Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 69. Melahirkan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Bu" ucap Dafa yang berkunjung ke desa Vian


"Walaikumsalam, ehh anak ibu" ucap Bu lula senang dan langsung memeluk sahabat putranya yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri


"Kau sudah besar dan makin tampan nak"


"Hahaha ibu bisa aja"


"Silahkan masuk nak" ajak Bu lula yang langsung menarik tangan Dafa agar masuk ke rumahnya


"Kabar ibu bagaimana?"


"Alhamdulillah ibu sehat-sehat saja nak"


"Bu, ini ada beberapa oleh-oleh titipan ibunya Dafa, mohon diterima yah bu" ucap Dafa menyerahkan paper bag ke tangan bu lula


"Ya ampun nak, terimakasih banyak yah sudah repot-repot membawa oleh-oleh ini, titip salam sama ibumu yah" seru bu lula


"Hehe Iyah siap bu, Ngomong-ngomong Hana dimana bu?" Tanya Dafa yang sejak tadi tak melihat adanya Hana di rumah mertuanya


"Hana sedang istirahat dikamarnya nak"


"Apa Hana masih terpukul dengan kepergian Vian bu?"


"Alhamdulillah Hana sudah jauh lebih baik sekarang, meskipun dia sering menangis diam-diam karena merindukan suaminya"


"Aargghhh ibu.... " lirih Hana menahan sakit di perutnya


"Ibu tolong.... "


Bu lula yang mendengar teriakan minta tolong menantunya segera berlari kekamar Hana. Dafa yang cemas juga mengikuti bu lula masuk ke kamar Hana


"Ada apa sayang?" Tanya Bu lula cemas


"Perut Hana sakit bu, aargghhh" lirih Hana meringis kesakitan


"Sepertinya sudah waktunya untukmu melahirkan sayang" ucap Bu lula membantu Hana untuk duduk

__ADS_1


"Nak,tolong bantu ibu anterin Hana ke rumah sakit, sepertinya Hana akan segera melahirkan" pinta Bu lula yang langsung diangguki Dafa. Dafa segera mengendong Hana dan secepatnya menuju ke puskesmas terdekat


Setibanya di puskesmas, Hana langsung dilarikan ke ruang bersalin. Dafa yang cemas terus mondar-mandir di depan pintu, sedangkan Bu lula menemani Hana yang tengah berjuang melahirkan bayinya.


Dalam ruang bersalin, Hana yang gemetar menahan sakit mengenggam kuat rolling brankar dengan keringat yang terus membenciri keningnya, Bu lula mencoba menenangkan Hana yang ketakutan sambil meringis kesakitan


"Kasian sekali dirimu nak, disaat seperti ini seharusnya kau ditemani suamimu" Batin Bu Lula pilu mendengar teriakan kesakitan menantunya


"Ikuti ucapan saya yah, sekarang bu Tarik Nafas....dan dorong yang kuat" ucap bidan yang membantu proses persalinan Hana.


Hana mengikuti ucapan bu Bidan dan terus berusaha untuk melahirkan buah hatinya


"Bertahanlah sayang, ibu yakin kau pasti bisa" ucap Bu lula mengelus keringat din kening Hana


"Dorong sekali lagi Bu... " Hana mengangguk dan dengan sisah tenaganya, Hana kembali berusaha melahirkan bayinya sambil meringis kesakitan


Setelah dorongan terakhir, terdengar tangisan bayi yang memenuhi penjuru ruangan


"Alhamdulillah, bayi anda telah lahir Bu" ucap Bu Bidan sambil mengendong bayi kecil yang terus saja menangis. Dafa yang mendengar tangisan bayi dari balik pintu kembali bernafas lega


"Bu Hana, selamat ya anaknya perempuan dan sangat sehat" ucap Bidan menyerahkan bayi kecil itu ke gendongan Hana. Hana mengecup lembut kening putri kecilnya dan terus tersenyum melihat wajah putrinya yang sangat mirip dengan Vian


"wah sayang, putrimu sangatlah cantik. Dia persis seperti Vian" ucap Bu lula berbinar bahagia


