
"Hana, ibu pengen buat roti tapi bahannya habis di dapur, jadi boleh beliin ibu bahan-bahannya di pasar nggak"
"Tentu saja ibu, Hana siap lakukan perintah ibu" Ucap hana menirukan gaya hormat
"Haha kamu ini nak, kayak tentara aja"
"Kan Hana calon istrinya tentara, lagipula Hana dari dulu kagum sama tentara"
"Haha Iyah nak, semoga anak ibu ini bisa mendampingi seorang prajurit suatu saat nanti ya"
"Aamiin, terimakasih do'anya ibu, kalau begitu Hana pamit kepasar ya bu'
" Iyah nak, Hati-hati ya dijalan"
"Assalamu'alaikum ibuku"
"Walaikumsalam sayang"
Hana tersenyum dan berjalan kaki menuju ke pasar. Hana sengaja berjalan kaki karena waktu masih pagi dan tubuh pasti akan sehat jika berjalan dibawah sinar matahari pagi
Setelah membeli semua kebutuhan ibunya,Hana berjalan pulang dan berhenti menunggu lampu merah
Saat lampu berwarna merah, Hana melanjutkan langkahnya, namun Hana yang tidak menyadari jika dari arah yang sama terdapat mobil yang tak melihat lampu merah
"Vian lihat kedepan" Teriak Dika
Vian melihat kedepannya dan mengrem mobil yang dikendarai nya karena hampir saja menabrak Hana yang tengah menyebrang jalan
"Duh Vian, kepalaku sakit terbentuk nih"
__ADS_1
"Maafkan aku Dika, aku turun dulu ya, sepertinya aku hampir menabrak seseorang"
Vian segera turun dan menemui Hana yang telah terduduk dengan semua belanjaannya yang telah berhamburan di jalan
"Maafkan aku nona, kamu tidak apa-apa" Ucap Vian menyodorkan tangannya membantu Hana berdiri. Hana meraih tangan kekar itu dan perlahan berdiri
"Sekali lagi maafkan saya nona"
"Tidak apa-apa kak, aku hanya kaget saja sehingga jatuh terduduk" Hana tersenyum dan mulai memunguti barang-barang belanjaannya
"Biar saya bantu nona" Ucap Vian dan ikut memunguti barang-barang milik Hana
"Terimakasih kak, saya pamit dulu ya"
"Apa perlu saya antar nona?" Tanya Vian
"Tidak perlu kak, rumah saya sudah dekat kok. Saya pamit ya kak Assalamu'alaikum"
Hana tersenyum dan mulai melanjutkan langkahnya untuk pulang
"Gadis yang manis" Gumam Vian menatap punggung Hana yang kian menjauh
Saat memasuki mobilnya
"Hei Dika, apa wajahkh kurang tampan ya"
"Maksudmu apa Vian, wajahmu sangat tampan dan memikat"
"Lalu kenapa wanita tadi tak tertegun saat melihatku"
__ADS_1
"Mungkin karena kau yang sering bersifat dingin dan mirip bapak-bapak Ha.. Ha... Ha...."Tawa renyah Dika menjahili sahabatnya
"Awas kau Dika"
Viandro Aditya Putra atau sering disapa Vian adalah seorang tentara berpangkat Letnan Satu yang tegas dan berwibawa, namun dia hanya akan melunak jika melakukan suatu kesalahan tanpa disengaja. Saat ini Vian tengah mengendarai mobilnya menuju ke rumah dinas tempatnya tinggal saat dipindah tugaskan di kota B
"Hei Vian, apa kau akan melamar Asti setelah kita dipindah tugaskan di sini"
"Iya Dika, aku akan melamarnya. Tapi aku bingung Dika"
"Bingung kenapa vian?"
"Dulu aku sangat mencintai Asti sebelum menjadi tentara, namun orang tua Asti tak menyetujui hubungan kami karena aku hanyalah anak seorang petani. saat saat itu aku bukanlah tentara seperti sekarang. Aku takut keluarganya kembali menolak hubungan kami. kau ingat bukan semua tetangga didesa selalu saja menghinaku karena aku hanya orang miskin yang bercita-cita menjadi tentara"
"Soal itu kau tak perlu khawatir lagi, kan kamu sudah memiliki restoran di kampung dan beberapa hektar sawah"
"Tapi.... "
"Jika kamu yakin Asti adalah wanita yang baik untukmu, teruslah berusaha untuk dapatkan dia, jika kau mengalami kesulitan maka temuilah aku, aku akan membantumu"
"Trimakasih ya dik, kau selalu saja mengerti kondisiku"
"Kau kan sahabatku, sudah sepantasnya kita saling mendukung"
Setelah melapor ke kantor dan pulang di rumah dinas, Vian langsung membereskan rumah dan mengeluarkan baju-bajunya dari koper untuk diletakkan di lemari
"Haduh capeknya... " Ucap Vian merebahkan tubuhnya di ranjang
"Kalau punya istri nih nggak mungkin capek begini"
__ADS_1
Karena lelah yang menyerangnya, Vian tertidur lelap di hari yang masih sore
Bersambung...