
"Lettu Vian, anda tidak apa-apa" tanya Raka cemas
"Aku tidak apa-apa bang, aku hanya memikirkan istriku disana" ucap Vian tersenyum pada teman-temannya
"Ya Allah, ada apa ini. Mengapa jantungku berdetak secepat ini. Apa terjadi sesuatu pada Hana. Semoga semuanya baik-baik saja disana. Lindungilah istriku disana Ya Allah agar dia selalu tersenyum tanpaku disisinya"
**********
Hana segera mendapat pertolongan pertama dalam perjalanan menuju rumah sakit
"Pasien hanya pingsan karena tak kuat menahan sakitnya. Denyut nadinya masih ada meskipun berdenyut sangat lemah, dan pasien kekurangan banyak darah" ucap dokter yang mengobati luka di tubuh Hana. Dafa terus berusaha menenangkan ibunya yang masih terisak disampingnya
"Ibu tenang ya, in syaa Allah semuanya akan baik-baik saja. Ibu tahu kan kalau Hana adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa bertahan melawan semua ini Bu" ucap Dafa mencoba menenangkan Bu Mira
Setelah tiba di rumah sakit, Hana langsung dilarikan ke ruang operasi setelah persetujuan dari Bu Mira.
Mia dan lita yang baru saja tiba di rumah sakit segera berlari ke ruang operasi dan menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. 30 menit kemudian, dokter keluar menemui kekuarga pasien didepan ruang operasi
"Pasien kehilangan banyak darah. Apa kalian punya golongan darah yang sama seperti pasien? Golongan darah pasien adalah AB positif. Bank darah di rumah sakit ini kehabisan golongan darah itu" tutur Dokter
Semua orang yang mendengar penuturan dokter mengeleng pelan
"Saya akan berusaha mencarinya dokter" ucap Dafa
"Baiklah, usahakan darah itu sudah ditemukan sebelum 1 jam kedepannya"
"Baiklah dokter" ucap Dafa dan segera berlari mencari darah untuk Hana
"Kuharap usahaku untuk menebus kesalahan padamu dulu tidak sia-sia Hana"
Sementara Bu Mira dan kedua gadis disampingnya masih menunggu di depan ruang operasi. Lita menenangkan Bu Mira, sedangkan Mia terus saja menghubungi ponsel Vian yang tidak aktif
"Haduuh Vian, kenapa disaat istrimu butuh dukungan dari mu, kau malah tidak aktif" gerutu Mia. Mia mencoba mengubungi Dika untuk menanyakan keberadaan Vian sekarang
Dika dan Vian yang lagi mengobrol bersama didalam barak langsung meraih ponselnya yang bergetar
"Siapa Dik?" tanya Vian
"Ini ada telepon dari Mia" ucap Dika tersenyum dan langsung menjawab panggilan
__ADS_1
"Halo assalamu'alaikum bang" sapa Mia
"Walaikumsalam sayang, ada apa?"
"Apa Vian ada disana?"
"Iyah sayang, ini Vian lagi sama abang"
Mia menghela nafasnya sebelum berkata yang sebenarnya pada Dika. Setelah Dika mendengar ucapan Mia, Dika beralih menatap Vian disampingnya dengan tatapan sendu
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa sesuatu telah terjadi?" tanya Vian cemas
"Kau sabar dan tetap tenang ya Vian" pinta Dika membuat Vian semakin cemas
"Ada apa Dika? Apa yang dikatakan Mia?" tanya Vian menggoyang bahu Dika.
Dika mengontrol nafasnya dan mulai mengatakan yang sebenarnya pada Vian
"Istrimu mengalami kecelakaan Vian" ucap Dika langsung melemaskan tubuh vian.
