canda tawa dan kebersamaan kita" batin Dika mengamati punggung Pandu yang semakin menjauh
__ADS_1
Bersambung.....