"Iyah benar, apa kau sudah memikirkan namanya Hana?" tanya Dafa yang ikut mengamati bayi kecil di gendongan Hana


"Alhamdulillah sudah kak, aku telah memikirkan namanya sejak dulu. Aku akan menamai putriku dengan nama Viara Mutya putri. Viara memiliki arti sebagai orang yang setia, tulus mencintai dan memiliki hati yang sangat ramah sama seperti ayahnya" ucap Hana berbinar bahagia melihat putrinya


"Nama yang bagus Hana" ucap Dafa senang dan mengambil Viara dari gendongan Hana untuk diazankan sesuai perintah bu lula tadi. Dafa mulai mengadzankan bayi Hana dan Hana terus tersenyum melihat putrinya


"Sekarang sudah selesai" ucap Dafa meletakkan Viara di gendongan Hana setelah selesai mengadzankannya.


************


Beberapa minggu kemudian, Hana berencana kembali ke kota untuk mengurus restorannya disana


"Ibu, Hana pamit pulang ke kota dulu yah"

__ADS_1


"Iyah sayang, jagalah cucu ibu baik-baik yah, sering-seringlah datang mengunjungi ibu disini. Ibu akan selalu merindukanmu dengan cucu ibu yang cantik ini"


"Iyah bu, hana janji akan sering main ke desa lagi"


"Kalau begitu kami pamit yah bu, assalamu'alaikum" ucap Dafa menyalami tangan Bu lula diikuti Hana


"Walaikumsalam anak-anakku" balas Bu lula sambil melambaikan tangan pada orang yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.


"Sini, biar kakak yang gendongan ponakan kakak ini". Hana tersenyum dan meletakkan putrinya kedalam gendongan Dafa


"Bagaimana kondisi ibu kak?"


"Alhamdulillah ibu baik-baik saja. Ohh ya hana, setelah sampai di kota apa kau akan tinggal di asrama lagi?"


"Tidak kak, aku akan tinggal di rumah ibuku. Aku akan merawat dan membesarkan putriku disana. Jika aku tinggal di asrama, aku akan semakin teringat dengan suamiku yang membuatku kembali lemah. Untuk sekarang aku akan membuka lembaran baru bersama putri kecilku"


"Baiklah Hana, jika kau perlu sesuatu, hubungi kakak segera yah"


"Baiklah kakak" balas Hana tersenyum. Karena lelah yang mulai menyerangnya, Hana tertidur pulas sambil bersandar di bahu Dafa


"Andai Vian disini, pasti dia akan sangat bahagia melihat putri kecilnya"


*********


Setibanya di rumahnya, Hana segera membereskan rumahnya dan meletakkan putri kecilnya di ranjang. Semangat Hana mengembang melihat putri kecilnya yang terus bermain di gendongannya


"Anak bunda senang yah" ucap Hana dan mulai menggelitik putri kecilnya sehingga Viara terus tersenyum memperlihatkan mulutnya yang tak memiliki gigi sedikitpun


Hari semakin larut namun Viara tak kunjung tidur. Hana segera membawa Viara ke jendela dan mulai mengamati indahnya langit malam yang sangat mengagumkan


"Abang, anak kita telah lahir ke dunia, dia sama persis sepertimu. Wajah dan matanya selalu mengingatkanku akan dirimu. Apa yang akan kujawab nanti saat putri kita menanyakan keberadaan ayahnya" batin Hana menjatuhkan air matanya membayangkan putri kecilnya yang akan tumbuh tanpa seorang ayah. Viara yang seolah merasakan kesedihan ibunya kembali menggoyangkan tubuhnya dan bermain-main dalam gendongan Hana


"Hahah, anak bunda masih semangat mainnya yah, tapi ini sudah malam sayang. Sekarang kita bobo yah, karena besok kita akan mengunjungi tante sisil di Asrama" ucap Hana dan mulai menyanyikan lagu tidur untuk putri kecilnya. Setelah Viara tertidur pulas dalam gendongannya, Hana merebahkan tubuhnya di ranjang dan meletakkan Viara di sampingnya


"Aku merindukanmu" gumam Hana dan perlahan menutup mata


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2