
Setelah kembali dari restorannya, Hana langsung menemui Bu Danyon dan menceritakan segalanya tentang kelicikan Asti yang meletakkan racun dalam makanan buatannya. Bu Danyon melongo mendengar penuturan Hana dan merasa geram pada Asti
"Jika kalian benar, maka kita harus menangkap basah Bu Asti" geram Bu Danyon
"Tepat sekali Bu, kita harus merencanakan serangan balasan yang sangat rapi untuk Bu Asti, dan kami telah menyusun rencananya" Ucap Hana
"Tapi kami butuh bantuan ibu dan beberapa ibu persit lainnya" pinta Sisil
"Baiklah Bu Danton, saya setuju dengan ucapan kalian. Tapi katakan mengapa wajah anda kelelahan Bu Danton?" tanya Bu danyon yang melihat wajah Hana seperti orang yang sangat kelelahan
"Saya dihadang beberapa preman dijalan tadi Bu, saya menghajar mereka sehingga saya kelelahan seperti ini" Ucap Hana mencoba tersenyum
"Benar Bu Danyon, kami menduga penyerangan yang ditujukan pada kami saat dijalan tadi merupakan salah satu rencana Bu Asti. Ibu tahu kan jika Bu Asti selalu berusaha menjatuhkan kita" Ucap Sisil yakin
"Kau benar Bu Sisil. Kita akan merencanakan sesuatu untuk membalasnya. Katakan apa rencana kalian"
"Bu Danyon cukup mengumpulkan para prajurit yang keracunan agar ikut menyaksikan sedangkan kita pada Bu Asti di ruang interogasi. Sisahnya saya dan Bu Sisil yang mengurusnya"
"Baiklah Bu Danton" Bu Danyon mulai memanggil para prajurit yang keracunan dan istri mereka agar segera ke ruang interogasi kecuali Asti. Sedangkan Hana dan Sisil mulai mengurus rencana mereka. Hana berpura-pura tergeletak bersimbah darah dipinggir jalan, sedangkan Sisil mengambil salah satu ponsel milik ketua preman yang menghadang mereka dan mengambil foto Hana.
"Beres Hana" ucap Sisil senang. Hana segera berdiri dari jalan dan mulai mengirim foto dirinya yang bersimbah darah ke Asti menggunakan ponsel ketua preman yang berhasil mereka tahan.
"Rencana A selesai, menuju ke rencana B" Ucap Hana tersenyum smirk
*******
Asti yang mendapat pesan gambar dari ketua preman suruhannya gembira dan tertawa terbahak-bahak melihat foto Hana yang terbaring bersimbah darah di pinggir jalan
"Bagus sekali, sekarang tinggal satu orang lagi yang akan merasakan pembalasanku Ha.. Ha.. Ha.. "
"Bu Danyon menanggung malu, Hana telah mati bersimbah darah, tinggal Sisil yang akan merasakan pembalasanku. Akan ku urus kucing itu" Batin Asti mulai merencanakan sesuatu pada Sisil. Mendengar ketukan di depan pintu, Asti segera menuju ke depan untuk menemui tamunya
"Bu Sisil, ada apa?" tanya Asti berpura-pura tak tahu melihat Sisil yang terisak di depan pintunya
"Anu bu hiks.. hiks.."
"Ada apa bu Sisil, katakan saja" Ucap Asti khawatir, namun dalam hatinya tersenyum kemenangan
"Bu Hana ditemukan bersimbah darah dipinggir jalan bu hiks.. hiks. hiks. "
"Kenapa bisa begitu bu sisil?" tanya Asti berpura-pura cemas
"Tadi kami dihadang dan para preman memukuli Bu Hana. Ikutlah denganku untuk melihat Bu Hana hiks.. hiks.. " ucap sisil
"Baiklah, ayo" Asti merangkul bahu Sisil dan berjalan bersamanya
"Kena kau" Batin Sisil melirik sekilas kearah Asti yang tersenyum senang
"Rencana B berhasil" batin Hana mengamati akting Sisil dari balik pohon
**********
"Ada apa ini? Mengapa Bu danyon memerintahkan kita untuk mengamati ruang interogasi dari sini. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Tanya Vian
"Aku juga bingung Vian, apa ada sesuatu yang tidak beres disini" Jawab Dafa
"Hei kalian diam dulu, Bu Danyon memberi kita kode untuk diam" Ucap Dika. Para prajurit mengangguk dan mulai terdiam mengamati ruang interogasi yang gelap didepan mereka.