Vian menjatuhkan air matanya dan lansung merampas ponsel dari tangan Dika
"Halo Mia, apa yang terjadi pada istriku? Bagaimana kondisinya sekarang"
Vian yang mendengar ucapan Mia menjatuhkan ponsel dari tangannya. Vian meneteskan air mata mengingat saat terakhir kali dia melihat istrinya. Karena lelah bekerja dan syok mendengar kabar jika istrinya kecelakaan, Vian langsung terbaring tak sadarkan diri
"Vian, bangunlah, bangun. Kau harus tetap tegar vian" ucap Dika terus mencoba membangunkan Vian yang masih tak sadarkan diri. Dalam pingsannya Vian bermimpi melihat wajah cerah Hana yang melambaikan tangannya padaya. Hana kemudian membalikkan badannya berjalan kedepan dan tak lagi menatap Vian dibelakangnya
"Sayang jangan tinggalin abang, sayang" panggil Vian mengejar Hana namun Hana justru terus berjalan dan tak menengok kebelakang sekalipun
"HANA... " kata pertama yang keluar dari mulut Vian yang baru saja sadarkan diri
"Sabarlah Vian, kuatkan hatimu" ucap Dika memeluk vian mencoba menenangkannya
"Tapi Dika istriku" lirih pelan Vian
"Kau harus tetap kuat, jangan seperti ini Vian. Doakanlah istrimu agar dia selamat dalam berjuang melawan sakitnya. Selama ini Hana selalu mendoakanmu agar kau selamat saat menjalankan tugasmu, sudah saatnya kau yang berdoa demi keselamatan istrimu disana" Vian mengangguk dan bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat.
Dalam shalatnya Vian bersujud cukup lama dengan air mata yang menbasahi pipinya. Vian menengadahkan tangannya dan mulai berdoa kepada sang Pencipta
__ADS_1
"Ya Allah ya Tuhanku, tolong selamatkan istri hamba yang tengah berjuang disana. Jangan pisahkan hamba dari penyemangat hidup hamba. Jangan ambil dia ya Allah, sungguh hamba sangat takut kehilangannya. Jangan ambil dia dari hidup hamba ya Allah" Vian mengaminkan doanya dan kembali bersujud sambil terus mengeluarkan air mata. Dika yang mendengar doa sahabatnya ikut sedih melihat kondisi Vian saat ini
Sementara di rumah sakit kota
"Kak Dafa, apa kakak sudah menemukan darah untuk Hana" tanya Mia yang melihat Dafa baru saja datang. Dafa menatap semua orang dengan tatapan sendu dan menggelengkan kepalanya pelan. Air mata Mia jatuh, tinggal 20 menit lagi.
Bu Mira kembali terisak dipelukan Lita, sedangkan Mia menahan air matanya sambil terus merapalkan doa demi keselamatan sahabatnya.
Dokter pun keluar dari ruang operasi dengan wajah cemas
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan darah untuk pasien? Denyut nadinya semakin melemah" semua orang mengelengkan kepala semakin menambah kecemasan dokter
"Apa golongan darah pasien dokter?" tanya seorang wanita berhijab yang berjalan mendekati ruang operasi Hana
"Golongan darah pasien AB positif nona"
"Kebetulan golongan darah saya AB positif dokter, jadi ambil saja darah saya"
"Baiklah saya akan mengujinya dulu. Silahkan ikuti saya" gadis itu mengangguk dan mulai melakukan serangkaian tes.
Setelah darahnya diambil, dokter langsung kembali ke ruang operasi sebelum waktunya selesai. Dokter itu bernafas lega setelah melihat pasiennya berhasil keluar dari masa-masa kritisnya. Dokter itu tersenyum kemudian berjalan keluar untuk menemui keluarga pasien
"Alhamdulillah pasien telah melewati masa kritisnya. Kalian bisa menemuinya setelah pasien dipindahkan ke ruang rawatnya" mendengar ucapan dokter, semua orang bernafas lega dan tak hentinya mengucapkan rasa syukur dihati mereka.
Semua orang kembali menatap gadis yang telah mendonorkan darahnya untuk Hana
"Terimakasih telah menolong teman saya nona" ucap Dafa tersenyum
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya pamit ya, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab semua orang serentak
"Apa perlu saya antar nona?" tanya Dafa
"Tidak perlu tuan, taksi pesanan saya sudah tiba dibawah" Ucap wanita itu tersenyum dan mulai berjalan
"Tunggu, siapa namamu nona?" Mendengar panggilan Dafa wanita itu berbalik dan tersenyum
"Nama saya Laila tuan" ucap gadis itu dan berjalan keluar rumah sakit. Dafa mengamati punggung gadis itu sambil tersenyum
__ADS_1
"Wanita yang baik, dia tak kalah cantik dari Hana. Semoga aku bertemu denganmu lagi"
Bersambung.....