Tak berselang lama, terdengar langkah kaki orang yang akan memasuki ruang interogasi. Para prajurit ikut mengamati pintu dan menajamkan telinga mereka
"Bu Sisil, kenapa kita ke ruang interogasi? Disini sangatlah gelap"
__ADS_1
"Benar bu, kami yang ketakutan melihat bu Hana segera membawanya kesini"
"Lalu Dimanakah Bu Hana?" Tanya Asti mulai tersenyum licik
"Aku disini" Lampu ruang interogasi menyala menampakkan Hana dan Bu danyon yang duduk di kursi sambil menumpu sebelah kakinya di kaki satunya. Di belakang mereka, terdapat ibu-ibu persit yang berjejer dengan beberapa bawahan lainnya. Hana menatap tajam kerarah Asti dengan mata yang seolah mengobarkan api dan rahangnya yang mengeras. Vian dan beberapa anggota melongo melihat rupa hana yang menurut mereka sangat menyeramkan
"Hei Vian, istrimu yang lembut sekarang berubah menjadi elang yang siap memangsa" bisik Gama yang berdiri disamping Vian. Sementara Dafa terus saja mengamati adegan yang berlangsung didepannya
Asti terkejut melihat Hana yang masih bernafas dan menatap tajam kearahnya
"Bu Sisil, apa maksudnya ini" Sisil tak menjawab pertanyaan Asti, dia justru berjalan maju dan berdiri disamping Hana
"Bu Hana, kenapa anda disini. Bukannya anda....."
"Aku belum mati sesuai perkiraanmu Bu Asti" Jawab Hana santai
Para prajurit makin mengamati adegan di depannya dengan terheran-heran apa yang sebenarnya terjadi.
"Istriku mati? Apa maksudnya" bisik Vian pada Dika
"Bang Dafa, kenapa istrimu ada di tengah-tengah mereka? Apa dia melakukan kesalahan" tanya Gama. Dafa tak menjawab pertanyaan nya, dia justru terus mengamati adegan yang ada didepannya
"Kita dengarkan dulu" pinta Dika pada rekan-rekannya
"Kami sangat menyayangkan perbuatanmu Bu Asti, apa sebegitu bencinya kau pada kami sehingga kau tega melakukan hal licik seperti itu kepada kami" Ucap Bu Danyon
"Apa maksdumu Bu Danyon, aku tidak melakukan apa-apa" sangkal Asti
"DIAM" teriakan Hana membuat para perwira tersentak kaget dan tertegun melihat wanita yang lembut kini seperti singa yang kelaparan. Asti mulai ketakutan mendengar teriakan Hana padanya
"Jangan menyangkal lagi Bu Asti. Jangan berpura-pura bodoh atau sok polos dengan semua semua yang telah kau lakukan"
"Apa maksudmu Bu Hana. Apa yang aku lakukan"
"A... aku tidak melakukan hal seperti itu. kau pasti berbohong. Semuanya tolong percayalah padaku,Jangan menuduhku seperti ini Hana" pinta Asti memohon
"Ohh rupanya kau masih belum juga mengakui kelicikanmu ya, Sisil putar rekamannya"
Sisil mengangguk dan mulai memutar rekamannya pada layar lebar yang terpampang di dinding ruang interogasi. Dalam Video terlihat Asti yang mengambil kesempatan dengan memasukan racun di makanan yang akan disajikan dalam acara syukuran kemarin. Semua orang yang menyaksikan Video itu mulai geram dengan perlakuan Asti, apalagi Dafa yang saat ini tengah menahan amarahnya menyaksikan perbuatan tak terpuji istrinya.
Asti melongo tak percaya dengan apa yang terjadi didepannya, keringat dingin membasahi keningnya ketika melihat jika suaminya juga tengah mengamati kejadian di ruang interogasi di balik dinding kaca. Asti segera menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan tajam semua orang
"Sekarang sudah jelas, jika Bu Danyon bukanlah penyebab para perwira keracunan makanan. Semua ini karena dendam Bu Asti yang ingin menjatuhkan dan mempermalukan Bu Danyon" Tegas Bu Danki
"Bukan hanya itu saja kelicikan yang dilakukan Bu Asti" Ucap Bu Danyon
"Apa maksud anda Bu Danyon, saya hanya melakukan hal licik itu pada anda. Janganlah memfitnah saya dengan tuduhan kalian selanjutnya" pinta Asti yang telah berlinang air mata
"Kami tidak memfitnah atau menuduhmu Bu Asti, tapi justru kenyataannya seperti itu. Kau hampir saja membuat Bu Hana meregang nyawa di jalanan" tegas Bu Danyon
"Apa maksdunya ini? Apa yang sebenarnya terjadi. Istriku hampir meregang nyawa di jalanan karena Bu Asti" Ucap Vian yang tak mengerti dengan hal yang sebenarnya terjadi
"Benar Lettu Vian, istrimu hampir meregang nyawa di jalanan saat kembali dari restorannya dan semua itu ulah dari wanita ini" Jawab Bu Danyon menunjuk Asti dengan tatapan penuh amarah
"Kumohon jangan memfitnaku seperti ini Bu Danyon. Aku akui aku salah telah mempermalukanmu, tapi jangan memfitnaku dihadapan semua orang apalagi di depan suamiku" Pinta Asti mengatupkan kedua tangannya
"Apa kalian punya buktinya?" Tanya Dafa dari balik dinding kaca
"Kami punya buktinya Lettu, bawa mereka masuk"
Sersan Denis dan anggotanya menggiring para preman yang telah babak belur untuk masuk ke ruang interogasi
__ADS_1
"Bukti yang akan berbicara" Ucap Bu Danyon mulai berjalan mendekati keempat preman tersebut
"Katakan siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang Bu Hana?"
"Kami tidak akan menjawabnya"
"Saya ulangi katakan siapa yang menyuruh kalian menyerang Bu Hana di jalanan. Apakah orang itu adalah Wanita yang ada disana" Tunjuk Bu Danyon pada Asti
"Kami tidak akan memberitahunya, yang jelas dia bukan wanita itu"
"DIAM" Hana yang tak dapat menguasai amarahnya berjalan mengambil senapan dan menodongkannya tepat di kening ketua preman tersebut. Semua orang kaget dengan tindakan nekat hana
"Tenanglah bu Hana, kita bisa bertanya baik-baik pada mereka" Pinta Bu Danyon
"Tidak Bu, mereka tidak akan menjawab jika tidak ada kekerasan disini"
"Dan kalian, cepat katakan sebelum kutarik pelatuk ini?" ketua preman itu gemetar ketakutan melihat ujung senpanan yang telah menyentuh keningnya. Sementara Vian melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya sekarang
"CEPAT KATAKAN....... " Teriak Hana
"Tidak akan" Ucap Ketua preman menyembunyikan ketakutannya
"Ohh kau tidak mau mengatakannya, baiklah. Sekarang nyawamu ada ditanganku dan senjata yang telah ku pegang pelatuknya" Ucap Hana meniup ujung senapannya dan kembali menodongkannya ke kening ketua preman.
Semua orang takut dan cemas melihat sisi lain dari Hana yang begitu lembut sekarang berubah menjadi elang yang siap menyantap mangsa
"Aku hitung sampai tiga, jika kau tak menjawabnya, maka kalian semua akan mati ditanganku. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya tanganku jika terkena darah manusia" Ancam Hana kembali membuat para preman gemetar ketakutan
"Satu... " Hana menyentuh pelatuk senapan
"Dua" para preman masih tetap diam tak menjawab pertanyaan Hana
"TIGA.... " Semua orang menutup mata dan telinga karena takut melihat kegilaan yang akan dilakukan Hana
"Aku akan mengatakannya" Ucap ketua preman sebelum timah panas menebus otaknya
"Bagus, sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian"
Ketua preman mengangguk dan mulai menunjuk kearah wanita yang berdiri di tengah ruang interogasi. Semua orang mengikuti arah pandang ketua preman dan mendapati jika wanita yang ditunjuk adalah Asti. Asti yang mendapat tatapan mengerikan semua orang kembali gemetar dan ketakutan, sedangkan Vian dan Dafa kini menahan emosinya agar tidak berbuat nekat pada Asti dihadapan banyak orang
"Tapi bukan wanita itu yang menyuruh kami menyerangmu. Dia memang menyuruh kami menyerang seseorang, tapi orang itu bukanlah kau" sangkal salah satu preman yang kembali menaikkan emosi Hana. Sementara Asti merasa ada sedikit harapan untuk lolos dari suasana mencekam saat ini.
"Hahahah Bagus, aku suka aku suka. Apa kau punya buktinya hmm?" Tanya Hana mencengkram kuat dagu preman tersebut
"Kami tidak perlu bukti. Jika kami menyerangmu, maka pasti kau telah mati dan bersimbah darah. Tapi lihatlah dirimu, tak ada luka lecet sedikitpun di tubuhmu. Kami berjumlah 4 orang dengan tubuh yang kekar dan kuat, mana mungkin kau mampu lolos dari kami"
Prok... Prok... Prok. Hana bertepuk tangan mendengar ucapan preman yang terduduk di dekatnya
"Kau pikir aku wanita yang lemah, Cih. Aku bisa saja melenyapkanmu dijalan tadi. Tapi sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menghabisi kalian dengan tanganku" Ucap Hana tersenyum licik membuat preman itu kembali gemetar ketakutan.
"Bukti kalian menyerang Bu Hana ada disini" ucap Sisil membuka suara
"Benar sekali. Jika dalam rekaman itu kalian yang benar, maka aku akan berlutut di kaki kalian.." Ucap Hana terputus karena mendengar perintah suaminya
"Jangan Hana, jangan berkata seperti itu" Ucap Vian khawatir
"Tenanglah suamiku tersayang, istrimu ini tidak akan terluka. Percayalah padaku" Ucap Hana tersenyum manis pada suaminya
"Dan jika dalam rekaman itu kebenarannya mengarah padaku, maka dengan senapan cantikku, aku akan menghabisi kalian. Mengerti" Ucap Hana menyeringai membuat semua preman kembali gemetar ketakutan
"Bu Sisil, silahkan putar rekamannya" Pinta Bu Danyon
__ADS_1
"Baik Bu" Sisi segera maju dan mulai memutar rekamannya
Bersambung.....